fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Design Thinking: Tiga Kriteria Inovasi Berkesinambungan

2 min read

Tujuan dari Design Thinking adalah menciptakan nilai melalui inovasi berkesinambungan. Tim Brown, CEO dari IDEO, mendeskripsikan Design Thinking sebagai berikut:

Design thinking can be described as a discipline that uses the designer’s sensibility and methods to match people’s needs with what is technologically feasible and what a viable business strategy can convert into customer value and market opportunity.

Design Thinking dapat dideskripsikan sebagai disiplin yang menggunakan sensibilitas dan metode yang digunakan oleh designer untuk mencocokkan kebutuhan orang dengan teknologi yang feasible dan strategi bisnis yang viable – dapat dikonversi menjadi nilai pelanggan dan peluang pasar.

Dari deskripsi Tim Brown, kita bisa melihat bahwa inovasi (produk atau layanan) akan berhasil bila memenuhi tiga kriteria:

  1. Desireablity – produknya benar-benar dibutuhkan dan diinginkan oleh orang-orang.
  2. Feasibility – kita mampu membuatnya dengan sumber daya yang ada.
  3. Viability – secara bisnis menguntungkan.

Ide yang tidak ditopang oleh salah satu kriteria di atas akan gagal di pasar. Anda tentu ingat kegagalan Tara Nasiku. Secara feasiblity membuat nasi instan memungkinkan. Teknologinya sudah ada. Namun, produk ini tidak memenuhi kriteria desireability. Siapa yang menginginkan nasi instan ketika beras melimpah dimana-mana? Ketika memasak nasi sangat mudah cukup dengan menyalakan rice cooker?

Sering kali, para ‘penemu’ terbutakan matanya ketika ia memiliki ide yang luar biasa (menurutnya). Ia menganggap idenya pasti akan berhasil dan meledak jika direalisasikan. Sayangnya, mereka tidak melakukan riset yang cukup. Mereka tidak berusaha melihat dari sudut pandang konsumen. Mereka hanya berpikir dari sudut pandang teknologi dan keahliannya. Ini akan jadi bumerang. Berapa banyak produk yang gagal di pasaran karena hanya menuruti ego dari penemu dan produsennya? Banyak.

Ok, jadi apa itu desireability, feasibility, dan viability itu? Mari kita bahas.

Desireability

Tujuan inovasi adalah menghasilkan sebuah sebuah solusi dari masalah yang ada. Hasil akhirnya adalah produk atau layanan yang benar-benar dibutuhkan dan diinginkan oleh pasar. Maka pertanyaannya adalah: masalah apa yang Anda pecahkan? Hasil akhir seperti apa yang akan terwujud setelah konsumen menggunakan produk/layanan Anda? Lihat dari kacamata calon pengguna produk Anda lalu tanyakan “apakah saya benar-benar membutuhkan produk ini?” Maka, ujuan dari desireability adalah apakah solusi yang Anda ciptakan memecahkan masalah yang tepat atau tidak.

Feasibility

Feasibility terkait dengan sumber daya. Sumber daya tersebut bisa berupa keahlian, teknologi, keuangan, jejaring atau lainnya. Perhatikan produk yang sedang Anda ciptakan. Apakah Anda mendayagunakan sumber daya Anda secara optimal? Atau Anda justru terlalu banyak membutuhkan sumber daya dari luar diri (baca: organisasi) Anda? Apakah Anda ‘berhutang’ di luar kemampuan Anda untuk menciptakan produk tersebut? Atau Anda memulai dengan ‘uang’ yang ada? Produk Anda dikatakan feasible bila 80% dari sumber daya yang dibutuhkan bersumber dari diri Anda. Meluncurkan produk yang tidak feasible akan sangat berisiko bagi diri Anda. Ingat, innovator dan pebisnis bukanlah risk-taker, mereka adalah risk-manager. Inovasi yang feasible adalah inovasi yang memperkuat diri, perusahaan, dan organisasi Anda dengan memanfaatkan sumber daya yang ada seoptimal mungkin. Jika inovasi yang ada justru melemahkan Anda, itu artinya inovasi Anda tidaklah feasible – tidak layak untuk dijalankan.

Viability

Kriteria terakhir adalah viability – apakah ide Anda mendukung kesinambungan bisnis dalam jangka panjang? Viability tidak hanya berbicara tentang potensi profit. Viability terkait dengan kesinambungan bisnis. Apakah dengan adanya inovasi ini bisnis Anda akan sustain atau tidak. Atau Anda hanya akan meraup keuntungan jangka pendek namun mencederai bisnis Anda dalam jangka panjang?

Desireability, feasibility dan viability inilah tiga kriteria yang perlu kita pertimbangkan dalam setiap inovasi. Tentu saja, kita tidak dapat menciptakan sebuah solusi (produk/layanan) yang memenuhi tiga kriteria ini dalam sekali proses. Inilah sebabnya, kawan setia dari para innovator adalah iterasi tiga aktivitas: build, measure, learn. Lakukan iterasi, berulang kali, sampai kita menemukan produk yang benar-benar desireble, feasible, dan viable.

Menariknya, tiga kriteria ini tidak hanya bisa ditetapkan dalam bisnis. Kita pun dapat menerapkannya dalam menyeleksi berbagai peluang, ide, bahkan penawaran karier yang datang kepada kita. Menarik bukan?

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Rapid Prototyping: Mengubah Ide Abstrak Menjadi Nyata

Salah satu kaidah penting dalam Design Thinking adalah “Fail fast to succeed sooner” atau “Gagal cepat agar sukses lebih cepat.” Maksudnya apa? Saat merancang...
Darmawan Aji
1 min read

Ideasi: Bagaimana Memunculkan Ide-Ide Kreatif

Tahap ideasi dalam design thinking adalah tahap saat anggota tim memunculkan ide-ide kreatif yang mungkin dapat menjadi solusi bagi masalah yang ada. Proses awalnya...
Darmawan Aji
1 min read