fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Kimia Kebahagiaan: Filsafat Hedonisme

2 min read

Bila kebahagiaan bukan berasal dari luar diri, maka ia pasti berasal dari dalam diri. Namun, seperti apa persisnya penyebab bahagia dari dalam diri ini?

Suatu hari, Socrates mengajukan sebuah pertanyaan pada murid-muridnya: “apa yang menjadi hal terbaik bagi manusia?” Ia mengajak diskusi tentang tujuan akhir manusia. Salah satu muridnya, Aristippos dari Kyrene menjawab bahwa yang menjadi hal terbaik bagi manusia adalah kenikmatan. Aristippos memaparkan bahwa manusia sejak masa kecilnya selalu mencari kenikmatan dan bila tidak mendapatkannya, ia akan mencari sesuatu yang lain lagi. Dari sinilah kemudian muncul filsafat hedonisme yang diprakarsai oleh Aristippos. Istilah hedonisme berasal dari kata hedone (bahasa Yunani) yang berarti kenikmatan (pleasure).

Filsafat hedonisme menyatakan kita hanya termotivasi oleh dua hal: kenikmatan dan kesengsaraan. Maka, untuk mencapai bahagia kita perlu mengejar kenikmatan dan menghindari kesengsaraan. Jeremy Bentham, salah satu tokoh filsafat hedonisme mengatakan: “Alam telah menempatkan manusia di bawah pemerintahan dua tuan yang berdaulat: kenikmatan dan kesengsaraan.” Kita melakukan apa yang kita lakukan saat ini untuk memenuhi atau menghindari salah satu darinya. Inilah sebabnya bagi mereka, kenikmatan adalah satu-satunya hal penting yang layak dikejar. Kesenangan dan kenikmatan adalah tujuan utama dalam hidup.

Apa yang dimaksud dengan kenikmatan dalam filsafat hedonisme? Di awal perkembangannya, kenikmatan yang dimaksud adalah kenikmatan materi, badani dan indrawi. Mulai dari makan, minum, sampai hubungan seksual. Tak heran bila kemudian mereka mendewakan kenikmatan semacam ini. Tentu saja, pendekatan hedonisme ini disukai oleh manusia secara umum. Filsafat hedonisme ini selaras dengan insting dan nafsu manusia.

Mihaly Csikszentmihalyi dalam buku Flow: The Psychology of Optimal Experience berpendapat bahwa kenikmatan (pleasure) itu secara umum bersifat biologis, terkait dengan kebutuhan bertahan hidup dan bermanfaat untuk mengembalikan keseimbangan fisik seseorang. Makan, tidur, istirahat, hubungan seksual mengembalikan kondisi fisik kita pada keseimbangan dan menghasilkan sensasi nikmat. Namun, semua ini tidak membuat kita bertumbuh secara psikologis. Sementara itu kebahagiaan bersifat psikologis. Ia tidak dapat tercipta hanya dari mengejar kenikmatan. Kebahagiaan ini bisa didapatkan dari aktivitas yang membuat kita larut dan tertantang. Mihaly mengistilahkannya dengan kegembiraan (enjoyment) atau flow.

Kita bisa mengambil jalan pintas untuk mendapatkan kenikmatan. Belanja, makan es krim, nonton televisi, berhubungan seksual atau (maaf) melakukan mast*rbasi, semua ini contoh jalan pintas untuk mendapatkan kenikmatan. Namun, tidak ada jalan pintas untuk mendapatkan kegembiraan. Kita perlu fokus dan mengerahkan kemampuan kita untuk melakukannya. Apapun pilihan Anda, entah itu Bermain catur, bermain golf, menguasai gerakan sulit dalam beladiri, berdiskusi tentang topik yang menantang, atau sekadar bercakap-cakap dengan kawan lama.

Menariknya, berlebihan dalam mengejar kenikmatan memiliki efek negatif. Efek negatif yang utama adalah rusaknya keseimbangan. Dalam sebuah riset disebutkan, orang yang melakukan hubungan seksual dalam jumlah yang moderat justru lebih bahagia dibandingkan dengan mereka yang melakukan hubungan seksual dalam jumlah berlebih. Demikian pula terkait kesehatan. Kenikmatan seperti merokok, minum alkohol dan konsumsi gula berlebih akan merusak kesehatan kita secara umum.

Efek negatif berikutnya adalah Hedonic Treadmill. Mereka yang mendewakan kenikmatan hanya akan merasakan kebahagiaan dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang, justru kebahagiaan yang kita rasakan akan memudar. Mereka mengalami hedonic treadmill. Hedonic treadmill adalah memudarnya perasaan bahagia beberapa saat setelah apa yang kita inginkan tercapai. Seseorang yang mengidam-idamkan handphone seri 8 misalnya, ia merasa akan lebih bahagia setelah berhasil membelinya. Namun apa yang terjadi setelah ia berhasil membelinya? Dalam waktu beberapa pekan saja, rasa bahagianya memudar. Ia tidak merasakan kebahagiaan seperti sebelumnya. Ia merasa biasa saja dengan hanphone seri 8-nya. Efeknya, beberapa saat kemudia ia akan mulai merasakan ketidakpuasan. Ia pun berusaha memenuhinya dengan mengidamkan handphone seri berikutnya. Ia menyangka, dengan membeli hanphone dengan seri yang lebih tinggi ia akan bahagia. Namun, ini adalah lingkaran setan tanpa akhir. Mereka akan terus menerus menginginkan stimulus yang lebih kuat untuk merasakan kebahagiaan berikutnya. Inilah yang terjadi pada pecandu pornografi dan narkoba. Awalnya mereka hanya mencoba sedikit, namun seiring waktu sensitivitas mereka memudar. Mereka tidak merasakan kenikmatan lagi dari apa yang sudah mereka lakukan. Mereka pun akhirnya mencari stimulus yang lebih kuat untuk merasakan kenikmatan lagi. Tak heran, bila mereka akhirnya berujung pada perasaan hampa.

Efek negatif yang terakhir adalah: Paradoks Hedonisme. Semakin kita mengejar kenikmatan, semakin sulit kita merasakan kenikmatan tersebut. Orang yang paling ngotot mengejar kebahagiaan biasanya adalah orang yang tidak bahagia. Orang akan merasakan kenikmatan dan kebahagiaan justru ketika ia mengalihkan fokusnya untuk melayani pihak lain atau mengabdi pada tujuan yang lebih besar. Seperti kata Victor Frankl dalam buku Man’s Search for Meaning: “Kebahagiaan adalah hasil sampingan yang tak disengaja saat kita mengabdikan diri untuk tujuan lain yang lebih besar atau saat kita menyerahkan diri pada orang lain (atau zat di luar diri kita).” Kebahagiaan tidak bisa dikejar karena ia bukan hasil akhir, ia adalah efek samping.

Dari paparan ini, tidak berarti kenikmatan itu buruk. Kenikmatan dapat berkontribusi pada kebahagiaan pada level tertentu. Namun, jangan jadikan kenikmatan sebagai tujuan utama. Jadikan ia sebagai efek samping dari apa yang kita lakukan.

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.