fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

4 Penghalang Komunikasi

1 min read

Memahami orang lain adalah kunci hubungan saling percaya. Menariknya, kita memahami orang lain tidak seperti mereka apa adanya. Kita memahami orang lain menurut persepsi dan kesimpulan kita. Setahu saya, Andi itu orangnya begini begitu. Apakah kenyataannya Andi memang begini begitu atau tidak, kita tidak tahu. Kita melihat orang lain berdasarkan label-label yang kita pasang pada diri mereka. Kita membuat kesimpulan berdasarkan pengalaman kita masing-masing.

Sumber gambar: www.spring.org.uk
Sumber gambar: www.spring.org.uk

 

Saat kita berhubungan orang lain, seringkali kita menempatkan cermin diantara kita dengan mereka. Cermin ini membuat kita melihat orang lain menurut persepsi kita, cermin ini menjadi “penghalang” bagi kita untuk memahami mereka apa adanya.  Bila kita ingin berkomunikasi dan membanguin hubungan lebih baik dengan orang lain, ada baiknya kita mengganti cermin tersebut dengan jendela.

Terkait dengan penghalang di atas. Menurut John C. Maxwell, ada empat penghalang utama dalam memahami orang lain.

  1. Asumsi “Saya sudah tahu apa yang diketahui, dirasakan, dan diinginkan orang lain.”
  2. Arogansi: “Saya tidak perlu tahu apa yang diketahui, dirasakan, dan diinginkan orang lain.”
  3. Ketidakpedulian: “Saya tidak peduli terhadap apa yang diketahui, dirasakan, dan diinginkan orang lain.”
  4. Kontrol: “Saya tidak ingin orang lain tahu apa yang saya ketahui, rasakan, atau inginkan.”

Empat hal di atas akan menghalangi Anda untuk memahami orang lain secara lebih baik. Sebaliknya Anda perlu membiasakan empat pertanyaan pada diri sendiri sebagai berikut.

  1. Bertanyalah, “Apakah saya merasakan apa yang Anda rasakan?” sebelum, “apakah Anda merasakan apa yang saya rasakan?”
  2. Bertanyalah, “Apakah saya melihat apa yang Anda lihat?” sebelum, “Apakah Anda melihat apa yang saya lihat?”
  3. Bertanyalah, “Apakah saya mengetahui apa yang Anda ketahui?” sebelum, “Apakah Anda mengetahui apa yang saya ketahui?”
  4. Bertanyalah, “Apakah saya memahami apa yang Anda inginkan?” sebelum, “Apakah Anda memahami apa yang saya inginkan?”

Maka sekarang, sudahkah Anda siap menggunakan jendela saat berhubungan dengan orang lain?

“Ada perbedaan besar antara mengetahui dan memahami. Anda dapat tahu banyak tentang sesuatu namun Anda belum tentu benar-benar memahaminya.” Charles F. Kettering

 

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *