fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Rapid Prototyping: Mengubah Ide Abstrak Menjadi Nyata

1 min read

Salah satu kaidah penting dalam Design Thinking adalah “Fail fast to succeed sooner” atau “Gagal cepat agar sukses lebih cepat.” Maksudnya apa? Saat merancang sebuah produk, meskipun kita sudah melakukan riset yang cukup, kita tidak dapat memastikan bahwa produk kita akan diterima oleh pasar. Satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah dengan mengujinya di pasar. Namun, sebelum kita menguji versi akhir dari produk kita, ada baiknya kita meluncurkan versi prototipenya terlebih dulu ke kalangan terbatas. Tujuannya adalah agar kita mendapatkan umpan balik dari pengguna segera.

Prototipe adalah sebuah contoh atau model awal dari produk kita. Prototipe membuat ide yang abstrak menjadi bentuk nyata yang lebih kongkrit. Dalam design thinking, tidak cukup kita hanya memikirkan ide kita, tidak cukup hanya mendiskusikan dan membicarakan ide kita. Kita perlu membuatnya menjadi nyata. Membuat prototipe adalah caranya.

Tujuan membuat prototipe bukanlah untuk menguji produk yang sudah selesai, tujuan membuat prototipe adalah untuk belajar. Menemukan kesalahan dan kegagalan sebelum produk benar-benar diluncurkan ke pasar. Teresa Torres, seorang Product Coach, mendefinisikan tujuan pembuatan prototipe sebagai berikut:

“Prototipe simulates an experience, with the intent to answer a specific question, so that the creator can iterate and improve the experience.”

“Prototipe mensimulasikan sebuah pengalaman, dengan maksud untuk menjawab pertanyaan tertentu, sehingga pencipta produk dapat mengiterasi dan meningkatkan pengalaman (penggunaan produk tersebut).”

Setidaknya ada empat manfaat membuat prototipe.

  • Prototyping membantu kita berpikir. Melakukan adalah cara terbaik untuk berpikir. Membuat prototipe membuat kita lebih mudah memikirkan ide-ide untuk menyempurnakan produk Anda.
  • Prototyping membantu kita menjawab pertanyaan. Masih ingat bahasan desireability, feasibility dan viability? Membuat prototipe makan membantu kita untuk menjawab hal-hal ini.
  • Prototyping membantu kita berkomunikasi. Komunikasi terbaik adalah dengan menunjukkannya, bukan sekadar mengatakannya.
  • Prototyping membantu anda membuat keputusan yang lebih baik. Umpan balik yang kita dapatkan dari calon pengguna membuat kita mampu membuat keputusan yang lebih baik.

Metode yang direkomendasikan dalam merancang prototipe adalah Rapid Prototyping. Bagaimana proses melakukan Rapid Prototyping? John Krissilas di dalam blognya[1] mengutip dari Jeanne Liedtka membagikan lima prinsip berikut ini.

Mulai dari yang kecil dan sederhana

Sebuah proyek penciptaan akan tumbuh dengan adanya pembuatan prototipe secara berulang sejak sejak dini. Ini akan memberi ruang bagi Anda untuk mendapatkan ide-ide baru untuk menyempurnakan produk Anda. Ini juga akan memberi kesempatan calon pengguna untuk berkontribusi dan melengkapi produk Anda dengan masukan dari mereka.

Rancang kisah yang ingin Anda ceritakan

Visualisasikan konsep Anda dalam bentuk gambar. Gunakan kata sesedikit mungkin. Tambahkan detail seiring berjalannya waktu. Teknik storyboarding akan bermanfaat di sini.

Tunjukkan, jangan katakan

Buat prototipe-nya terlihat nyata dengan gambar mock up, model fisik, dan pengalaman nyata.

Visualisasikan beberapa opsi

Beri ruang bagi calon pengguna untuk memilih

Bermain-mainlah dengan prototipe Anda, jangan pertahankan mereka

Tujuan prototipe adalah untuk mendapatkan umpan balik. Jangan berdebat dan mempertahankan diri saat orang lain memberi masukan terhadap umpan balik Anda. Biarkan mereka mevalidasi produk Anda. Jangan berikan otoritas validasi ke orang yang menciptakannya.

Peluang lain dari pembuatan prototipe adalah melibatkan calon konsumen dalam proses desain produk kita. Istilah keren untuk hal ini adalah Customer Co-Creation. Dengan demikian mereka merasa memiliki produk ini. Mereka merasa menjadi bagian dari produk ini.

 

 

[1] http://www.planningnotepad.com/2012/02/design-thinking-series-3-rapid.html

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Ideasi: Bagaimana Memunculkan Ide-Ide Kreatif

Tahap ideasi dalam design thinking adalah tahap saat anggota tim memunculkan ide-ide kreatif yang mungkin dapat menjadi solusi bagi masalah yang ada. Proses awalnya...
Darmawan Aji
1 min read

Tiga Cara Menciptakan Inovasi Kreatif

Mengutip dari Tina Seelig, penulis buku Insight Out: Get Ideas Out of Your Head And Into the World. Ada tiga teknik yang dapat kita...
Darmawan Aji
1 min read