fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Design Thinking: Proses Berpikir Divergen dan Konvergen

1 min read

Design Thinking adalah sebuah cara berpikir saat kita mendesain sesuatu untuk mencapai tujuan tertentu. Donald Norman, pelopor dari User Experience Design[1] mengatakan dengan baik:

“Desainer tidak mencari solusi sampai mereka menentukan masalah sebenarnya, dan bahkan setelahnya, alih-alih langsung menyelesaikan masalah itu, mereka mencari terlebih dulu sebanyak-banyaknya solusi potensial. Baru setelah itu mereka menyimpulkan solusi mereka. Proses ini disebut Design Thinking.”

Dari sini kita dapat memetakan empat elemen Design Thinking menurut deskripsi Norman:

  1. Menentukan masalah yang sebenarnya.
  2. Mencari solusi.
  3. Mempertimbangkan banyak opsi.
  4. Mengerucutkan solusi.

Perhatikan prosesnya. Solusi kreatif tidak pernah hadir dari ide yang pertama kali muncul. Ide pertama hanyalah pintu masuk menuju ide-ide lain yang lebih baik. Desain adalah tentang mengajukan pertanyaan yang lebih baik, melakukan pertimbangan secara menyeluruh dan mencari ide-ide solusi sebanyak-banyaknya terlebih dulu.

Design Thinking adalah berpikir divergen dan konvergen secara berulang. Divergen artinya menyebar, mencoba menghasilkan banyak ide. Konvergen artinya mengerucut, menyimpulkan dan menetapkan ide terbaik dari sekian banyak ide. Proses berpikir divergen ini sering kita istilahkan dengan Brainstorming.

Tentu saja, cara terbaik melakukan Brainstorming adalah dengan mengikuti saran dari pakarnya, Alex Osborn. Menurut Osborn, ada empat ‘aturan’ yang perlu diperhatikan untuk menghasilkan ide dan opsi solusi kreatif.

Pertama, fokus pada kuantitas. Biarkan pikiran kita menyebar bebas menghasilkan banyak ide. Jangan pikirkan kualitas saat kita menngeluarkan ide-ide. Fokuslah pada kuantitas. Kuantitas mengantarkan kita pada kualitas.

Kedua, tahan penilaian dan kritik. Dalam brainstorming, setiap ide yag dihasilkan ‘harus’ diparkir. Tidak perlu dinilai, dilabeli, atau dikritik. Ingat, fokusnya adalah menghasilkan ide sebanyak-banyaknya, bukan sebaik-baiknya. Gunakan ide-ide yang muncul untuk menstimulasi ide-ide baru lainnya. Dengan menunda kritik, kita (dan peserta brainstorming) akan merasa aman untuk menghasilkan ide-ide kreatif yang tidak biasa.

Ketiga, buka pintu untuk ide-ide liar. Untuk mendapatkan daftar ide yang panjang dan banyak, biarkan ide liar masuk. Ide liar dapat dihasilkan dengan melihat dari sudut pandang baru dan menunda asumsi. Proses ini akan mengantarkan Anda ke solusi yang lebih baik.

Keempat, kombinasikan dan pertajam ide-ide yang ada. Ide terbaik biasanya merupakan sintesis dari beberapa ide yang ada. Dalam berpikir kreatif, 1+1=3.

Empat aturan ini diterapkan dengan tujuan:

  • Mengurangi hambatan berpikir
  • Menstimulasi proses penghasilan ide
  • Meningkatkan level kreativitas kelompok

Setelah proses berpikir divergen selesai, barulah proses berpikir konvergen dilakukan. Dimulai dengan mengeksplorasi masing-masing ide. Kemudian mempertimbangkan dampak dan kemungkinannya. Barulah memutuskan ide mana yang akan diambil. Prosesnya dapat digambarkan seperti sebuah berlian (diamond). Dalam Design Thinking, kita mengulangi proses ini beberapa kali. The British Design Council menggambarkan proses divergensi dan konvergensi ini dalam model ‘Double Diamond.’

 

Model ini tercipta pada tahun 2008 sebagai bagian dari sebuah studi global bagaimana 11 perusahaan terdepan menerapkan praktik desain di dalamnya. Dalam artikel berikutnya, insyaallah kita akan bedah model Double Diamond ini secara lebih mendetail.

 

 

[1] Donald Norman adalah orang di balik keberhasilan Apple dalam mendesain produk-produknya.

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Rapid Prototyping: Mengubah Ide Abstrak Menjadi Nyata

Salah satu kaidah penting dalam Design Thinking adalah “Fail fast to succeed sooner” atau “Gagal cepat agar sukses lebih cepat.” Maksudnya apa? Saat merancang...
Darmawan Aji
1 min read

Ideasi: Bagaimana Memunculkan Ide-Ide Kreatif

Tahap ideasi dalam design thinking adalah tahap saat anggota tim memunculkan ide-ide kreatif yang mungkin dapat menjadi solusi bagi masalah yang ada. Proses awalnya...
Darmawan Aji
1 min read