fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Inilah Kunci Bahagia Menurut Riset Terbaru

1 min read

Banyak orang ingin bahagia dalam hidupnya. Mungkin termasuk kita. Kita mendambakan rumah megah, mobil mewah, pasangan yang ideal, pekerjaan yang sempurna. Kita berasumsi semua hal itu membawa kebahagiaan dalam hidup. Namun, apakah hal-hal itu benar-benar membawa kebahagiaan?

Banyak orang menganggap, kebahagiaan ditentukan oleh konten dari momen demi momen. Sehingga mereka mencari konten (baca: kegiatan, aktivitas, benda) untuk mengisi momen demi momen dalam hidupnya. Konten yang mereka asumsikan membawa kebahagiaan. Menariknya, ternyata kebahagiaan bukan ditentukan oleh kontennya melainkan ditentukan oleh fokus menjalani momennya. Kita bisa saja menganggap travelling adalah konten yang dapat membawa kebahagiaan. Namun, bisa saja si A melakukan travelling dan bahagia. Sementara si B melakukan travelling namun tetap merasa tidak bahagia. Padahal A dan B sama-sama menyukai travelling dan menganggap travelling dapat membawa kebahagiaan. Apa bedanya?

Inilah-Kunci-Bahagia-Menurut-Riset-Terbaru

Kunci kebahagiaan adalah presence – menjalani momen demi momen secara sadar. Apapun kontennya, apapun jenis aktivitas yang dilakukannya. Inilah kesimpulan dari risetnya Matthew Killingsworth, Ph.D.[1]

Matt mengumpulkan 650.000 laporan dari 150.000 responden di 80 negara. Respondennya terdiri dari beragam profesi, umur, dan status pernikahan. Dia mengajukan tiga pertanyaan:

  1. Apa yang Anda rasakan saat ini?
  2. Apa yang sedang Anda lakukan saat ini?
  3. Apakah Anda memikirkan hal lain selain apa yang sedang Anda lakukan saat ini?
    • Tidak
    • Ya, hal yang tidak menyenangkan
    • Ya, hal yang menyenangkan
    • Ya, hal yang netral

Hasilnya mengejutkan. Kita cenderung kurang bahagia saat pikiran kita mengembara. Saat pikiran kita memikirkan hal lain di luar hal yang sedang kita lakukan saat ini. Tidak peduli apakah yang kita pikirkan adalah hal yang netral, menyenangkan atau tidak menyenangkan. Mind Wandering – pikiran yang mengembara adalah penyebab ketidakbahagiaan. Apakah berlaku sebaliknya? Ternyata tidak. Mind Wandering menyebabkan ketidakbahagiaan, bukan sebaliknya.

Menariknya lagi, mind wandering terjadi dalam 47% waktu kita. Mind Wandering terjadi dimana-mana. Entah saat kita mengendarai mobil, mencuci piring, berolahraga, ngobrol, bahkan melakukan hubungan seksual. Tidak heran, banyak orang yang tidak bahagia dalam hidupnya.

Maka, bila kita ingin bahagia, berlatihlah untuk presence. Hadir di sini, saat ini. Memfokuskan seluruh pikiran kita pada apa yang sedang kita lakukan saat ini. Terlibat total dengan aktivitas yang sedang kita kerjakan dengan seluruh indera kita. Entah itu sekadar mencuci piring, menulis, minum kopi, ataupun ngobrol dengan teman kita.

[1] http://science.sciencemag.org/content/330/6006/932.full
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *