fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Seni Menyampaikan Umpan Balik

2 min read

Di artikel yang lalu kita sudah belajar bahwa umpan balik itu penting. Kita perlu memberi umpan balik untuk meningkatkan performa seseorang, menyelaraskan harapan, dan memperbaiki sebuah keadaan. Kata Ken Blanchard, feedback is the breakfast of champion – umpan balik itu sarapan para juara. Setiap juara dan setiap ahli menjadikan umpan balik sebagai menu harian mereka. Dalam konsep deliberate practice (latihan yang terencana) umpan balik itu wajib ada. Tidak ada pertumbuhan dan perbaikan tanpa umpan balik.

Namun, mengapa menerima umpan balik itu tidak mengenakkan? Jawabannya sederhana, karena sebagian besar orang tidak terlatih memberikan umpan balik dengan baik. Kita terbiasa mengkritik, bukan memberi umpan balik. Kita terbiasa menghakimi, bukan memberi umpan balik. Kita terbiasa menasehati, bukan memberi umpan balik. Ya memang, kritik, penghakiman, dan nasehat itu juga merupakan umpan balik. Namun, tanpa mengetahui kapan sebaiknya  dilakukan dan bagaimana melakukannya, umpan balik tersebut tidak akan efektif.

Menurut penulis buku Thanks for The Feedback, ada tiga tipe umpan balik:

Pertama, apresiasi.

Kedua, coaching.

Ketiga, evaluasi.

Kita perlu jelas saat memberikan umpan balik. Apakah tujuannya mengapresiasi, mengcoaching (baca: melatih), atau mengevaluasi. Jangan mencampurkan ketiganya dalam satu waktu.

Apresiasi adalah tentang membangun dan mempertahankan hubungan baik dengan orang lain. Ketika kita berterimakasih kepada seseorang, kita sedang memberikan umpan balik apresiasi. Apresiasi cocok untuk memotivasi, menghargai dan mempertahankan perilaku positif seseorang.

Coaching adalah tentang melatih dan mengembangkan orang lain. Saat kita mengarahkan orang lain tentang apa yang sebaiknya ia lakukan, kita sedang memberikan umpan balik coaching (disclaimer: istilah coaching yang dimaksud di sini adalah melatih secara umum, bukan definisi coaching menurut profesi). Umpan balik jenis ini cocok untuk mengembangkan pengetahuan, menajamkan keahlian dan meningkatkan kemampuan.

Evaluasi adalah tentang menilai perilaku berdasarkan standar. Evaluasi juga bermanfaat untuk menyelaraskan harapan. Ketika kita membandingkan perilaku seseorang dengan apa yang kita harapkan, kita sedang melakukan evaluasi.

Misalnya ke anak. Katakanlah kita ingin anak-anak membereskan tempat tidur setelah bangun tidur. Jika mereka tidak melakukannya, kita perlu cek, mereka sudah punya kemampuannya atau belum? Jika belum, maka umpan balik yang cocok adalah umpan balik jenis coaching. Kita beri tahu, kita latih apa yang perlu mereka lakukan untuk membereskan tempat tidur. Jika sudah dilatih ternyata mereka belum melakukannya juga, gunakan umpan balik evaluasi. Sebaliknya, jika mereka melakukan apa yang kita harapkan, kita bisa gunakan umpan balik apresiasi.

Nah, ketiga umpan balik ini akan efektif bila didahului dengan umpan balik deskriptif di awalnya. Apa yang dimaksud dengan umpan balik deskriptif? Umpan balik deskriptif adalah umpan balik berupa komentar yang netral, obyektif dan mendeskripsikan perilaku secara kongkrit. Bukan umpan balik yang bersifat menilai dan menghakimi. Misa, kita melihat anak kita main game melampaui perjanjian. Seharusnya ia hanya main 30 menit, namun sudah 45 menit dia belum berhenti. Maka bentuk umpan balik deskriptifnya: “Kamu sudah main game selama 45 menit.” – hanya seperti ini, mendeskripsikan fakta sejelas-jelasnya saja. Bukan mengomentari: “kamu dibilangin main 30 menit, kok belum berhenti juga. Maunya gimana sih?” –umpan balik seperti ini tidak obyektif dan deskriptif.

Nah, bila mau dilanjutkan ke umpan balik evaluasi maka formatnya bisa sebagai berikut: “Kamu sudah main game selama 45 menit. Perjanjian kita kan kamu hanya main game selama 30 menit. Jadi, sekarang simpan HP-nya ya. Besok, nggak perlu diingatin lagi, kalau sudah 30 menit, simpan Hpnya, oke?” (Catatan: Nada suara penting dalam memberikan umpan balik karena mencerminkan emosi kita. Kadangkala, kita perlu menyesuaikan nada suara kita agar pesan kita sampai. Tidak perlu menggunakan suara yang keras dan nada yang tinggi untuk memberikan umpan balik evaluasi).

Demikian pula saat memberikan umpan balik apresiasi dan coaching. Akan lebih efektif bila diawali dengan umpan balik deskriptif terlebih dulu. Tanpa umpan balik yang deskriptif di awal, apresiasi akan terkesan kosong dan memuji tanpa dasar – bahkan seperti menjilat. Coaching terkesan menasehati tanpa menganalisis kebutuhan. Evaluasi akan terkesan menghakimi tanpa fakta.

Maka, sebelum memberikan umpan balik, ajukan pertanyaan ke diri sendiri:

  1. Apa tujuan saya memberikan umpan balik?
  2. Apakah ini tujuan yang tepat berdasarkan sudut pandang saya?
  3. Apakah ini tujuan yang tepat berdasarkan sudut pandang orang lain?

Setelah itu, barulah kita beri umpan balik yang tepat pada orang tersebut. Selamat berlatih.

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Seni Menerima Kritik (Baca: Umpan Balik)

Dulu, saya termasuk orang yang sulit menerima kritik. Setiap kali ada kawan yang mengkritik apa yang saya lakukan otomatis saya akan melakukan pembelaan diri....
Darmawan Aji
1 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *