fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Self-Awareness: Apa dan Mengapa?

2 min read

Mengenal dan menyadari diri mungkin sudah menjadi topik tertua dalam pengajaran di berbagai kebudayaan. Di tanah Jawa misalnya, ada pepatah: mulat sariro, hangroso wani (berani merasa, melihat diri sendiri). Makna dari pepatah ini kurang lebih: sebelum bertindak harus dipikir dengan jernih, tidak sembrono, agar tidak mengecewakan orang lain. Jika merasa mampu maka bertindak, namun jika tidak mampu harus berani mengatakan tidak[1].

Dalam konteks yang lebih modern, mengenal dan menyadari diri dikenal dengan istilah Self-Awareness. Self-Awareness dapat diterjemahkan dengan Kesadaran Diri. Maknanya kurang lebih kemampuan kita menyadari diri kita – pikiran, perasaan, perilaku kita dan dampaknya bagi orang lain.

Kita mungkin telah sering mendengar pentingnya Self-Awareness dalam kehidupan pribadi maupun profesional. Seseorang yang memiliki Self-Awareness dinilai lebih percaya diri dan lebih sukses dalam hubungan maupun pekerjaannya. Penelitian dari Tasha Eurich, PhD mendukung hal ini. Dalam studi ilmiah yang diikuti oleh hampir 5000 partisipan terkait Self-Awareness disimpulkan bahwa seseorang dengan Self-Awareness yang baik terbukti:

  • Lebih percaya diri.
  • Lebih kreatif.
  • Membuat keputusan yang lebih baik.
  • Membangun relasi lebih kuat.
  • Berkomunikasi lebih efektif.
  • Cenderung untuk tidak berbohong, menipu dan mencuri.

Hasilnya mereka menjadi pegawai yang lebih baik dan mendapat promosi lebih sering. Bila mereka adalah seorang leader, maka mereka akan menjadi leader yang lebih efektif dengan tim yang lebih puas dan bisnis yang lebih menguntungkan.

Penelitian Tasha Eurich juga mengungkap bahwa ternyata ada dua tipe Self-Awareness[2].

Tipe Pertama: Internal Self-Awaeness (ISA)

ISA adalah kemampuan kita melihat value, passion, aspirasi dan reaksi kita (pikiran, perasaan, dan perilaku, kekuatan dan kelemahan kita) serta dampaknya pada orang lain. Kemampuan menyadari dunia internal kita. Hasil riset menunjukkan bahwa ISA sangat terasosiasi dengan kepuasan kerja dan hubungan, kendali diri dan sosial serta kebahagiaan. Seseorang dengan ISA yang tinggi jarang mengalami kecemasan, stress, dan depresi.

Tipe Kedua: External Self-Awareness (ESA)

ESA adalah kemampuan memahami bagaimana orang lain melihat kita. Bagaimana orang melihat value, passion, aspirasi dan reaksi kita serta dampaknya bagi mereka. Riset menunjukkan mereka dengan ESA tinggi lebih terampil dalam menunjukkan empati dan melihat perspektif orang lain. Jika mereka adalah seorang leader maka mereka mampu membangun hubungan baik dengan bawahannya dan bawahannya puas dengan kepemimpinannya.

Pertanyaannya apakah seseorang yang memiliki ISA tinggi pasti memiliki ESA yang tinggi dan sebaliknya? Ternyata tidak. Kedua tipe Self-Awareness ini tidak terkait. Seseorang bisa memiliki ISA rendah namun ESAnya tinggi dan sebaliknya.

Dari sinilah Tasha Eurich lalu memetakan empat profil Self-Awareness:

Pertama, Seekers: ISA dan ESA rendah.

Mereka tidak mengenal diri mereka sendiri, dan mereka pun tidak jelas memahami bagaimana orang lain melihat diri mereka. Hasilnya, mereka merasa stuck atau frustasi dengan kinerja dan hubungan mereka.

Kedua, Introspector: ISA tinggi, ESA rendah.

Mereka secara clear memandang diri mereka sendiri namun mereka tidak menantang pandangan orang lain. Akibatnya, mereka tidak menyadari blind spot-nya dan tidak berusaha mencari feedback dari orang lain.

Ketiga, Pleasers: ISA rendah, ESA tinggi.

Mereka fokus pada bagaimana mereka terlihat oleh orang lain. Mereka cenderung mengambil keputusan yang tidak melayani tujuan dan pemenuhan dirinya sendiri. Bisa jadi mereka adalah orang yang menyenangkan bagi orang lain. Terampil mengenali dan memahami kebutuhan orang lain. Namun ia sendiri merasa asing dengan dirinya sendiri. Mereka tidak mengenali kebutuhan dan keinginannya sendiri.

Keempat, Aware: ISA dan ESA tinggi.

Mereka memahami diri mereka sendiri, apa yang ingin mereka capai. Meski demikian mereka tetap mencari dan menghargai opini serta feedback dari orang lain. Mereka adalah pemimpin yang menyadari penuh pentingnya Self-Awareness. Mereka menimbang keputusan secara seimbang antara penilaian peribadi dan penilaian menurut kacamata orang lain.

Nah, sekarang mari lihat diri kita masing-masing. Bila menggunakan pemetaan di atas, masuk dalam profil yang manakah diri kita ini? Lalu, bagaimana agar kita memilki ISA dan ESA yang optimal? Jawabannya ada di dalam diri Anda.

 

 

[1] http://tepaselira.tumblr.com/post/61122331806

[2] https://hbr.org/2018/01/what-self-awareness-really-is-and-how-to-cultivate-it

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *