fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Seni Menerima Kritik (Baca: Umpan Balik)

1 min read

Dulu, saya termasuk orang yang sulit menerima kritik. Setiap kali ada kawan yang mengkritik apa yang saya lakukan otomatis saya akan melakukan pembelaan diri. Saya akan menemukan berbagai alasan untuk membenarkan perilaku saya saat itu. Bahkan kadangkala, yang dilakukan kawan saya bukan mengkritik, hanya memberi masukan, namun anehnya sikap saya sama. Bukannya menerima masukan tersebut, saya malah membela diri. Saya ngeyel.

Misalnya, ada kawan saya yang memberikan masukan terkait kartu nama saya. Dia menyarankan jangan cantumkan lebih dari satu peran di kartu nama. Alih-alih menerima masukan tersebut, saya justru membela diri dengan menyebutkan berbagai contoh yang berlawanan dengan masukan kawan saya ini.

Suatu hari saya berpikir, mengapa saya bersikap seperti itu? Bukankah tidak semua kritik itu buruk? Bukankah kritik tidak berarti sebuah serangan yang mengharuskan saya membela diri? Bukankah masukan itu bernilai? Setelah merenung, saya menemukan satu penyebab utama. Penyebab utama saya tidak mau menerima kritik adalah egoisme dan kesombongan. Ego saya tidak ingin disalahkan. Ego merasa lebih tahu. Ego merasa lebih berpengalaman. Saya merasa kritik dan masukan mengancam harga diri saya. Tentu saja ini tidak benar. Akhirnya saya menyadari, saya perlu memperbaiki sikap saya.

Menerima masukan dari orang lain tidak semudah memberikannya. Saat kita memberi masukan kita menganggap orang lain sulit menerima masukan kita. Sebaliknya, saat kita di posisi diberi masukan, kita menganggap orang lain tidak bisa menyampaikan masukan dengan baik.

Kritik dan masukan sebenarnya bermanfaat. Keduanya masuk dalam kategori umpan balik (feedback). Persisnya umpan balik negatif (negative feedback). Dalam sebuah sistem, umpan balik negatif diperlukan untuk mengoreksi proses sehingga apa yang dihasilkan sistem tersebut sesuai. Tanpa umpan balik negatif, sebuah sistem tidak dapat mengoreksi prosesnya. Artinya, umpan balik negatif sebenarnya adalah sesuatu yang sangat berharga. Kita jadi mampu menemukan blind spot kita – apa yang tidak kita lihat namun orang lain melihatnya.

Sayangnya, mendapatkan umpan balik negatif memang tidak menyenangkan. Mengapa? Karena kita jadi mampu melihat kekurangan kita, dan ini seringkali menyakitkan. Berbeda saat kita menerima umpan balik positif (misalnya pujian), kita lebih mudah menerimanya. Hidup dikelilingi oleh orang yang memberi umpan balik positif memang menyenangkan. Namun, jika hanya umpan balik positif yang kita dapatkan bukankah justru lebih berbahaya? Kita hidup dalam gelembung ilusi yang hanya memuji dan melihat sisi positif diri kita. Akibatnya, kita tidak belajar, kita tidak mengembangkan diri. Hidup dengan orang yang jujur dengan diri kita, berani memberikan umpan balik negatif memang kadang tidak mengenakkan, namun itu menumbuhkan dan menguatkan.

Maka, bila kita ingin tumbuh dan mampu mengaktualisasikan potensi kita secara penuh, belajarlah menerima umpan balik dengan baik. Berlapangdadalah. Menerima umpan balik bukan berarti kita menerima mentah-mentah apa yang dikatakan orang lain dan melakukannya. Menerima umpan balik adalah menyimak apa yang dikatakan orang lain tentang diri kita dan mengolahnya menjadi pembelajaran yang bermakna. Saat orang lain mengkritik, memberi masukan atau menasehati kita, simaklah sampai tuntas. Lalu katakan: “terima kasih atas masukannya ya” – tidak semua orang berbaik hati memberikan masukan buat Anda, berterima kasihlah. Setelah itu tanyakan: “apa yang dapat saya lakukan agar saya bisa lebih baik dalam hal ini?” sekali lagi simak apa yang mereka katakan dan kembali ucapkan terima kasih. Umpan balik itu mahal.

Akhir kata, carilah umpan balik yang jujur dari orang-orang di sekitar kita secara teratur, jadikan itu sebagai pembelajaran dan tumbuhlah menjadi pribadi yang semakin baik dari hari ke hari.

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

One Reply to “Seni Menerima Kritik (Baca: Umpan Balik)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *