fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Definisi Coaching: Apa itu Coaching?

1 min read

Bila melihat kamus, kita bisa melihat definisi coaching sebagai berikut:

“Melatih, mengajar, menginstruksikan, memberikan saran kepada tim atau seseorang untuk mencapai tujuan tertentu.”

Yup, memang seperti itulah definisi coaching secara bahasa, sangat global. Definisi yang global seperti ini tentu saja membuat kita sebagai orang awam sulit membedakan apa perbedaan antara seorang coach dengan seorang instruktur. Antara coach dengan guru, coach dengan trainer, coach dengan mentor, atau coach dengan konsultan. Inilah pentingnya kita merujuk ke sejarah awal mula coaching di atas bumi ini.

apa-itu-coaching

Adalah Tim Gallwey, seorang tennis coach yang pertama kali secara definitif membedakan coaching dengan metode lainnya (training, teaching, mentoring dll). Awal mulanya dia penasaran, mengapa seorang atlit pro bisa bermain baik di lapangan di satu waktu, namun bermain sangat buruk di waktu lainnya. Sampai akhirnya dia menemukan, permainan di lapangan (baca: perilaku dan performance atlit) adalah cerminan dari permainan di dalam diri mereka (inner game: pikiran, perasaan, dan mood-nya). Bila seorang atlit mampu mengelola inner game-nya maka ia akan bermain dengan performa puncak.

Sebaliknya, bila ia gagal mengelola inner game-nya maka performanya akan jauh dari potensi sebenarnya. Artinya apa? Di pertandingan level dunia, keahlian permainan luar (skill tennis) hanyalah pintu masuk. Penentu kemenangan adalah permainan dalam, inner game-nya. Hambatan terbesar ada di dalam diri mereka, bukan di luarnya.

Di level atlit pro, semua teknik dari basic sampai advanced sudah pasti dikuasai oleh para pemainnya. Maka, fungsi seorang coach yang mendampingi pemain di level tersebut bukanlah mengajarkan atau menambahkan teknik baru. Tugas seorang coach adalah memastikan sang atlit mampu mengeluarkan seluruh kemampuannya saat berada di lapangan. Tak heran bila Gallwey kemudian menjelaskan:

“Coaching is unlocking a person’s potential to maximize their own performance, it is helping them to learn rather than teaching them”

Terjemahan bebasnya kurang lebih:

“Coaching adalah membebaskan potensi seseorang untuk memaksimalkan performanya, membantu mereka untuk belajar alih-alih mengajari mereka”

Jadi seorang coach yang efektif tidak mengajarkan atau menginstruksikan sesuatu, tidak juga memberikan saran atau solusi bagi coachee-nya (coachee = orang yang dicoaching). Namun mereka tetap mampu membantu coachee-nya untuk belajar dan bertumbuh. Bagaimana caranya? Yaitu dengan mengajukan pertanyaan. Tentu saja bukan sembarang pertanyaan. Namun pertanyaan-pertanyaan yang dapat memicu kesadaran diri dan memprovokasi tindakan kreatif. Ini bukan hal baru. Berabad-abad yang lalu Socrates sudah memulainya. Namun sayang, metode Socrates ini lambat laun terlupakan. Kita lebih suka menyuapi dan disuapi pelajaran, kita lebih suka diberitahu dan memberitahu tentang apa yang perlu dilakukan. Sampai kemudian Gallwey mengingatkan kembali kepada kita kekuatan pertanyaan. Satu pertanyaan yang powerful lebih baik dari sepuluh jawaban bukan? Lalu, bagaimana persisnya yang powerful itu? Insyaallah kita lanjutkan di artikel-artikel berikutnya.

“It is not the answer that enlightens, but the question.” – Eugene Ionesco

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.