fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach. Penulis 7 buku laris: Kitab Anti Penundaan, Self-Coaching, Mindful Life, Productivity Hack, Life by Design, Hypnoselling, dan Hypnowriting. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Dari Pengetahuan Menuju Kebijaksanaan

2 min read

Manusia kelaparan. Bukan lapar dalam arti fisiologis, namun lapar secara psikologis. Untuk itulah kemudian kita belajar, membaca buku, menyimak berita, menyerap informasi. Namun anehnya, kita tetap saja lapar. Kita merasa bahwa menyerap informasi dan pengetahuan baru akan mengenyangkan kita. Nyatanya, tidak. Maka kemudian kita belajar lagi, membaca lagi, menyimak lagi, menyerap lagi. Namun yang kita berusaha serap hanya informasi saja, hanya pengetahuan saja, dan alih-alih membuat kita kenyang, menyerap hal ini justru membuat kita semakin lapar.

Eric Weiner dalam The Socrates Express mengatakan bahwa apa yang kita butuhkan bukan sekadar informasi atau pengetahuan, kita membutuhkan kebijaksanaan (wisdom). Informasi hanyalah fakta yang bercampurbaur, antara fakta penting dengan fakta tak penting, antara berlian dan sampah. Sementara pengetahuan agak lebih mendingan, fakta-faktanya lebih tertata, sehingga kita bisa memilah mana berlian mana sampahnya. Namun kebijaksanaan melampaui itu semua. Kebijaksanaan menguraikan fakta sehingga fakta tersebut menjadi masuk akal bagi kita, dan yang lebih penting lagi bagaimana fakta tersebut dapat kita gunakan dalam hidup kita. Sebuah pepatah mengatakan:

“pengetahuan adalah mengetahui apa yang harus dikatakan, kebijaksanaan adalah mengetahui kapan mengatakannya.”

Ya, kita tetap memerlukan pengetahuan untuk meraih kebijaksanaan. Meskipun demikian, banyaknya pengetahuan yang dimiliki seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan kebijaksanaan yang ia miliki. Bahkan kadang kala ada orang-orang yang semakin tidak bijak seiring semakin banyaknya pengetahuan yang dimilikinya. Jika banyaknya pengetahuan bukan kuncil Lalu, apa kunci untuk meraih kebijaksanaan ini? Saya sering menggunakan piramida DIKW untuk menggambarkan proses meraih kebijaksanaan. Perhatikan piramida berikut:

  • Data adalah kumpulan angka, fakta, hasil pengukuran atau pengamatan dalam bentuk mentah, belum tertata. Tanpa konteks yang jelas, data menjadi tidak bermakna. Contoh: angka 02041981 itu tidak bermakna sampai kita beri konteks. Apa konteksnya? Nomor telepon kah? NIK kah? atau apa? Setelah diberi konteks, misal, angka tersebut adalah tanggal, maka menjadi lebih bermakna: 02 April 1981.
  • Informasi adalah data yang sudah ditata untuk tujuan tertentu. Buku yang kita baca, materi di kelas yang kita ikuti, podcast yang kita dengar adalah informasi. Informasi perlu diproses, dipahami, dimaknai, agar menjadi pengetahuan. Prosesnya adalah dengan menghubungkannya dengan informasi lain yang kita punya, pengalaman yang kita miliki, atau situasi kongkret yang bisa kita bayangkan.
  • Pengetahuan adalah informasi yang lebih tertata dan sudah terhubung dengan informasi lainnya yang relevan, informasi yang sudah diproses oleh otak kita sehingga kita tahu bagaimana memanfaatkannya dalam kehidupan kita.
  • Kebijaksanaan adalah pengetahuan yang diterapkan dalam tindakan, pengetahuan yang sudah mendarahdaging sehingga memandu kita, pengetahuan yang sudah menjadi bagian diri, sikap, dan perilaku kita. Kebijaksanaan adalah kemampuan memilah, mana pengetahuan yang paling tepat untuk diterapkan dalam sebuah situasi tertentu.

Agar semakin jelas, perhatikan contoh berikut ini:

  • Angka 89% pada layar itu data. Kita tidak tahu artinya sampai kita beri konteks, 89% itu menunjukkan apa?
  • Sekarang, mari kita beri konteks. Misal 89% itu menunjukkan saturasi oksigen pada darah. Ketika data diberi konteks, ia menjadi informasi. Pertanyaannya, dari informasi ini kita dapat apa?
  • Kita perlu memaknai informasi agar ia menjadi pengetahuan. Apa makna dari saturasi oksigen 89%? Ternyata saturasi oksigen di angka tersebut maknanya di bawah saturasi normal. Ini adalah pengetahuan. Pertanyaan, atas pengetahuan ini mau kita apakan?
  • Kebijaksanaan adalah mengetahui apa yang perlu dilakukan atas dasar pengetahuan yang kita miliki. Saat kita mengetahui saturasi oksigen di bawah 90% maka kita perlu segera mencari bantuan medis. Kebijaksanaan muncul saat kita menghubungkan titik antara pengetahuan dan mengambil tindakan atasnya.

Maka, inilah kuncinya. Untuk mengubah data menjadi informasi kita perlu konteks. Untuk mengubah informasi menjadi pengetahuan kita perlu makna. Untuk mengubah pengetahuan menjadi kebijaksanaan kita perlu menarik hikmah.

  • Konteks (context) adalah batasan atau wadah dari sebuah data: apa, siapa, kapan, dimana. Pertanyaan yang membantu kita: “Dalam konteks apa data ini bermanfaat?”
  • Makna (meaning) adalah kaitan dalam pikiran yang bersifat pribadi, keterhubungan antara informasi yang kita serap dengan pengalaman dan kepentingan diri kita. Pertanyaan yang membantu kita: “Bagaimana saya dapat menerapkan informasi ini dalam hidup saya?” “Bagaimana saya dapat menerapkan informasi ini untuk mencapai tujuan saya?”
  • Hikmah (insight) adalah pemahaman yang jelas dan mendalam, hasil sebuah proses refleksi yang disengaja, namun juga kadang-kadang datang tiba-tiba. Pertanyaan yang membantu kita: “Mengapa pengetahuan ini penting bagi saya?” “Mengapa saya perlu menerapkannya?”

Ken Poirot, penulis buku “Mentor Me” mengatakan:

“kebijaksanaan datang dari melakukan kesalahan, memiliki keberanian untuk menghadapinya, dan melakukan penyesuaian, bergerak ke depan berdasar pengetahuan yang didapat dari pengalaman tersebut.”

Darmawan Aji Productivity Coach. Penulis 7 buku laris: Kitab Anti Penundaan, Self-Coaching, Mindful Life, Productivity Hack, Life by Design, Hypnoselling, dan Hypnowriting. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

2 Replies to “Dari Pengetahuan Menuju Kebijaksanaan”

  1. Saya merasakan kebenaran dan juga
    solusi dari artikel ini, saya sering membaca buku, akan tetapi ketika blm tuntas, saya sdh membaca buku yang lain yang temanya mirip atau kadang buku lainnya yg mendukung buku yg pertama saya baca. Dan yg menarik ternyata ada struktur pyramid nya jadi pembaca lebih mudah memahaminya. DIKW ini mirip konsepnya DR MD Santo

Leave a Reply to Saud MHS Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *