fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Silat dan Filsafat

1 min read

Belakangan ini saya suka membaca buku-buku filsafat. Diawali dari berkenalan dengan Stoisisme di buku Filosofi Teras, dilanjutkan dengan membeli buku-buku Stoisisme lainnya. Mulai dari karya Massimo Pigliucci sampai Ryan Holiday.

Petualangan saya membaca buku filsafat dilanjutkan dengan serial Sistematika Filsafatnya Sidi Gazalba dan serial Filsafat Islam-nya HAMKA. Semakin mendalami filsafat, kok rasanya semakin haus ya? Hehe

Filsafat sendiri berasal dari bahasa Yunani philosophia. Philo artinya cinta. Sementara sophia berarti ilmu, pengetahuan atau kebijaksanaan (sama dengan arti kata “aji”). Para filsuf adalah orang-orang yang mencintai pengetahuan. Mereka biasanya bijaksana dalam menilai sebuah peristiwa dan mengambil keputusan.

Jangan bayangkan filsuf itu harus berjenggot panjang kemudian suka berbicara hal-hal yang sulit dipahami. Para filsuf Stoic, misalnya Marcus Aurelius adalah seorang kaisar, penguasa Romawi yang terbiasa berada di medan perang. Jauh dari gambaran seperti yang saya sebut sebelumnya. Meski demikian, orang-orang menggolongkan dia sebagai filsuf yang berpengaruh. Mengapa? Karena ia suka berpikir dan menggali makna di balik setiap kejadian.

Mempelajari ini semua membuat pikiran saya melayang ke guru-guru silat saya. Guru-guru silat saya, terutama silat yang tradisional, rata-rata menyerupai seorang filsuf. Silat dan filsafat sepertinya tidak dapat dipisahkan. Para guru silat menyelipkan hikmah kebijaksanaan dalam setiap gerakan. Setiap jurus tidak hanya memiliki makna aplikasi teknis dalam “perkelahian” namun juga memiliki makna aplikasi filosofis dalam kehidupan secara umum.

Misalnya, di Ulin Makao. Lima jurus pertamanya adalah suliwa, susun, tektok, galeng dan sabet. Masing-masing memiliki aplikasi teknis dan filosofis.

  • Jurus suliwa tujuannya melatih tangan untuk mengantisipasi serangan balik atau tangkisan dari lawan. Makna filosofisnya selalu siapkan plan-B ketika melakukan sesuatu, antisipasi sebuah masalah sebelum masalah terjadi.
  • Jurus susun tujuannya melatih serangan beruntun. Sementara secara filosofis mengajarkan bahwa setelah selesai satu urusan, jangan menunggu, segera kerjakan urusan lainnya.
  • Jurus tektok melatih kemampuan aksi-reaksi. Filosofinya kita perlu sigap dalam menghadapi berbagai permasalah hidup.
  • Jurus galeng yang gerakannya hanya menggunakan satu tangan secara aplikasi teknis melatih kita untuk menghadapi serangan hanya dengan satu tangan. Aplikasi filosofisnya mengajarkan bahwa kalau ada masalah usahakanlah diselesaikan sendiri. Jangan merepotkan atau minta bantuan orang lain jika memang kita mampu menyelesaikannya sendiri.
  • Sementara itu jurus sabet melatih koordinasi dua tangan, satu tangan membantu tangan lainnya yang tertangkap lawan. Apliikasi filosofisnya, jika ada orang membutuhkan bantuan, bantulah.

Tak heran bila orang tua kita jaman dulu menjadikan silat sebagai salah satu sarana pembentukan karakter dan kepribadian. Jangan lupakan solat dan silat, begitu nasihat mereka.

Btw, apa aliran silat yang Anda pelajari? Apa makna filosofis dari salah satu jurus yang paling Anda ingat darinya?

Follow channel bedah buku yang saya selenggarakan setiap kamis di channel Telegram t.me/ajipedia

Credit: Designed using Canva. Image by kissclipart.

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *