fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Emphaty Map: Proses untuk Memahami Kebutuhan Calon User

1 min read

Pengguna (users; konsumen) cenderung membeli produk yang memenuhi kebutuhan mereka. Emphaty Map alias Peta Empati adalah salah satu alat bantu yang dapat kita gunakan untuk memahami kebutuhan dari calon pengguna kita. Sebelum menggunakannya, tentu saja kita perlu melakukan beberapa riset, observasi dan interview untuk mendapatkan data dan insight awal.

Peta Empati membuat kita mampu menyatukan seluruh data dan insight awal yang kita dapatkan. Hasil dari pemetaan empati ini akan menjadi sumber yang berharga pada saat nanti kita membuat user persona[1].

Peta Empati terdiri dari lima area yang mewakili elemen komunikasi calon pengguna:

  • Apa yang mereka pikirkan.
  • Apa yang mereka rasakan.
  • Apa yang mereka dengar.
  • Apa yang mereka ucapkan.
  • Apa yang mereka lakukan.

Menentukan apa yang calon pengguna ucapkan dan lakukan adalah mudah. Dari observasi dan interview kita akan mendapatkan datanya. Namun, untuk menentukan apa yang mereka pikirkan dan rasakan memerlukan analisis yang lebih mendalam.

Oke, bagaimana proses menggunakan Peta Empati untuk menemukan kebutuhan calon pengguna? Kita bisa ikuti tiga langkah berikut ini.

Langkah Pertama: tentukan profil calon pengguna.

Kumpulkan tim Anda. Minta mereka membawa dan mengumpulkan semua catatan, gambar, rekaman dan segala data yang didapatkan selama proses riset/obervasi/interview. Tentukan profil yang mewakili calon pengguna. Beri nama dan profesi/jabatan mereka.

Langkah Kedua: isi Peta Empati.

Cetak blanko Peta Empati dalam ukuran besar (A1 atau A0 misalnya). Berikan setiap anggota tim memegang Post It dan spidol. Pastikan setiap orang menuliskan pemikiran mereka di Post It tersebut. Ajukan pertanyaan sebagai berikut:

Apa yang mereka katakan? Tuliskan kata kunci dan kutipan yang pengguna katakan.

Apa yang mereka lakukan? Deskripsikan tindakan dan perilaku yang berhasil kita amati. Boleh juga sisipkan gambar atau foto yang kita dapatkan.

Apa yang teman, rekan atau bos mereka mungkin katakan saat mereka mengalami masalah? Apa yang mungkin pengguna dengar dari mereka?

Apa yang mereka pikirkan? Gali lebih dalam. Apa yang mungkin mereka pikirkan? Apa ketakutan mereka? Apa harapan mereka? Apa motivasi mereka? Apa tujuan mereka? Apa keinginan mereka? Apa yang mereka katakan terkait keyakinan mereka?

Apa yang mereka rasakan? Emosi apa yang mereka rasakan? Amati tanda-tanda terkait emosi seperti ekspresi muka, bahasa tubuh, nada suara, dan pilihan kata mereka.

Apa yang mereka lihat terkait masalah mereka?

Langkah Tiga: simpulkan kebutuhan mereka.

Simpulkan kebutuhan mereka berdasarkan Peta Empati yang kita buat. Kebutuhan biasanya berbentuk kata kerja, berupa aktivitas atau keinginan. Bukan kata benda.

Kebutuhan biasanya berupa kesenjangan antara apa yang pengguna katakan dengan pengguna lakukan. Hierarki Kebutuhan-ny Abraham Maslow dapat kita jadikan acuan awal untuk memahami dan mendefinisikan kebutuhan calon pengguna.

Biarkan setiap anggota tim menyumbangkan idenya. Tempelkan Post It di blanko Peta Empati tersebut. Ajukan pertanyaan-pertanyaan lanjutan untuk mendapatkan insight yang lebih dalam. Untuk membuatnya lebih hidup, Anda juga bisa membuat sketsa karakter calon pengguna di tengah Peta Empati tersebut.

 

Sumber gambar: Pinterest

[1] Disebut juga dengan istilah Buyer Persona. Profil calon pengguna ideal yang digunakan sebagai acuan dalam merancang pesan pemasaran

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Rapid Prototyping: Mengubah Ide Abstrak Menjadi Nyata

Salah satu kaidah penting dalam Design Thinking adalah “Fail fast to succeed sooner” atau “Gagal cepat agar sukses lebih cepat.” Maksudnya apa? Saat merancang...
Darmawan Aji
1 min read

Ideasi: Bagaimana Memunculkan Ide-Ide Kreatif

Tahap ideasi dalam design thinking adalah tahap saat anggota tim memunculkan ide-ide kreatif yang mungkin dapat menjadi solusi bagi masalah yang ada. Proses awalnya...
Darmawan Aji
1 min read