fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Latte Factor: The Power of Receh

2 min read

“Kenapa cicak suka mutusin ekornya tiba-tiba sih? Padahal kan bisa dibicarain baik-baik dulu.”

Pernah dengar humor semacam ini? Anak gaul mengistilahkan humor semacam ini sebagai humor receh. Dalam bahasa gaul, receh menggambarkan suatu hal yang sepele, murahan, atau tidak berkualitas. Bisa juga dimaknai dengan selera humor yang rendah. Dalam makna aslinya, receh digunakan untuk menyebutkan uang pecahan kecil. Sama seperti humor receh, uang receh juga dianggap remeh, tidak berharga.

Padahal, uang receh memiliki kekuatan yang besar di baliknya. David Bach, melalui bukunya yang berjudul The Latte Factor menyadarkan saya akan hal ini. Dia menjelaskan bagaimana uang yang dianggap receh sebenarnya nilainya bisa besar bila diakumulasi dalam jangka waktu panjang.

Kita menganggap enteng pengeluaran yang bersifat receh. Mulai dari uang parkir, uang kembalian yang tidak dikembalikan oleh Ind*mart atau Alf*mart (baca: dialihkan ke sumbangan), jajan via G*food atau Gr*bfood, dan pengeluaran receh lainnya. Toh hanya receh, hanya beberapa ribu rupiah saja. Rasanya nggak bakal bikin kita miskin.

Kita menganggap ini sepele. Padahal, kapal tenggelam bukan karena bocor besar tetapi karena bocor kecil yang tidak disadari. Pemborosan uang juga seringkali bukan karena pengeluaran-pengeluaran besar, namun pengeluaran kecil yang tidak disadari.

Jajan via pesan antar online. Berapa rata-rata pengeluaran harian untuk pesan Gofood atau Grabfood? Ah, kecil kok. Paling banter 25ribu. Tapi, kalau dilakukan 5 hari dalam seminggu itu sudah Rp.125.000 dalam sebulan sudah Rp. 500.000

Ngopi di cafe. Berapa harga Cappucino di cafe? Paling murah Rp. 25.000. Belum lagi dengan snack-nya, mungkin Rp. 50.000 keluar sekali nongkrong. Bayangkan kalau seminggu 4x kita ngopi di cafe. Sekitar Rp. 200.000 keluar dari dompet. Itu sekitar Rp. 800.000 sebulan.

Belanja online di marketplace. Mulai dari beli baju, kerudung, sepatu, syal, topi, dompet, tas, aksesoring, gadget… Tinggal klik, barang diantar. Kita nggak sadar uang keluar. Berapa banyak yang kita belanjakan setiap pekan untuk online shopping? Rp. 100.000? Rp. 200.000? Rp. 500.000?

Makan di luar rumah. Berapa minimal pengeluaran untuk makan di luar rumah? Mungkin sekitar Rp.100.000 jika makan berdua dengan pasangan sudah Rp.200.000 Bayangkan bila makan berdua dengan pasangan seminggu dua kali, kita sudah mengeluarkan 1,6 juta hanya untuk makan di luar rumah.

Ah, cuma beberapa ratus ribu ini. Kan gaji saya jutaan. Masih aman lah. Kita mungkin berpikir seperti ini. Tapi coba perhatikan ilustrasi berikut:

Anggap kita punya kebiasaan ngopi zaman now. Harga per cup-nya katakanlah Rp.18.000 Kalau setiap hari kita ngopi, maka dalam sebulan kita keluar uang Rp.540.000 Berapa yang kita keluarkan dalam setahun? Rp.6.480.000 hmm… mulai kelihatan agak gede ya?

Sekarang, kita lihat akumulasinya dari tahun ke tahun:

  • Tahun pertama Rp.6.480.000
  • Tahun kedua Rp.12.960.000
  • Tahun ketiga Rp.19.440.000
  • Tahun keempat Rp.25.920.000
  • Tahun kelima Rp.32.400.000

Lihat, dalam lima tahun kita sudah mengeluarkan 32 juta hanya untuk minum es kopi! Jika kebiasaan ini menetap, katakanlah, 30 tahun. Berapa uang yang kita keluarkan untuk segelas kopi setiaph hari? Sekitar Rp. 194 juta, wow!

Sekarang, coba bayangkan, seandainya uang yang kita pakai untuk ngopi kita alihkan ke reksadana dengan imbal hasil 10%, maka gambarannya akan semacam ini.

Tahun pertama:

  • Kita mengumpulkan Rp.6.480.000
  • Imbal hasil 10% senilai Rp.648.000
  • Maka tahun pertama, uang kita menjadi Rp.7.128.000

Tahun kedua:

  • Rp.7.128.000 ditambah Rp.6.480.000 hasilnya Rp.13.608.000
  • Imbal hasil 10% senilai Rp.1.360.800
  • Tahun kedua, uang kita terakumulasi menjadi Rp.14.968.800

Saya coba buat model matematisnya menggunakan Google Sheet. Hasilnya, dalam 30 tahun adalah sebagai berikut:

Uang kopi kita, jika dialihkan ke reksadana dalam 30 tahun nilainya bisa menjadi Rp. 1 Milyar lebih! Perhatikan menyepelekan uang receh Rp.18.000 setiap hari ternyata membuat kita kehilangan potensi mendapatkan 1 Milyar di tahun ke-30! Uang yang kita anggap receh menjadi tidak receh lagi.

Apa pelajaran yang kita dapat dari sini? Apakah Anda harus berhenti ngopi? Apakah kita perlu jadi orang yang pelit? Bukan, bukan itu poin yang ingin saya sampaikan.

Dari tulisan ini, saya berharap kita kita dapat mengambil pelajaran sebagai berikut:

  1. Jangan sepelekan hal kecil. Hal-hal kecil lah yang bisa membuat orang terpeleset dan jatuh. Keseleo lidah, postingan sosial media, kebiasaan buruk yang terekspos ke publik, dan hal-hal kecil lain dapat menjatuhkan reputasi seseorang dengan cepat.
  2. Semua hal besar diawali dari hal kecil. Hal-hal kecil yang kita lakukan secara konsisten setiap hari akan terakumulasi menjadi besar suatu saat nanti.
  3. Hati-hati dengan pengeluaran kecil yang rutin. Pengeluaran semacam ini bisa menggunung, terakumulasi menjadi besar. Persis seperti pepatah “sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit.”
  4. Hargai nilai uang, baik besar maupun kecil. Salah satu mentor saya mengatakan, siapa yang tidak menghargai uang kecil dia tidak akan menghargai uang besar. Dulu, saya pernah punya toko kelontong. Memiliki toko kelontong ini membuat saya menghargai uang kecil. Kenapa? Karena keuntungan dari setiap produk kadang hanya Rp. 500 atau Rp. 1000, namun perputaran dari recehan tersebut lah yang membuat toko hidup.
  5. Jangan remehkan penghasilan tambahan, meski itu hanya 20-50ribu setiap hari. Karena bila diakumulasi, nilainya akan besar sekali. Misal, jualan ebook yang harganya hanya Rp. 20.000, coba bayangkan seandainya orang membeli ebook ini setiap hari selama sebulan, berapa yang kita dapatkan dari jualan receh semacam ini? Berapa dalam setahun? Berapa yang kita dapatkan bila recehan ini saya investasikan ke dalam reksadana?
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.