fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Lupakan Manajemen Waktu, Lakukan Ini Sebagai Alternatifnya

2 min read

Pada satu titik dalam diri kita, ada keinginan mendalam untuk menjadi pribadi yang produktif. Itu sebabnya kita tertarik dengan buku-buku produktivitas, pengembangan diri atau motivasi. Kita meyakini diri kita punya potensi, dan kita belum berhasil merealisasikan potensi kita seutuhnya.

Salah satu bahasan yang hampir selalu ada di buku terkait pengembangan diri adalah tentang manajemen waktu. Hipotesisnya, waktu kita terbatas, kita perlu mengelolanya dengan baik. Menyia-nyiakan waktu artinya menyia-nyiakan hidup kita. Tentu saja, kita tidak ingin menjadi pribadi yang seperti ini.

Maka, mulailah kita menerapkan manajemen waktu. Caranya berbeda-beda. Ada yang membuat ceklis, perencanaan aktivitas atau penjadwalan harian. Saat memulainya, kita ingin waktu kita digunakan secara ideal. Kita mulai merencanakan jadwal yang padat dari bangun tidur sampai tidur lagi. Kita tidak ingin satu menit pun tersia-siakan. Kita ingin setiap waktu kita produktif, berguna dan bermanfaat. Kita mendorong diri kita untuk produktif seperti mesin, bekerja tanpa henti, tanpa jeda.

Masalahnya, manajemen waktu yang semacam ini mengubah kita menjadi mesin. Kita menjadi manusia yang kaku, yang kehilangan kreativitas dan fleksibilitas kita. Ujung-ujungnya, kita hanya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang normatif yang tidak memerlukan pemikiran manusia di dalamnya. Manajemen waktu semacam ini mungkin cocok untuk mesin, namun tidak untuk manusia.Sayangnya, napas kita untuk menjalani kehidupan yang seperti ini tidaklah panjang. Mempraktikkan manajemen waktu semacam ini membuat kita kelelahan.

  • Anda bertekad menuntaskan pekerjaan yang tertunda. Anda berusaha bekerja fokus selama 4 jam. Namun, baru jam kedua, pikiran Anda sudah lelah dan kehilangan fokus. Padahal di jadwal Anda sudah menjadwalkannya.
  • Anda berencana memberikan quality time untuk anak-anak sepulang dari kantor. Namun, apa yang terjadi? Sampai di rumah tubuh dan pikiran Anda sudah lelah. Rencana yang Anda buat menjadi percuma.
  • Anda ingat ulang tahun istri Anda. Smartphone Anda memberikan notifikasi. Namun di sore hari Anda terlalu lelah untuk mengajaknya keluar untuk merayakannya.

Tak heran, saat kita semakin berusaha menerapkan manajemen waktu yang ideal, semakin tinggi kelelahan yang kita alami. Kita menjadi cemas dengan ceklis yang tak kunjung terselesaikan. Kita menjadi khawatir dengan rencana yang tak kunjung terealisasikan. Tugas yang belum tuntas ini lalu menciptakan Zeigarnick Effect dalam benak kita. Selalu muncul dan menghantui dalam pikiran, sehingga kita tidak bisa berfokus pada apa yang kita kerjakan saat ini.

Kita menjadi tak bahagia menjalani semua hal terkait produktivitas ini, persetan lah! Otak kita pun menjadi kelelelahan dan kewalahan. Saat ini terjadi, otak kita mendorong kita untuk mencari hiburan. Lari dari semua hal yang membebaninya. Kita lari, menenggelamkan diri di dengan scrolling status demi status di Facebook. Larut dengan twit dan debat politik di Twitter. Menonton satu video kucing ke video kucing lainnya di Youtube tanpa tujuan. Kita berubah dari manusia awalnya “terlihat” sangat produktif menjadi manusia yang tak berguna di akhirnya.

Lalu, apa solusinya? Berhentilah berusaha mengelola waktu. Lalu? Kelolalah energi kita. Di kalender atau aplikasi manajemen waktu Anda, antara jam 9-11 pagi dengan 13-15 nampak sama tidak ada bedanya. Namun, di dunia nyata kedua waktu tersebut jauh berbeda. Tingkat energi yang kita miliki berbeda. Inilah pentingnya memperhatikan siklus energi dalam perencanaan aktivitas kita. Maka, energi bukan hanya waktu, sumberdaya yang perlu Anda kelola dengan baik.

Saya tidak mengatakan manajemen waktu itu sampah. Ada hal baik yang dapat kita ambil darinya. Namun, mengelola waktu tanpa mengelola energi adalah sia-sia. Untuk melakukan segala sesuatu dibutuhkan energi. Untuk menjalankan rencana Anda dibutuhkan energi. Tanpa energi, rencana tidak akan berguna. Mengapa kita sudah merencanakan namun gagal melaksanakan? Karena kita kehabisan energi untuk melakukannya. Fondasi utama dari produktivitas, kesehatan dan kebahagiaan keterampilan mengelola energi. Menurut Jim Loehr dan Tony Schwartz, dalam buku The Power of Full Engagement, ada empat macam energi yang perlu kita kelola.

  1. Energi fisik. Fisik kita memiliki keterbatasan, kita perlu kelola dengan baik agar mampu menjalankan rencana-rencana kita.
  2. Energi mental. Ini adalah atensi, kemampuan fokus kita. Kemampuan fokus kita terbatas, kita perlu memiliki pola kerja yang tepat agar dapat memanfaatkan energi mental dengan baik.
  3. Energi emosional. Mengerjakan pekerjaan yang disukai berbeda dengan mengerjakan pekerjaan yang kita benci. Bekerja dengan orang-orang yang kita sukai lebih memotivasi daripada bekerja dengan orang-orang yang kita benci.
  4. Energi spiritual. Mengerjakan sebuah aktivitas yang bermakna yang selaras dengan identitas kita menghasilkan hasil karya yang lebih berkualitas daripada yang tidak.

Bagaimana persisnya mengelola keempat energi ini? Kita akan bahas di artikel berikutnya.

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

One Reply to “Lupakan Manajemen Waktu, Lakukan Ini Sebagai Alternatifnya”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *