Ilmu tentang mengelola dan memotivasi orang sudah berevolusi beberapa kali. Sama seperti sains lainnya, ilmu ini berkembang. Sayangnya, praktik di dunia bisnis seringkali tidak selaras dengan perkembangan di dunia sains. Praktik bisnis masih menggunakan motivasi versi 2.0 (fokus pada motivasi ekstrinsik, ialah dengan pendekatan reward-punishment) sementara sains sudah bergeser ke motivasi 3.0 (berfokus pada motivasi intrinsik).
Bertahun-tahun mendampingi para entrepreneur, business leader, manager melalui sesi coaching membuat saya menyadari fenomena berikut ini: sangat sedikit manager yang dibekali keterampilan managerial berdasarkan praktik terbaik dan riset terbaru. Sebagian besar dari mereka hanya dibekali keterampilan managerial lawas yang sudah kadaluarsa.
Ya, tidak semua yang berasal dari masa lalu itu buruk dan tidak efektif. Karena bagaimanapun psikologi manusia tetaplah sama. Namun, ada beberapa hal fundamental yang perlu diperbaharui secara fundamental sebagai acuan berpikir manager di masa kini. Saya akan bahas secara ringkas tiga hal fundamental saja:
Pertama, pendekatan reward-punishment hanya efektif untuk tugas-tugas sederhana yang bersifat mekanis dan rutin.
Tugas sederhana misalnya: melipat kertas, memotong kain, mengangkat batu bata, dsb. Pendekatan reward/punishment tidak bisa digunakan untuk memotivasi orang melakukan tugas-tugas kompleks. Misalnya: berpikir, memecahkan masalah, mencipta (kreativitas & inovasi). Tugas kompleks hanya bisa dimotivasi dengan motivasi intrinsik. Menurut peneliti Edward Deci, jika lingkungan berfokus pada reward/punishment jangka pendek maka motivasi intrinsik jangka panjang akan tercederai. Tim akan kehilangan motivasi jangka panjang bila terlalu fokus pada motivasi jangka pendek. Bocoran: sangat jarang orang keluar dari pekerjaan karena faktor gaji — sebagian besar orang keluar dari pekerjaan karena merasa tidak diperhatikan atau merasa pekerjaannya tidak menantang/bermakna.
Kedua, motivasi 2.0 membutuhkan kepatuhan (compliance), motivasi 3.0 membutuhkan keterlibatan (engagement).
Inilah sebabnya pada motivasi 2.0 metode command & control (perintah & kendali) menjadi efektif. Metode ini menciptakan kepatuhan. Namun, di era motivasi 3.0, command & control menjadi tidak efektif. Karyawan tidak suka diperintah dan dikendalikan (bayangkan generasi milenial atau gen Z). Mereka membutuhkan otonomi untuk berkreasi.
Ketiga, kultur yang perlu dibangun adalah kultur self-motivation.
Jim Collins, penulis buku Good to Great mengatakan “Mempimpin dengan pertanyaan, bukan jawaban. Melibatkan tim dengan dialog, bukan dengan paksaan.” Orang yang tepat akan termotivasi sendiri. Kuncinya bukan memotivasi mereka, namun berkomunikasi dengan cara yang tidak mendemotivasi mereka.
Semua fenomena ini membuat saya berpikir, membaca ulang, mengkaji percakapan dan kasus dengan berbagai klien. Bagaimana merangkum semua praktik terbaik dan riset terbaru ini dalam sebuah model yang sederhana dan dapat segera diterapkan?
Oya, sebagai gambaran awal bagi pembaca yang baru berkunjung di sini, sejak 2013 saya menangani berbagai klien untuk membantu mereka meningkatkan kinerja tim dan organisasinya. Mulai dari klien dengan omset ratusan juta sampai trilyunan per tahunnya. Selama hampir sepuluh tahun ini saya memberikan advis kepada para manager, owner, dan business leader. Mencarikan solusi terbaik bagi mereka agar kinerja organisasinya meningkat dan sistem yang diharapkan berjalan. Pekerjaan ini menuntut saya untuk menganalisis situasi klien, membaca berbagai referensi dan riset terbaru, dan mempelajari praktik terbaik. Kemudian mensintesisnya menjadi sebuah advis yang bisa diterapkan oleh mereka.
Selama ini, saya menggunakan berbagai model yang ada di luaran sana sebagai solusi. Namun, semua solusi ini seperti kepingan yang terpisah namun saling beririsan. Mungkinkah saya merangkum semua menjadi sebuah rangkaian puzzle yang bermakna?
Cukup lama saya merenungkan hal ini. Dan akhirnya, saya pun membuat sebuah model sederhana yang saya namakan Valuable Manager Model. Ya, saya berfokus pada kompetensi seorang manajer. Karena, manajer lah yang menjadi kunci kesuksesan organisasi. Organisasi hancur karena manajer tidak menjalankan perannya. Dan siapapun kita, selama kita punya tim, kita adalah manager. Posisi kita bisa saja owner atau supervisor, namun selama ada tim di bawah kita — kita perlu keterampilan menjadi manajer yang bernilai.
Modelnya sebagai berikut:

Ada empat kompetensi yang perlu dikuasai seorang manager agar ia menjadi manager yang bernilai di era motivasi 3.0:
- Personal Productivity: kemampuan menjadi pribadi yang produktif dan bernilai di pekerjaan, mencapai target pribadi dan menghasilkan output sesuai ekspektasi, mampu mengelola waktu serta fokus dengan efektif.
- Operational Excellence: menciptakan tim yang produktif yang mampu menjalankan operasional organisasi, membangun kinerja tim secara efektif, membangun engagement dengan tim.
- Strategic Excellence: mencapai tujuan-tujuan strategis organisasi, menetapkan goal pribadi/tim/organisasi yang menginspirasi, membangun ritme tim dalam mencapai target-target yang ambisius.
- Catalytic Habit: Melakukan percakapan coaching yang tidak mengancam, menciptakan tim yang proaktif dalam mencapai target, menyeimbangkan antara meaning & performance dalam tim.
Untuk membantu manager mampu membangun kemampuan di atas, saya pun merancang empat macam pelatihan yang terpisah namun saling terkait.
- Productivity Matrix — bertujuan melatih produktivitas pribadi seorang manager/entrepreneur.
- Performance Grid — bertujuan membekali manager dengan 6 elemen yang perlu dikelola untuk menghasilkan kinerja dan keterlibatan tim.
- Objective & Key Results — bertujuan membekali manager dengan metode OKR untuk mencapai target-target ambisius dari organisasi.
- Conversation Agility — bertujuan melatih manager keterampilan “ngobrol” dengan tim sehingga dapat menciptakan tim yang proaktif dan dapat mengelola dirinya sendiri.

Keempat pelatihan ini insyaallah akan dipayungi dalam satu lembaga rintisan saya yang saya namakan Valuepreneur dengan tagline “We create impact.” Misi kami adalah membantu entrepreneur meningkatkan produktivitas yang berkesinambungan dan bermakna sehingga mereka mampu membangun perusahaan hebat yang berdampak besar bagi sesama.

Mohon do’a dan restunya, insyaallah per 1 April nanti Valuepreneur akan beroperasi secara penuh.
PS. Oya, meskipun baru beroperasi secara penuh di 1 April, bulan ini kami sudah mulai mengadakan pelatihan online. Info pelatihan terdekat dapat ditanyakan ke mas Danang di
PSS. Ada harga pra launching bagi teman-teman yang mengikuti program Valuepreneur sebelum Valuepreneur beroperasi secara penuh.

