fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Tanya Kenapa: Pertanyaan Menentukan Jawaban

1 min read

Sering kali yang kita perlukan dalam hidup ini adalah sebuah pertanyaan bukan sebuah saran. Pertanyaan membuat kita berpikir, merenung, dan berusaha mencari jawaban ke dalam diri. Pertanyaan mampu mendorong pemikiran dan perasaan, sehingga pada akhirnya mendorong tindakan. Pertanyaan itu mengubah.

Namun, tidak semua pertanyaan diciptakan sama. Ada pertanyaan yang memberdayakan, ada yang memperdayakan. Ada yang menguatkan, ada yang melemahkan. Ada yang membebaskan, ada yang memojokkan. Ada yang meninggikan, ada yang merendahkan. Ada yang memunculkan semangat, ada yang memunculkan penyesalan. Ada yang menumbuhkan optimisme, ada yang justru menumbuhkan pesimisme.

Pertanyaan yang mengarah ke belakang dan berorientasi pada masa lalu sering kali tidak mengubah apapun. Pertanyaan yang hanya berfokus pada masalah dan penyebabnya pun sama. Apa yang muncul adalah alasan dan pembenaran mengapa masalah itu ada. Ini tidak mengubah apapun. Bahkan, bisa jadi pertanyaan seperti ini hanya akan mengembalikan seseorang ke masa lalunya lagi.

Misalnya, kita memiliki kawan yang ingin membaca buku secara teratur, namun setiap kali ia membuka buku yang muncul adalah rasa malas. Lalu kita bertanya: “Kenapa kamu merasa malas saat membuka buku?” – ini adalah pertanyaan yang mengarahkan seseorang ke masa lalu. Pertanyaan yang memunculkan alasan di balik kemalasannya. Setelah seseorang menemukan alasan tersebut, apakah ia akan dapat menghilangkan rasa malasnya? Sering kali tidak. Justru ia akan mendapat pembenaran terhadap rasa malasnya. Loh, tapi yang kita lakukan kan menganalisis akar masalah. Bukankah di dalam konsep problem solving, masalah tidak akan dapat diselesaikan bila tidak ditemukan akarnya? Yes. Konsep ini benar jika terkait hal prosedural atau teknikal. Bukan terkait perilaku atau perasaan.

Lalu, kita perlu bagaimana? Ajukan pertanyaan yang membawa seseorang ke masa depan. Pertanyaan yang memicu alasan untuk seseorang mau melakukan perilaku yang ia inginkan. Fokus pada pertanyaan yang berfokus pada solusi. Ini akan jauh lebih membantu.

Misalnya untuk situasi malas membaca buku di atas. Kita bisa mengajukan pertanyaan sebagai berikut:

“Mengapa kamu ingin membaca buku secara teratur?”

“Apa manfaatnya bila kamu membaca buku secara teratur?”

“Seandainya kamu membaca buku secara teratur, apa perbedaan yang mungkin terjadi dalam hidupmu, setahun, dua tahun, lima tahun dan sepuluh tahun ke depan?”

“Apa langkah pertama yang paling mudah dan paling sederhana untuk mulai membaca buku secara teratur?”

“Seandainya saat tidur nanti malam ada angin dari timur yang menyapu rasa malasmu, kemudian besok pagi kamu bangun, apa perubahan kecil yang menandakan bahwa rasa malasmu mulai menghilang sedikit demi sedikit?”

Pertanyaan menentukan jawaban. Ada ide pertanyaan lainnya? Silakan share di kolom komentar.

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.