fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Self-Esteem & Produktivitas

2 min read

Mana yang lebih dulu: self-esteem atau produktivitas? Apakah self-esteem memengaruhi produktivitas atau produktivitas memengaruhi self-esteem? Sebelum kita jawab, mari kita samakan terlebih dahulu definisi kita tentang self-esteem.

Self-esteem adalah penilaian kita terhadap diri kita sendiri: apakah kita menghargi diri kita sendiri atau tidak. Menurut para ahli, ada dua komponen utama self-esteem: kepercayaan diri dalam menghadapi tantangan hidup dan perasaan layak untuk menjalani kehidupan yang bahagia. Artinya, orang yang memiliki self-esteem tinggi akan menghargai dirinya sendiri, percaya bahwa ia mampu mengatasi tantangan dalam hidupnya, dan merasa layak menjalani kehidupan yang bahagia. Sementara mereka yang memiliki self-esteem rendah, justru sebaliknya.

Menurut Nathaniel Branden, self-esteem sangat terkait dengan produktivitas seseroang. Bahkan, keduanya saling memengaruhi. Mereka yang memiliki self-esteem tinggi cenderung lebih produktif dalam hidupnya, demikian pula sebaliknya semakin produktif seseorang, semakin tinggilah self-esteemnya. Jadi, hubungan antara keduanya seperti ayam dan telur. Mana yang ada terlebih dulu?

Namun, jika saya diminta memilih, saya akan memilih self-esteem dulu. Mengapa? Karena ini ada dalam kendali kita. Produktivitas adalah efeknya.

Pertanyaannya, bagaimana cara meningkatkan self-esteem? Ada banyak cara. Dalam artikel ini, saya hanya akan bahas tiga cara. Referensi tiga cara ini adalah bukunya Nathaniel Branden yang berjudul The Six Pillars of Self-Esteem. Oka, apa sajakah tiga cara tersebut?

Pertama, mempraktikkan hidup secara sadar (the practice of living consciously).

Coba bayangkan kehidupan yang kita jalani semenjak bangun tidur hingga tidur lagi. Apakah kita sepenuhnya sadar dengan apa yang kita lakukan? Apakah kita menyengaja untuk menyatukan pikiran dan tubuh di sini saat ini saat melakukan sesuatu? Atau kita membiarkan diri kita bertindak secara otomatis hanya menjalani rutinitas tanpa sadar penuh saat melakukannya? Untuk meningkatkan self-esteem, kita perlu berlatih menjalani menit demi menit kehidupan kita secara sadar. Tidak membiarkan diri kita hanya menjalani rutinitas tanpa makna. Jika masih terlalu berat untuk menjalani menit demi menit, pilihlah satu dua aktivitas terlebih dulu. Misal, makan dengan sadar. Memilih apa yang kita makan secara sadar, mengunyah dan menikmatinya dengan sadar pula. Bisa juga saat bertemu dengan orang lain, berlatihlah hadir penuh di depan mereka. Maka, kira-kira, apa yang mungkin akan berbeda bila kita menambahkan 5% saja kesadaran dalam aktivitas keseharian kita?

Kedua, mempraktikkan penerimaan diri (the practive of self-acceptance).

Mantra di sini adalah: improve what you can, accept what you can’t – tingkatkan apa yang bisa kita ubah, terima apa yang tidak bisa kita ubah. Banyak orang menganggap konsep self-acceptance ini bertentangan dengan konsep self-improvement, itu kurang tepat. Self-improvement justru diawali dengan self-acceptance. Terima kekuatan dan keterbatasan kita, lalu asah kekuatan kita dan terima keterbatasan kita. Ilustrasinya sebagai berikut. Misalnya, rambut saya keriting, kita tidak bisa improve penampilan rambut kita dengan memodel gaya rambutnya Lee Min Ho. Mengapa? Karena bentuk dasarnya berbeda. Mungkin lebih cocok dengan memodel gaya rambutnya Will Smith. Lihat, self-acceptance dulu baru self-improvement.

Ketiga, mempraktikkan tanggung jawab pribadi (the practice of self-responsibility).

Apapun situasi yang kita hadapi, bertanggungjawablah. Pilihlah untuk menjadi pelaku, bukan korban. Karena dalam situasi apapun, kita tetap memiliki kebebasan memilih respon kita. Kita bisa memilih untuk bertindak mengubah keadaan atau merasa sebagai korban dari keadaan. Saat kita merasa bisnis memburuk misalnya, kita bisa menyerah dan menganggap bahwa kita adalah korban dari kebijakan pemerintah yang tidak mendukung ekosistem bisnis. Atau kita bisa memikirkan solusi dan bergerak ke arah yang kita inginkan.

Inilah tiga hal yang dapat meningkatkan self-esteem. Perhatikan, semua diawali dengan the practice of artinya apa? Self-esteem bukan sekadar konsep atau gagasan, ini adalah sebuah praktik yang tidak akan bermanfaat bagi kita bila kita tidak melatihnya. Membutuhkan latihan yang disiplin dan konsisten dalam rentang waktu tertentu agar semua ini menyatu dengan diri kita. Tak perlu terburu-buru ingin menguasai semuanya 100%, seringkali justru peningkatan yang kecil namun berkelanjutanlah yang menciptakan perbedaan.

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.