fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Mendefinisikan Coaching

1 min read

Saat ini, istilah coach dan coaching sedang menghangat. Banyak orang yang bergerak di bidang pengembangan diri dan pelatihan bisnis melabeli dirinya dengan kata “coach” di depannya. Kalaupun tidak, pesertanya lah yang melabeli mereka dengan panggilan “coach.” Sebenarnya, apa yang disebut dengan coaching? Artikel ini, melengkapi artikel sebelumnya, akan mengungkap definisi coaching dari sudut pandang ICF (International Coach Federation) – organisasi profesi coach terbesar di dunia.

ICF mendefinisikan coaching sebagai:

“Partnering with clients in a thought-provoking and creative process that inspires them to maximize their personal and professional potential.”

Terjemahan bebasnya kurang lebih:

“Bermitra dengan klien dalam proses kreatif dan provokatif yang menginspirasi mereka untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesionalnya.”

Dari definisi di atas, kita dapat menguraikan coaching ke dalam tiga elemen.

Pertama, kemitraan.

Kedua, prosesnya kreatif dan memprovokasi pemikiran.

Ketiga, tujuannya menginspirasi coachee (orang yang dicoaching) untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesioanalnya.

Mari kita bedah satu per satu.

Coaching adalah sebuah kemitraan. Artinya posisi coach dan coachee sejajar. Coach tidak lebih tinggi posisinya dibanding coachee, demikian pula sebaliknya. Karena posisinya sejajar, maka proses yang dilakukan adalah dialog setara. Coach berdialog dengan coachee dalam rangka membantu coachee memecahkan masalahnya atau mencapai tujuannya.

Coaching melibatkan proses kreatif yang memprovokasi pikiran. Proses ini tidak akan terjadi bila coach yang sibuk berpikir dan sibuk memberikan arahan yang “siap disantap”. Seorang coach bukan bertugas memberikan ikan, namun sebatas memberikan kali dan umpan. Tugas seorang coach adalah membantu coacheenya untuk berpikir kreatif. Membantu berpikir kreatif artinya mengajak coachee untuk melihat masalah atau situasi dari perspektif baru yang menunjukkan solusi yang tidak biasa atau tidak terpikirkan sebelumnya. Coach perlu memprovokasi coachee untuk aktif berpikir. Inilah yang akan menumbuhkan coachee. “Telling makes people know, questioning makes people grow” – demikian kata pepatah.

Terakhir, tujuan dari coaching adalah menginspirasi coachee untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesionalnya. Artinya, agenda coaching datangnya dari coachee, bukan dari coach-nya. Coachee-lah yang menentukan tujuan coachingnya. Tugas coach memfasilitasi proses berpikir coachee untuk menemukan solusi terbaik dalam mewujudkan tujuannya. Michael Kallet dalam bukunya Think Smarter menjelaskan pentingnya peran seorang coach untuk memfasilitasi proses berpikir dan pemecahan masalah yang dialami seseorang. Kallet mengistilahkannya dengan Thinking Coach. Seorang thinking coach memfasilitasi proses berpikir dengan mengajukan pertanyaan. Mengajukan pertanyaan memungkinkan seorang coach untuk “melatih” kemampuan berpikir dan pemecahan masalah dari coachee-nya.

Jadi, seorang coach mengajukan pertanyaan bukan karena gaya-gayaan, atau bukan karena “namanya juga coach.” Seorang coach mengajukan pertanyaan karena kita meyakini, inilah satu-satunya cara untuk memprovokasi pemikiran kreatif dari coachee kita sehingga ia terinspirasi untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesionalnya. Seorang coach mengajukan pertanyaan karena kita meyakini bahwa setiap coachee sebenarnya sudah memiliki jawaban di dalam dirinya. Seorang coach mengajukan pertanyaan karena ia percaya penuh dengan potensi yang dimiliki coachee-nya.

 

PS. Tertarik coaching langsung dengan saya atau dengan para Certified Professional NLP Coach dari Indonesia NLP Society? Silakan hubungi saya di WA 0818626000

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Mengenal Self-Coaching

Darmawan Aji
1 min read

Empat Keyakinan Seorang Coach Pro

Saya sempat membaca di blognya ICF, ada dua cara berpikir yang membedakan antara coach pemula dengan coach yang sudah pro. Perbedaan cara berpikir inilah...
Darmawan Aji
2 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *