fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Slow Down: Seni Menikmati Hidup

1 min read

“Slowing down is sometimes the best way to speed up” – Mike Vance

Hari ini kita hidup di dunia yang serba cepat. Kita dituntut cepat mengerjakan segala sesuatu. Kita pun ingin cepat mencapai segala sesuatu. Kita ingin cepat sukses, cepat kaya, cepat pintar. Tak heran kemudian muncul berbagai teknik untuk meningkatkan kecepatan: bagaimana membaca cepat, bagaimana menghasilkan uang dengan cepat, bagaimana mengubah hidup dengan cepat – seakan-akan kecepatan adalah segalanya.

Keinginan untuk serba cepat ini membuat kita tergesa-gesa dalam melakukan sesuatu. Kita pun tergoda untuk multi-tasking, melakukan banyak hal sekaligus dalam satu waktu. Kita semakin sibuk, namun tidak menghasilkan apa-apa.

Dampak dari hal ini ada tiga:

Pertama, kita semakin lama mencapai apa yang kita inginkan. Kita bangun bisnis dengan cepat, namun lupa membangun pondasinya. Buka cabang dimana-mana, lalu dalam beberapa bulan runtuh semua. Kecepatan adalah musuh bisnis, fokuslah pada growth bukan speed, demikian nasihat guru saya.

Kedua, kualitas hasil kerja menurun. Kita menghasilkan banyak karya, namun karya-karya yang dangkal. Kita menciptakan banyak produk, namun produk-produk yang berkualitas rendah. Kita mengejar kuantitas, namun kualitas menurun. Bekerja dengan tenang perlahan artinya bekerja dengan fokus, berkualitas, dan memberi perhatian terhadap detail serta stress minimal. Perancis memiliki 35 jam kerja per pekan namun mereka lebih produktif dari Amerika maupun Inggris (40-48 jam). Jerman menurukan jam kerja mereka menjadi 28.8 jam per pekan namun produktivitas mereka justru naik 20%

Ketiga, kita tidak menikmati apa yang kita lakukan. Begitu cepatnya kita menjalani hidup sampai kita lupa untuk menikmati perjalanannya. Begitu ingin cepatnya kita menjalani hidup sampai kita tidak menyadari semua keindahan yang berlalu di hadapan kita. Padahal mana yang lebih penting:

  • Membaca cepat atau tenggelam menyerap apa yang kita baca?
  • Melakukan 5 hal sekaligus atau fokus pada 1 hal terpenting?
  • Bercengkerama dengan pasangan dan anak-anak sambil melayani chat WA atau hadir utuh penuh di hadapan mereka?
  • Menjejalkan makanan ke mulut kita dan cepat-cepat menelannya atau mengunyah perlahan-lahan dan menikmati setiap gigitannya?

Ada sebuah gerakan di Eropa yang dinamakan dengan Slow Food, mereka mempromosikan orang-orang untuk makan dan minum secara perlahan, menikmati rasa dari setiap gigitannya, meluangkan waktu dengan keluarga dan teman-teman tanpa tergesa-gesa. Secara spirit, Slow Food adalah lawan dari Fast Food – entah dari jenis makanannya maupun dari gaya hidupnya.

Hidup akan begitu nikmat bila kita melambatkan diri, menikmati setiap momen secara sadar penuh. Menjalaninya dengan kesadaran, hidup dari momen ke momen dengan sadar seutuhnya.

“Ketenangan ‘tidak tergesa-gesa’ adalah dari Allah, sedangkan ketergesa-gesaan adalah dari syaithan.” ~Al Hadits

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

One Reply to “Slow Down: Seni Menikmati Hidup”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *