fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

4 Kesalahan dalam Goal Setting

1 min read

Dalam membuat perencanaan hidup (Life Plan), kita pasti dihadapkan pada proses penetapan tujuan (goal setting). Terkait hal ini, ada beberapa kesalahan umum yang biasanya dilakukan oleh seseorang saat menetapkan tujuan. Kesalahan-kesalahan ini kontraproduktif terhadap pencapaian tujuan. Apa saja kesalahan-kesalahan itu? Mari kita bahas satu per satu agar kita terhindar darinya.

4-kesalahan-dalam-goal-setting

Kesalahan Pertama: Terlalu Besar.

Saking semangatnya, biasanya seseorang menetapkan tujuan yang terlalu besar. Tujuan yang terlalu besar juga biasanya terjadi pada mereka yang erlalu pede dengan dirinya sendiri. Kata teman saya, percaya diri boleh, namun tahu diri itu wajib. Bila tujuan terlalu besar, sementara kapasitas kita belum memadai, maka potensi tercapainya juga lebih kecil. Tidak tercapainya tujuan tersebut memunculkan dampak demotivasi – menurunnya motivasi.

Lebih baik, tetapkanlah tujuan yang kecil, realistis, namun tetap menantang untuk dikejar/dilakukan. Karena terlalu kecil pun tid ak baik, tidak menyemangati kita. Atau, jika tujuan Anda memang besar, coba mainkan di batas waktunya, perpanjang batas waktunya. Lalu, pecah tujuan besar itu menjadi tujuan-tujuan yang lebih kecil dalam jangka waktu yang lebih pendek.

Bagaimana cara menentukan apakah tujuan tersebut terlalu besar atau tidak? Tidak ada metode yang pasti. Kita mengandalkan feeling kita dalam hal ini. Coba baca tujuan Anda, kemudian rasakan, apakah Anda tertantang untuk mencapainya atau justru sebaliknya?

Kesalahan Kedua, Terlalu Banyak.

Di dalam ilmu ekonomi, kita mengenal Law of Diminishing Return (Hukum Berkurangnya Hasil). Bunyinya kurang lebih: ada momen saat input ditambah, hasil yang tercipta justru semakin berkurang. Terkait dengan goal setting, semakin banyak tujuan yang hendak kita capai, semakin sedikit tujuan yang tercapai dengan baik. Dalam buku 4 Discipline of Execution bahkan disebutkan bila:

  • Kita memiliki 2-3 tujuan dalam jangka waktu yang sama, maka kemungkinan tujuan yang tercapai dengan baik adalah 2-3 tujuan;
  • Kita memiliki 4-10 tujuan dalam jangka waktu yang sama, maka kemungkinan tujuan yang tercapai dengan baik hanya 1-2 tujuan;
  • Kita memiliki >11 tujuan dalam jangka waktu yang sama, maka kemungkinan tidak ada satu tujuan pun yang tercapai dengan baik.

Jadi, jangan terlalu bersemangat dengan menuliskan terlalu banyak tujuan sekaligus. Jika memang Anda memiliki banyak tujuan, simpan di Bucket List (atau Someday List) Anda. Pilih 2-3 tujuan saja terlebih dulu. Buat rencana dan lakukan tindakan untuk mencapainya.

Kesalahan Ketiga: Tidak Spesifik.

Tujuan yang terlalu umum adalah pangkal tiadanya tindakan. Tujuan yang spesifik membantu menciptakan tindakan. Tujuan yang berbunyi “Saya akan lebih banyak berolahraga tahun ini” adalah resep untuk gagal yang sudah terbukti. Sementara tujuan yang berbunyi “Saya akan melakukan jogging setiap hari Sabtu pagi selama 30 menit di lapangan sebelah rumah” adalah resep untuk sukses. Semakin spesifik tujuan Anda, semakin mudah mencapainya.

Kesalahan Keempat: Tidak Tertulis.

Tujuan tidak cukup hanya diingat di kepala kita. Kita perlu menuliskannya. Riset dari DR. Gail Matthew membuktikannya. Kesempatan tercapainya tujuan naik 42% saat kita menuliskannya. Maka, jangan Andalkan otak dan pikiran Anda untuk mencatat tujuan. Andalkanlah kertas dan pena. Dalam konteks goal setting, kertas dan pena jauh lebih berharga daripada otak dan pikiran Anda.

 

Hindari keempat kesalahan ini, dan Anda akan lebih mudah mencapai tujuan Anda.

NB: Btw, setiap akhir tahun saya membuka kursus online terkait perencanaan hidup. Cek infonya di sini.

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.