fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach. Penulis 7 buku laris: Kitab Anti Penundaan, Self-Coaching, Mindful Life, Productivity Hack, Life by Design, Hypnoselling, dan Hypnowriting. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Memaknai Ilmu & Memaknai Makna

1 min read

man holding book

Apa yang dimaksud ilmu? Raghib al-Ishfahani (w. 443/1060) mendefinisikan ilmu sebagai:

ادرك الشيء بحقيقته

“Mempersepsi/memahami (idrak) sesuatu dengan sebenarnya”

Apa yang dimaksud idrak? Saya baru sadar kalau idrak ini sudah diserap menjadi Bahasa Indonesia. Menurut KBBI:

idrak/id·rak/ a dalam keadaan merasakan, mencapai, mengetahui, menginsafi (sesuatu) yang diperoleh melalui pancaindra, akal, dan batin

Sementara dalam ilmu mantiq, idrak didefinisikan sebagai:

وصول النفس الى معنى الشئ

“Sampainya jiwa pada makna atas sesuatu”

Jadi, idrak adalah proses untuk menginderai lalu memahami sesuatu menggunakan panca indera dan akal kita. Nah, dalam ilmu mantiq, idrak itu memiliki beberapa level.

  • Level pertama, yakin (اليقين). Ialah إدراك الشيء ادراكا جازما mengetahui sesuatu dengan pengetahuan yang pasti. 100% pasti benar.
  • Level kedua, dzan (الظن). Ialah ادراك الشيء ادراكا راجح mengetahui sesuatu dengan pengetahuan yang rajih, probabilitas kebenarannya 51-99%, beberapa ahli menggunakan angka 75% untuk menyederhanakan.
  • Level ketiga, syak (الشك). Ialah إدراك الشيء ادراكا متساويا mengetahui sesuatu dengan ragu-ragu. Kepastian akan kebenarannya hanya 50%.
  • Level keempat, wahm (الوهم). Ialah إدراك الشيء ادراكا مرجوحا mengetahui sesuatu dengan tidak pasti sama sekali, kebenarannya hanya 1-49%%, beberapa ahli menggunakan angka 25% untuk menyederhanakan.

Lalu, apa yang dimaksud makna? Perhatikan definisi idrak di atas. Idrak adalah sampainya jiwa pada makna.

Baharuddin Abd. Rahman dalam jurnal berjudul “The Meaning of ‘Meaning’ in Al-Attas” menyimpulkan bahwa “makna” adalah “mendudukkan segala sesuatu dalam porsi dan kedudukannya yang hak dan layak.” Sementara Wan Mohd Nor Wan Daud mendefinisikan makna sebagai “pengenalan tempat yang tepat bagi segala sesuatu dalam sebuah sistem, yang berlangsung ketika hubungan sesuatu dengan yang lainnya dalam sistem itu menjadi jelas dan bisa dipahami.” Kedua definisi ini adalah penafsiran mereka terhadap definisi “makna” menurut Syed Muhammad Naquib Al Attas.

Sederhananya begini, kita akan berhasil memaknai sesuatu ketika kita mampu:

  • Mengenali sesuatu
  • Membedakan antara sesuatu
  • Menempatkan sesuatu sesuai tempatnya

Mari kita bahas satu per satu.

Pertama, mengenali sesuatu.

Misalnya, kita melihat tulisan semacam ini:

∫x√x+2dx

Saat melihat tulisan ini, kita mengenalinya tidak? Bila tidak maka artinya jiwa kita belum sampai pada makna atas tulisan ini. Oya, ngomong-ngomong ini adalah contoh integral parsial yak.

Contoh lain, kita mendengar istilah “internal representation” — lalu kita tidak mengenali, tidak nyambung, merasa asing dengan istilah ini. Maka ini berarti kita belum sampai pada maknanya.

Kedua, membedakan antara sesuatu

Membedakan perbedaan antara satu hal dengan hal lainnya. Misalnya, kita dapat memahami mana bebek dan mana ayam karena jiwa kita sudah memiliki makna atas perbedaan antara bebek dan ayam. Demikian pula misalnya akhlak baik dan akhlak buruk, kita akan memahami keduanya bila kita sudah memiliki makna terkait kedua akhlak tersebut. Bila kita belum dapat membedakannya secara tepat, maka kita belum sampai pada makna atas hal tersebut.

Ketiga, menempatkan sesuatu sesuai tempatnya

Berikutnya, kita dikatakan paham bila kita bisa melihat gambaran besar atas suatu hal dan menempatkan sesuatu pada posisinya yang tepat di gambaran besar tersebut. Misalnya, kita belajar tentang tata surya, makna terkait tata surya ini bila kita bisa menggambarkan “peta” tata surya lalu meletakkan nama-nama planetnya sesuai urutan. Bila masih belum tepat, artinya kita belum sampai ke makna dari tata surya tersebut.

Maka, definisi ilmu menurut Syed Muhammad Naquib Al Attas meringkas keseluruhan pemahaman ini. Menurut beliau ilmu adalah:

حصول معنى الشيئ فى النفس وصول النفس الى معنى الشئ

“Datangnya makna pada jiwa dan datangnya jiwa pada makna atas sesuatu”

Definisi pertama mengisyaratkan bahwa ilmu adalah sesuatu yang berasal dari Allah SWT, ia akan sampai ke jiwa kita bila ia didatangkan oleh Allah. Sementara itu pada definisi kedua, ini adalah sebab datangnya ilmu dari sudut pandang kita. Manusia memiliki kemampuan untuk mengeksplorasi pengetahuan dan menemukan kebenaran, sehingga pada satu titik, jiwanya akan sampai pada makna atas sesuatu itu.

Darmawan Aji Productivity Coach. Penulis 7 buku laris: Kitab Anti Penundaan, Self-Coaching, Mindful Life, Productivity Hack, Life by Design, Hypnoselling, dan Hypnowriting. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *