fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Ideasi: Bagaimana Memunculkan Ide-Ide Kreatif

1 min read

Tahap ideasi dalam design thinking adalah tahap saat anggota tim memunculkan ide-ide kreatif yang mungkin dapat menjadi solusi bagi masalah yang ada. Proses awalnya adalah dengan merumuskan HMW Question – pertanyaan “How Might We” – pertanyaan ini membuka kemungkinan-kemungkinan awal untuk memicu ide-ide kreatif lebih banyak. Untuk mudahnya, “How might we” kita terjemahkan bebas dengan “Kira-kira bagaimana kita bisa …” Ini adalah pertanyaan yang menjembatani antara tahap Define dengan tahap Develop. Antara tahap Define dengan Ideation.

Misalnya, kita memiliki pernyataan masalah (ingat bahasan POV sebelum ini) sebagai berikut:

Gadis belia perlu makanan bernutrisi agar mereka tumbuh secara sehat

HMW question yang mungkin muncul adalah:

  • Kira-kira bagaimana cara kita membuat makanan sehat menarik bagi gadis belia?
  • Kira-kira bagaimana cara menginspirasi gadis belia agar mereka mempertimbangkan untuk makan makanan sehat?
  • Kira-kira bagaimana cara kita membuat makanan sehat lebih terjangkau bagi para gadis belia?

Setelah HMW Question dirumuskan, barulah kita lakukan sesi ideasi. Proses untuk melakukan sesi ideasi itu sendiri ada banyak cara. Berikut saya akan bagikan beberapa cara yang memungkinkan.

Pertama, brainstorming.

Ini yang paling klasik. Saya sudah membahas tentang hal ini di beberapa artikel sebelumnya jadi saya tidak akan membahasnya lagi.

Kedua, braindumping.

Braindump ini mirip dengan brainstorming. Bedanya, brainstorming dilakukan bersama-sama dalam satu waktu oleh anggota tim. Sementara braindump dilakukan sendiran. Masing-masing anggota tim menuliskan idenya di post it atau di kertas flip chart, kemudian masing-masing mempresentasikannya di grup.

Ketiga, reverse brainstorming.

Brainstorming terbalik. Jika brainstorming bertujuan untuk mencari solusi, maka reverse brainstorming bertujuan cari masalah. Biasanya, kita menjadi lebih kreatif saat kita diminta mencari masalah atau membuat sebuah masalah menjadi lebih kompleks.

Proses reverse brainstorming dapat dibagi menjadi empat tahap.

Problem – di tahap ini, tim mendefinisikan masalah yang ingin dipecahkan (di sini POV ditetapkan).

Reverse – anggota tim membalik cara berpikirnya. Mereka diminta berpikir bagaimana cara membuat masalah semakin buruk.

Collect – anggota tim mulai mengumpulkan ide-ide yang dapat membuat masalah tersebut semakin memburuk.

Reverse – ide-ide yang dihasilkan dibalik dan diubah menjadi solusi untuk masalah.

Evaluate – anggota tim mengevaluasi berbagai ide solusi dan memilih mana solusi yang kira-kira dapat memecahkan masalah utamanya.

Keempat, sketchstorming.

Ridwan Kamil sering melakukannya. Sketchstorming adalah proses menghasilkan ide dengan cara membuat sketsa. Proses ini memungkinkan kita untuk memvisualisasikan ide-ide yang abstrak menjadi lebih kongkrit.

Kelima, gamestorming.

Proses mengumpulkan ide dengan menjadikannya sebagai sebuah permainan. Idenya adalah menciptakan gamifikasi pada proses pemecahan masalah. Sehingga peserta menjadi lebih bergairah dan terlibat dengan proses yang ada. Secara struktur, gamestorming terdiri dari tiga tahap:

Divergensi – menetapkan masalah dan mencari ide-ide yang memungkinkan untuk memecahkannya.

Emergensi – mengeksplorasi masing-masing ide, mencampurkan dan mensitesisnya.

Konvergensi – menyimpulkan ide mana yang akan ditindaklanjuti.

Tantangannya adalah bagaimana membuat tiga tahap ini menjadi sebuah permainan yang menantang.

Keenam, crowdstorming.

Memanfaatkan kerumunan untuk menghasilkan ide-ide baru. Misalnya dengan melemparkan isu/masalah/tantangan di media sosial. Bisa juga dengan melakukan survei konsumen. Atau membuat focus group discussion.

Ketujuh, bodystorming.

Bodystorming adalah teknik memunculkan ide dengan cara mengalami secara fisik situasi yang menjadi masalah. Misalnya, kita ingin menemukan solusi untuk masalah nyeri leher akibat mengetik di laptop terlalu lama. Maka, kita bisa melakukan simulasi duduk di depan laptop kemudian menulis. Bereksperimen posisi-posisi seperti apa saja kah yang mungkin akan menyebabkan sakit leher. Kemudian, menuliskan berbagai ide yang muncul saat kita melakukan simulasi tersebut.

Nah, ada banyak cara bukan? Mana cara yang cocok bagi Anda? Atau apakah Anda akan mengombinasikan cara-cara di atas dan menemukan cara khas Anda sendiri?

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Rapid Prototyping: Mengubah Ide Abstrak Menjadi Nyata

Salah satu kaidah penting dalam Design Thinking adalah “Fail fast to succeed sooner” atau “Gagal cepat agar sukses lebih cepat.” Maksudnya apa? Saat merancang...
Darmawan Aji
1 min read

Tiga Cara Menciptakan Inovasi Kreatif

Mengutip dari Tina Seelig, penulis buku Insight Out: Get Ideas Out of Your Head And Into the World. Ada tiga teknik yang dapat kita...
Darmawan Aji
1 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *