fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Aktualisasi Diri dan Kesehatan Mental

1 min read

WHO mendefinisikan sehat mental (mental health) sebagai:
“a state of well-being in which the individual realizes his or her own abilities, can cope with the normal stresses of life, can work productively and fruitfully, and is able to make a contribution to his or her community”

Sehat mental adalah keadaan sejahtera (yang tercapai) ketika seseorang:

  • Merealisasikan potensi dirinya;
  • Mampu mengatasi stress normal dalam hidup;
  • Dapat bekerja secara produktif dan bermanfaat;
  • Mampu memberi kontribusi pada komunitasnya.

Kok ya berat membaca kriteria yang perlu dipenuhi agar sehat mental ya? Maksud saya, dengan kriteria seperti ini, sepertinya banyak dari orang di sekitar kita yang belum memenuhi kriteria tersebut. Coba tanyakan ke diri kita sendiri.

  • Sudahkah kita mengenali potensi diri kita?
  • Jika sudah, sudahkah kita merealisasikannya?
  • Sudah mampukah kita mengatasi tekanan akibat pekerjaan, hidup bertetangga atau keluarga?
  • Sudahkah kita bekerja dengan produktif?
  • Sudahkah pekerjaan kita memberi manfaat bagi orang lain?
  • Sudahkah kita memberi kontribusi pada orang-orang di sekitar kita?

Elemen kesehatan mental menurut WHO ini ternyata sangat selaras dengan bahasan piramida kebutuhannya Maslow. Abraham Maslow mengatakan, manusia memiliki 5 level kebutuhan.

Kebutuhan paling dasar adalah kebutuhan untuk bertahan hidup (survival). Di dalamnya adalah kebutuhan fisik dan fisiologis. Misalnya: makan dan minum.

Jika kebutuhan ini terpenuhi, maka muncullah kebutuhan berikutnya yaitu kebutuhan akan rasa aman (safety). Bila kebutuhan bertahan hidup belum terpenuhi, orang tidak akan memedulikan rasa aman. Itulah sebabnya ada orang yang berani mencuri saat kelaparan. Ia mengabaikan rasa aman demi kebutuhan akan bertahan hidup.

Kebutuhan berikutnya adalah kebutuhan sosial. Kebutuhan akan cinta dan penerimaan (love and belonging). Setelah seseorang merasa aman, ia butuh dicintai dan diterima oleh orang lain. Ini sebabnya orang berkumpul, menikah, atau bergabung dalam sebuah komunitas.

Di atas kebutuhan ini ada kebutuhan akan harga diri (self-esteem). Orang ingin berprestasi, dipuji dan mendapatkan kebanggaan diri.

Puncak dari semua kebutuhan ini adalah kebutuhan aktualisasi diri (self-actualization). Orang akan melampaui kebutuhan dihargai, dipuji dan dipuja oleh orang lain. Mereka melampaui itu semua demi mewujudkan tujuan yang lebih besar. Mereka ingin berkontribusi pada sesama dan merealisasikan potensi yang mereka punya.

Perhatikan, puncak dari kebutuhan ini selaras dengan elemen pertama dari kesehatan mental. Orang akan merasa bahagia dan sejahtera ketika ia mengenali potensinya dan merealiasikan potensi dirinya. Pertanyaannya sekali lagi, sudah kah kita mengenali potensi diri kita dan merealisasikannya?

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

One Reply to “Aktualisasi Diri dan Kesehatan Mental”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *