Beberapa waktu yang lalu, seorang kawan menghubungi lewat DM Instagram. Tidak seperti biasanya, tiba-tiba ia bertanya: “mas, sebenarnya apa yang dimaksud dengan produktivitas?” Saya tidak langsung menjawabnya. Saya menunggu penjelasan lengkapnya karena saya butuh konteks yang lebih lengkap agar jawaban saya tepat. Ia pun melanjutkan chatnya:
“Saya punya kawan yang sangat berprestasi di kantor, tetapi hubungan dengan keluarganya berantakan. Apakah memang produktivitas itu yang seperti ini?”
Saya meyakini hal semacam ini tidak hanya terjadi pada rekan kantor kawan saya ini. Bisa jadi hal ini terjadi juga pada banyak orang.
Mengejar Pencapaian: Harga Diri atau Beban?
Saya dan kamu, tentu saja menginginkan kesuksesan dan kebahagiaan dalam hidup. Dan sebagian dari kita menganggap, pencapaian (terutama dalam hal pekerjaan) sebagai sarana utama untuk mewujudkannya. Ia menjadi barang mewah yang dielu-elukan, dikejar dan diusahakan sepenuh hati. Bahkan, ada orang yang menjadikan pencapaian ini sebagai harga diri. Seseorang merasa tidak berharga saat ia tidak memiliki pencapaian dalam hidupnya, merasa dirinya tak berguna. Akhirnya, tak masalah kerja 24/7 asal bisa mencapai kesuksesan yang diharapkan, diterima oleh orang sekitar, atau mendapat pujian dari teman-teman. Namun, apakah ini benar-benar jalan menuju kebahagiaan?
Hustle Culture: Glorifikasi Kesibukan
Kamu tentu tahu Naruto Uzumaki. Sejak kecil ia dikucilkan oleh penduduk desa Konoha karena kyuubi yang disegel dalam dirinya. Ia pun bekerja keras untuk mencari pengakuan dan penerimaan dari orang-orang di sekitarnya, ingin diakui sebagai ninja hebat dan menjadi Hokage.
Naruto adalah kita. Bisa jadi, saya dan kamu bekerja keras karena menginginkan pengakuan dan penerimaan dari orangtua, keluarga dan teman. Dan kesuksesan yang bisa ditunjukkan adalah jembatan paling mudah untuk mendapatkannya.
Kita pun lalu terjebak pada hustle culture: budaya kerja keras demi pengakuan dan pencapaian. Hustle culture memiliki tiga ciri:
- Busyness with productivity. Glorifikasi kesibukan berlebihan sebagai tanda produktivitas. Meyakini bahwa selalu sibuk artinya produktif, meski hasilnya tidak selalu bermakna.
- Exhaustion with accomplishment: Menganggap kelelahan sebagai indikator kerja keras yang sukses.
- Self-worth with professional success: Menilai nilai diri berdasarkan prestasi karier, sering mengabaikan kesehatan dan kehidupan pribadi.
Semua ini harus dibayar mahal: burnout, anxiety, kelelahan fisik, hingga rusaknya hubungan—persis seperti cerita kawan saya sebelumnya.
Toxic Productivity: Obsesi yang Menghancurkan
Istilah baru pun muncul: toxic productivity. Ini adalah obsesi berlebihan untuk selalu produktif setiap saat, tanpa memedulikan istirahat, kesehatan mental, atau keseimbangan hidup. Ditandai dengan perasaan bersalah saat tidak bekerja, mengejar target tanpa henti, dan mengabaikan kebutuhan pribadi demi “produktivitas.”
Jika pun akhirnya kita benar-benar meraih kesuksesan karier, apakah ini layak dikejar?
Bukahkah sebenarnya, usaha kita mendapat pengakuan dan penerimaan itu agar kita bahagia? Lalu, jika usaha untuk menuju ke sana malah membuat kita sengsara, untuk apa?
Shawn Achor dalam membantah anggapan bahwa kesuksesan mengantarkan kebahagiaan. Ia mengutip sebuah meta analisis yang menyimpulkan bahwa kebahagiaanlah yang mengantarkan kita pada kesuksesan, bukan sebaliknya. Harvard Business Review juga menyebutkan, bekerja lebih dari 50-55 jam per minggu justru menjadi bumerang bagi pekerja dan perusahaan. Ia berefek pada penurunan kinerja dan kesehatan. Riset Morten Hansen menguatkan hal ini: bekerja cerdas, bukan keras yang membuat kita sukses di karier yang kita pilih.
Bagaimana Keluar dari Jebakan Toxic Productivity?
Untuk keluar dari jebakan toxic productivity, berikut langkah praktis yang bisa kamu mulai:
- Evaluasi Penggunaan Waktu: Tinjau kalendermu. Apakah hanya berisi urusan kerja? Sisihkan waktu untuk diri sendiri, keluarga, dan hobi. Nir Eyal dalam Indistractable menyarankan menjadwalkan waktu untuk relasi dan diri sendiri di kalender.
- Ciptakan Batasan Sehat: Belajar berkata “tidak” untuk menjaga kesehatan mental. Riset Adam Grant menunjukkan, orang sukses membantu orang lain tetapi punya batasan jelas agar tidak dimanfaatkan.
- Jadwalkan “Me Time”: Sisihkan waktu untuk istirahat, liburan, atau hobi. Aktivitas seperti olahraga, bermain game ringan, atau sekadar bersantai bukan buang waktu, melainkan cara mengisi ulang energi.
- Fokus pada Kerja Cerdas: Prioritaskan tugas yang benar-benar berdampak. Tanyakan pada diri sendiri, “Bagaimana saya bisa bekerja lebih sedikit tapi hasilnya lebih banyak?”
Mudah-mudahan, menerapkan langkah-langkah ini membantumu untuk memiliki produktivitas yang lebih sehat!
Salam hangat,
Aji
Jika Kamu Siap Belajar Lebih Lanjut, Ini Tiga Cara Saya Bisa Membantumu
🧭 Productivity Specialist — Program Sertifikasi untuk Praktisi Produktivitas Batch VI Resmi Dibuka!
Kalau kamu ingin membagikan perubahan ini ke lebih banyak orang—sebagai coach, trainer, atau konsultan produktivitas—program ini adalah langkah berikutnya.
Program ini dirancang untuk membekalimu dengan fondasi keilmuan, metode, dan teknik praktis untuk meningkatkan produktivitas pribadi dan profesional.
Pelajari di sini untuk detailnya
📖 Buku Mindful Life: Seni Menjalani Hidup Bahagia & Bermakna
Sebuah buku yang berisi prinsip-prinsip untuk menjalani hidup yang bahagia, tenang, dan bermakna. Buku ini akan membantumu membedakan mana yang bisa dikendalikan dan mana yang perlu dilepaskan. Kamu akan diajak menyadari kembali apa yang sungguh berharga dalam hidup, menemukan makna di balik setiap tantangan, dan melatih diri untuk hadir utuh—di sini, saat ini.
💻 eCourse Mindful Productivity
Banyak orang tampak sibuk, tapi sebenarnya terjebak dalam produktivitas semu. Ecourse ini membantumu membangun ritme kerja yang tenang dan berkelanjutan—tanpa stres yang nggak perlu. Dengan memasukkan prinsip mindfulness dalam produktivitas, kamu akan belajar cara untuk tetap produktif tanpa terburu-buru, dan terhindar dari pencapaian yang terasa hampa.
