fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Empat Keyakinan Seorang Coach Pro

2 min read

Saya sempat membaca di blognya ICF, ada dua cara berpikir yang membedakan antara coach pemula dengan coach yang sudah pro. Perbedaan cara berpikir inilah yang kemudian membedakan pendekatan dan cara mereka dalam melakukan sesi coaching.

Coach pemula berpikir: “Bagaimana saya dapat membantu klien menyelesaikan masalah mereka?” Sementara coach pro berpikir: “Bagaimana klien dapat membantu dirinya sendiri untuk tumbuh melampaui masalah mereka?”

Apa yang membedakan dari kedua cara berpikir ini? Sederhana, coach pemula fokus pada dirinya sendiri, fokus pada sumberdaya yang ia miliki untuk membantu kliennya. Sementara coach pro fokus pada kliennya, fokus pada sumberdaya yang dimiliki kliennya. Coach pro meyakini bahwa coaching bukanlah tentang dirinya, melainkan tentang klien. Coach pro meyakini bahwa coaching adalah tentang helping someone to help themselves – membantu seseorang untuk membantu dirinya sendiri. Cara berpikir yang berbeda inilah yang membedakan perilaku mereka. Perilaku yang berbeda lah yang menciptakan hasil yang berbeda.

Untuk itu mengadopsi cara berpikir ini kita perlu membangun dua kualitas berikut ini:

Pertama, Trust. Awalnya trust ke diri sendiri. Selanjutnya trust kepada klien. Ketika kita kehilangan trust terhadap klien, coaching kita akan berantakan.

Kedua, Curiosity. Rasa ingin tahu dan penasaran dengan sudut pandang klien. Ini yang akan mendorong kita untuk memberikan atensi penuh pada klien. Ini juga yang akan mendorong kita untuk mau mengajukan pertanyaan dan menggali sudut pandang klien.

Lalu, bagaimana cara untuk membangun kedua kualitas ini? Kita bisa mengambil pelajaran dari pendekatan Brief Coaching. Dalam pendekatan Brief Coaching, ada empat asumsi yang perlu diyakini agar sebuah sesi coaching efektif. Empat asumsi ini bermanfaat untuk membangun dua kualitas di atas. Apa saja kah empat asumsi tersebut?

Pertama, membangun solusi adalah jalan pintas untuk pemecahan masalah.

Seorang coach perlu berorientasi ke solusi daripada ke masalah. Alih-alih sibuk menggali dan menemukan akar masalah, pendekatan dalam coaching memilih untuk fokus untuk membangun solusi. Membangun solusi di sini maksudnya fokus membangun tujuan yang bermakna, fokus pada sumberdaya yang dimiliki klien, fokus pada masa depan yang diinginkan. Fokus pada masalah dan menggalinya mengapa sampai terjadi tidak akan membawa klien bergerak kemana-mana. Yang terjadi justru klien akan menyesal dan mengutuk masa lalu. Menggali masa lalu tidak selalu mengubah masa depan. Solusi tidak peduli mengapa sebuah masalah terjadi.

Kedua, klien telah memiliki pengalaman dengan solusinya.

Pada dasarnya setiap orang sudah mengetahui jawaban atas masalahnya. Demikian pula klien. Mereka sebenarnya sudah tahu solusi bagi masalahnya. Mereka sudah berpengalaman menyelesaikan masalahnya pada kadar tertentu. Mengapa? Karena tidak ada masalah yang berlangsung setiap waktu. Selalu ada waktu dimana masalah tersebut tidak muncul. Apapun masalahnya. Ribut dengan pasangan misalnya, apakah setiap waktu (baca: setiap detik) klien ribut dengan pasangannya? Saya yakin tidak. Ada solusi di jeda waktu. Pada waktu-waktu jeda ketika klien sedang tidak mengalami masalahnya ini tersimpan solusi untuk masalah klien. Tugas coach adalah menggalinya dan memperkuatnya, lalu menerapkannya di waktu-waktu lainnya. Misal, seorang klien yang tidak percaya diri, apakah ia selalu tidak percaya diri di sepanjang waktu dalam setiap hal? Saya yakin tidak. Ada waktu-waktu ketika ia percaya diri. Mengingatkan klien tentang waktu-waktu ini adalah solusi awal dari masalahnya.

Ketiga, ketika berada dalam keraguan, percayalah pada klien.

Klien lebih ahli dengan dunianya. Klien lebih ahli dengan masalahnya. Klien lebih ahli dengan solusinya. Saat kita sebagai coach yakin bahwa klien lebih ahli dengan kehidupannya sendiri, kita akan percaya pada mereka. Kita akan yakin pada potensi, sumberdaya dan kemampuan yang mereka miliki.

Keempat, tidak tahu itu berguna.

Dalam coaching, merasa tahu justru berbahaya. Coach perlu tidak tahu tentang agenda kliennya sehingga ia penasaran dan mau menggali lebih dalam. Coach perlu tidak tahu solusi untuk masalah kliennya sehingga ia menahan diri untuk memberikan saran dan arahan. Karena seringkali solusi yang muncul dari kita justru tidak pas dengan kondisinya. Biarkan klien menemukan solusinya sendiri. Solusi yang paling tepat dengan dirinya. Biji pohon ek yang jatuh akan menemukan caranya sendiri untuk tumbuh menjadi pohon yang besar dan kuat.

Maka, sebagai coach tanyakan pertanyaan ini pada diri Anda sendiri:

“Dari skala 1-10, seberapa yakin Anda percaya bahwa klien telah memiliki semua hal yang diperlukan untuk membangun solusinya sendiri?”

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Mengenal Self-Coaching

Darmawan Aji
1 min read

Mendefinisikan Coaching

Saat ini, istilah coach dan coaching sedang menghangat. Banyak orang yang bergerak di bidang pengembangan diri dan pelatihan bisnis melabeli dirinya dengan kata “coach”...
Darmawan Aji
1 min read