Jadi Trainer Nggak Cukup Modal Bicara

a man in black suit discussing in front

Banyak orang yang belum bisa membedakan antara speaker dengan trainer. Mereka menganggap keduanya sama saja. Speaker itu ya trainer, trainer itu ya speaker. Padahal keduanya berbeda.

Speaker atau pembicara tugasnya adalah bicara. Targetnya adalah menyampaikan pesan. Selama pesannya tersampaikan, maka tujuannya sudah tercapai.

Sementara itu, trainer atau pelatih tugasnya adalah melatih. Targetnya adalah trainee-nya atau orang yang dilatihnya menjadi terlatih. Tugas dari trainer adalah melakukan transfer kompetensi baik berupa pengetahuan, keterampilan, atau sikap tertentu.

Maka, menjadi trainer tidak cukup hanya dengan bicara. Kemampuan bicara saja tidak memadai sebagai bekal untuk menjadi seorang trainer.

Seorang trainer perlu memiliki kemampuan untuk menganalisis kebutuhan pelatihan – kesenjangan antara kompetensi saat ini dengan kompetensi yang diharapkan. Lalu, ia akan mendesain silabus yang tepat. Silabus yang bisa menjembatani antara kompetensi saat ini dengan kompetensi yang diharapkan.

Tak hanya itu, seorang trainer juga perlu merancang aktivitas pembelajaran yang pas bagi peserta pelatihannya. Sehingga di akhir pelatihan, kompetensi yang diharapkan akhirnya dapat tercapai.

Sebagai contoh, katakanlah saya diminta untuk melatih keterampilan copywriting untuk para wirausaha UMKM. Maka sebagai trainer apa yang perlu saya lakukan adalah mengetahui dulu seberapa paham mereka tentang copywriting. Apakah mereka sudah pernah membuat copywriting atau belum sama sekali. Dari sini, saya jadi memahami titik start yang tepat. Lalu setelahnya, saya akan buat titik finishnya. Misalnya, katakanlah  saya hanya diberi waktu 4 jam untuk melatih mereka – maka saya akan buat titik finish yang realistis. Katakanlah para wirasuaha UMKM ini benar-benar awam tentang copywriting, mungkin saya akan akan membuat learning objectivenya: setelah selesai pelatihan peserta mampu membuat copywriting menggunakan framework AIDA untuk produknya masing-masing.

Nah, dalam pelatihan, tidak cukup bagi saya hanya bicara tentang apa itu AIDA. Saya perlu memberikan contoh-contoh yang relevan juga. Tak kalah penting, saya perlu luangkan waktu bagi peserta untuk berlatih membuat copywriting sendiri dan kemudian saya memberikan feedback atau umpan balik bagi mereka. Esensi tugas trainer justru di sini: memandu peserta berlatih dan memberikan umpan balik yang konstruktif bagi mereka.

Jadi, dari sini kita lihat sekali lagi, tugas seorang trainer tidak cukup hanya bicara. Ia perlu memfasilitasi peserta untuk berlatih dan memberikan umpan balik bagi mereka.

Maka, seorang trainer perlu memiliki kompetensi:

  • Merancang learning journey bagi pesertanya
  • Metode scaffolding untuk merancang pelatihan yang bertahap
  • Kreativitas dalam merancang aktivitas pembelajaran
  • Kemampuan memfasilitasi 
  • Kemampuan memberikan umpan balik
  • dan serangkaian kompetensi lainnya

Jadi, kalau ada yang bilang modal bicara saja bisa jadi trainer, berarti mainnya kurang jauh. Apalagi kalau ada yang bilang trainer itu cuma jual ludah, sudah pasti dia nggak tahu seluk beluk dunia pelatihan sama sekali.

Oya, adakah di antara teman-teman sekalian yang tertarik untuk menjalani karier sebagai seorang trainer? Boleh tuliskan di kolom komentar apa yang membuat tertarik dan apa yang jadi hambatannya. Thank you.

Artikel ini hadir atas dukungan dari UTAS. Utas adalah ​platform bagi para trainer, coach, dan konsultan agar dapat menjual produk dan jasa dengan lebih cepat dan efisien. Kunjungi untuk mempelajari platform ini lebih lanjut. Lalu gunakan kupon AJIPEDIAXUTAS jika tertarik untuk menggunakan platform ini dengan harga diskon.

Join Newsletter

Dapatkan catatan hidup, pelajaran berharga, dan ide-ide sederhana yang bisa kamu bawa pulang setiap Sabtu pagi. Gratis.

Inner Circle Subscription

Leave a Reply

Scroll to Top