fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Design Thinking, MVP dan Pivot

2 min read

Saya pertama kali belajar Design Thinking pada tahun 2018 (sebenarnya saya mendaftar tahun 2016, hanya saja karena kesibukan saya baru memulainya di 2018). Saya belajar melalui kursus singkat selama 5 pekan yang diadakan oleh Darden School of Business, Universitas Virginia. Dosennya saat itu adalah Jeanne M. Liedtka. Salah satu pakar Design Thinking yang cukup disegani di dunia.

Setelah belajar dari sana, saya semakin terbuka dengan Design Thinking. Menggali lebih dalam dan jatuh cinta dengannya. Dalam perjalanan mempelajari ilmu ini, saya menemukan bahwa salah satu pioner Design Thinking adalah Universitas Stanford. Begitu mengetahuinya, saya pun segera meluncur ke laman d.school-nya Stanford. Belajar apapun yang saya dapatkan di sana. Mulai dari video, artikel sampai makalah-makalahnya.

Salah satu yang saya temukan dari d.School-nya Stanford adalah 5 Tahap dalam melakukan Design Thinking. Oya, bagi yang belum tahu apa itu Design Thinking, silakan meluncur ke artikel lama saya di sini. Secara singkat, Design Thinking adalah proses untuk menghasilkan produk yang inovatif.

Menurut d.School ada 5 Tahap melakukan Design Thinking.

  1. Empathy – kita melihat dari sudut pandang calon user dari produk kita.
  2. Define – kita mendefinisikan masalah mana dari user kita yang layak kita pecahkan dengan produk kita.
  3. Ideate – kita munculkan ide-ide (produk; fitur; layanan) yang mungkin bisa kita jadikan solusi bagi user kita.
  4. Prototype – kita buat prototipe dari produk kita. Prototipe adalah “rencana produk” kita. Bentuknya bisa berupa sketsa, story board, atau mockup produk.
  5. Test – tunjukkan prototipe tersebut pada user dan dapatkan umpan balik darinya.

Dari umpan balik, kita kembali ke tahap ideate dan membuat prototipe kedua. Demikian seterusnya sampai kita menemukan fitur mana saja dari “rencana produk” kita yang dapat menjawab masalah dari user kita. Fitur apa saja yang benar-benar dibutuhkan dan fitur apa yang dicari oleh mereka.

Setelah kita mendapatkan umpan balik yang cukup dan prototipe yang “sempurna” barulah kita buat produknya. Namun, produk awal yang kita buat bukanlah produk yang sempurna. Produk yang kita buat adalah produk yang “good enough.” Produk dengan fitur minimum, namun sudah dapat digunakan oleh user. Istilahnya adalah Minimum Viable Product.

MVP berbeda dengan prototipe. MVP adalah produk yang benar-benar berfungsi, sementara prototipe belum berfungsi. Prototipe barulah sebuah visualisasi ide. Prototipe tidak bisa dijual, MVP dapat dijual.

Pada saat membuat MVP, kita perlu memilih fitur yang memenuhi dua kriteria:

  • Paling bernilai oleh user (dibutuhkan dan dicari)
  • Paling mudah dibangun/dibuat oleh kita (kita punya sumberdaya yang dibutuhkan untuk membuatnya).

Fitur-fitur yang sulit atau membutuhkan sumberdaya besar di-hold untuk dirilis pada versi berikutnya (baca: setelah sumberdaya kita bertambah).

Ingat, MVP ini bukan produk final. Setelah diluncurkan, kita tetap melakukan proses “learn” untuk mendapatkan validasi dan feedback dari user riil kita. Lihat siklus Lean Startup dari Eric Ries berikut:

Kita meluncurkan produk bukan karena produknya sudah sempurna. Kita meluncurkan produk untuk menguji dan mengukurnya. Mendapatkan informasi dan umpan balik yang bermanfaat. Lalu mempelajari dan menggunakan umpan balik tersebut untuk mendesain produk versi berikutnya.

Maka, tidak ada versi sempurna sebuah produk. Semua produk adalah produk yang disempurnakan dari satu ke waktu. Bahkan, kadangkala kita perlu melakukan pivot 180 derajat, mengubah arah dari tujuan awal kita. Kita bisa belajar dari produk-produk yang sekarang menjadi legenda. Perhatikan bagaimana versi awal produk mereka dan pivot yang mereka lakukan.

Instagram

Aplikasi awalnya bernama BURBN. Fungsi awalnya adalah untuk membuat janji temu dengan teman kita di lokasi yang ditetapkan. Foundernya ingin mengikuti kesuksesan Foursquare saat itu (ada yang ingat aplikasi ini?).

Youtube

Ada yang tahu bahwa Youtube awalnya adalah situs untuk kencan & cari pasangan?

Facebook

Facebook awalnya bernama The Facebook. Digunakan esklusif untuk menghubungkan para alumni dari Universitas Harvard. Lalu aplikasi ini melebar ke sekolah dan universitas lain. Hingga akhirnya ia dibuka untuk umum seperti saat ini.

Perhatikan, mereka tidak kaku dengan rencana awalnya. Mereka berani melakukan piviot – mengubah arah. Melakukan reinventing setiap waktu. Maka benar kata Kevin Kelly di buku The Inevitable bahwa di era sekarang tidak ada yang namanya produk yang selesai dan tetap, semua produk memerlukan peningkatan.

“Because of technology, everything we make is always in the process of becoming. Every kind of thing is becoming something else, while it churns from “might” to “is.” All is flux. Nothing is finished. Nothing is done. This never-ending change is the pivotal axis of the modern world.”

Kevin Kelly

Saya kira, prinsip ini dapat kita terapkan dalam banyak hal. Termasuk dalam pemilihan karier dan jalan hidup kita. Tinggalkan rencana yang kaku. Selalu sesuaikan rencana berdasarkan situasi terbaru. Kini saatnya bergeser dari sekadar merencanakan hidup (Life Planning) menuju mendesain hidup (Life Design).

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *