fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach. Penulis 7 buku laris: Kitab Anti Penundaan, Self-Coaching, Mindful Life, Productivity Hack, Life by Design, Hypnoselling, dan Hypnowriting. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

T-Shaped Person: Solusi Dilema Antara Generalis vs Spesialis

1 min read

Banyak yang bertanya, sebaiknya kita jadi generalis atau spesialis?

Ada satu keyakinan yang beredar di masyarakat. Menariknya, kedua keyakinan ini sepertinya bertentangan satu sama lain. Pertanyaannya, mana yang benar?

Keyakinan pertama, generalis nggak akan sukses dimanapun. Pasar membutuhkan ahli yang spesialis. Generalis akan menjadi orang rata-rata dengan bayaran rata-rata pula. Kalau mau dibayar mahal, jadilah spesialis yang menguasai satu keahlian secara mendalam.

Di samping keyakinan tersebut, ada keyakinan kedua, spesialis tidak bisa menjadi leader atau entrepreneur yang sukses. Seorang entrepreneur perlu menguasai banyak hal, namun tidak perlu mendalam. Jika kamu spesialis, kamu hanya akan bisa jadi teknisi bukan business-owner. Business-owner perlu bekerja “pada” bisnisnya bukan “di dalam” bisnisnya. Maka, ia perlu memiliki helicopter view. Wawasannya perlu luas, bukan sempit, meskipun mendalam.

Jadi mana yang benar?

Meluas – memahami banyak hal meskipun tidak ahli di sana; atau

Mendalam – menguasai dan ahli hanya pada satu bidang?

Jawaban saya: kenapa nggak keduanya? David Guest pada tahun 1991 menciptakan istilah baru: T-Shaped Person – seseorang yang menguasai satu bidang keahlian secara mendalam namun juga punya kemampuan untuk meluaskan pemahaman di bidang-bidang lainnya. Dengan kata lain, ia punya keahlian yang mendalam dalam satu bidang namun tetap “nyambung” saat ngobrol tentang bidang-bidang lainnya. Istilah lain dari orang seperti ini adalah “generalizing specialist.”

Seseorang dengan keahlian “T-Shaped” ini lebih bernilai dibandingkan menjadi generalis atau spesialis saja. Mengapa demikian?

Pertama, pasar masih tidak menghargai seorang generalis (baca keyakinan pertama di atas). Pasar menganggap spesialis jauh lebih bernilai.

Kedua, spesialis dengan kacamata kuda akan sulit berkolaborasi dengan pihak lain. Karena wawasannya sangat terbatas. Ia pun cenderung akan kesulitan memasarkan dirinya sendiri. Kadang kala, bahasa mereka terlalu teknis sehingga pihak lain (klien, tim, dsb) kesulitan memahami maksudnya.

Pertanyaannya, bagaimana cara menjadi seorang “T-Shaped”?

  1. Pertimbangkan bidang spesialisasi yang ingin Anda dalami. Luangkan 10.000 jam untuk menguasai bidang ini.
  2. Sambil Anda mendalami bidang Anda, perluas wawasan Anda di bidang lain. Setidaknya, bacalah buku dari beragam bidang.
  3. Bila belum yakin dengan bidang spesialisasi Anda, lakukan proses magang atau kerjakan sebagai sebuah proyek sementara. Perbanyak pengalaman, lalu barulah pilih spesialisasi Anda dengan tiga kriteria: Anda suka, Anda yakin bisa jadi ahli di sana, pasar membutuhkan keahlian Anda ini.
  4. Lakukan proses reinventing self secara teratur. Kadang kala, melakukan pivot ke bidang lain pun diperlukan. Kita akan bahas lebih dalam terkait hal ini di lain waktu, insyaallah.
Darmawan Aji Productivity Coach. Penulis 7 buku laris: Kitab Anti Penundaan, Self-Coaching, Mindful Life, Productivity Hack, Life by Design, Hypnoselling, dan Hypnowriting. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *