fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach. Penulis 7 buku laris: Kitab Anti Penundaan, Self-Coaching, Mindful Life, Productivity Hack, Life by Design, Hypnoselling, dan Hypnowriting. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Rahasia High-Performing Team: Belajar dari Serial One Piece

3 min read

Ada yang menyimak serial One Piece? Tidak banyak anime yang bisa saya tonton berseri-seri. One Piece adalah salah satu dari yang sedikit itu.

Mengapa saya suka dengan One Piece? Karena banyak hal yang bisa saya pelajari dari sana. Salah satunya adalah tentang bagaimana membangun sebuah high-performing team

Di artikel ini kita akan bahas insight yang saya dapatkan dari One Piece terkait high-performing team. Yuk kita simak.

Kelompok Topi Jerami (tim awal)

Insight #1 — Sense of mission.

Sebuah tim perlu memiliki sense of mission yang jelas. One Piece mengisahkan tentang bajak laut muda bernama Monkey D. Luffy. Ia memiliki visi yang sangat besar dan jelas: menjadi raja bajak laut dan visi itu akan tercapai bila ia menemukan harta karun rahasia yang bernama one piece. Menemukan one piece adalah misi utamanya.

Dalam perjalanannya, Luffy “menjual” visinya ini kepada talent-talent potensial yang ditemuinya. Meskipun sumber dayanya belum lengkap, Luffy sangat percaya diri dengan visinya ini. Ia percaya dengan kemampuan yang dimilikinya. 

Inilah yang membuat orang-orang yang diajak mau mengikuti ajakannya. Mereka pun bersedia menjadi nakama(anggota tim; teman seperjuangan) dari “organisasi” Bajak Laut Topi Jerami.

Insight #2 — The Right Man in The Right Place

Luffy tidak sembarangan merekrut orang, ia memiliki bayangan jelas tentang peran apa yang ia butuhkan baru kemudian merekrut orang yang sesuai.

  • Saat ia membutuhkan ahli pedang, ia merekrut Roronoa Zoro.
  • Saat ia membutuhkan navigator, ia merekrut Nami.
  • Saat ia membutuhkan juru masak, ia merekrut Sanji.
  • Saat ia membutuhkan penembak jitu, ia merekrut Ussop.
  • Saat ia membutuhkan dokter, ia merekrut Chopper.
  • Saat ia membutuhkan pembuat kapal, ia merekrut Franky, dst.

Setiap orang direkrut berdasarkan keahliannya.

Insight #3 — Mastery Approach on Strengths

Setiap nakama dari Bajak Laut Topi Jerami punya kelemahan.

  • Luffy sebagai leader nggak suka mikir, tindakannya spontan dan grusa-grusu.
  • Nami mata duitan.
  • Sanji gampang tergoda cewek.
  • Zoro buta arah, dst.

Sebagai nakama, mereka memaklumi kelemahan rekannya, dan menjadikan kelemahan tersebut sebagai ruang kontribusi bagi rekan lainnya.

Maka, alih-alih berfokus pada kelemahan, setiap nakama berfokus pada kekuatannya masing-masing.

  • Zoro fokus pada keahlian pedangnya.
  • Nami fokus pada keahlian navigasinya.
  • Sanji fokus pada keahlian memasak dan tendangannya.
  • Nico Robin fokus pada kemampuan arkeologinya, dst.

Mereka mengadopsi mastery-approach — hasrat untuk semakin kuat dari waktu ke waktu — pada potensi kekuatan yang dimilikinya . Mereka tidak puas dengan level keahlian mereka saat ini, mereka terus menerus mengasah dan menguatkan diri. Alasannya sederhana: mereka tidak ingin merepotkan temannya.

Mereka menjadikan masalah yang ditemui sebagai momen untuk mengasah dirinya. Ketika mereka mentok, mereka pun mencari mentor di luar timnya untuk mengembangkan kemampuannya.

Misalnya, setelah Kelompok Topi Jerami mengalami kekalahan di Pulau Sabaody dan Marineford kemudian:

  • Luffy belajar Rayleigh “Sang Raja Kegelapan.”
  • Zoro berlatih dengan Dracule Mihawk, pendekar pedang nomor satu saat itu.
  • Ussop belajar dari Heracles.
  • Nami belajar dari Haredas di Weatheria, dst.

Sebuah tim akan kuat jika setiap individu di dalamnya juga kuat. Tidak mungkin tim akan kuat jika tersusun dari individu-individu yang lemah. Menjadi kuat adalah tanggung jawab masing-masing pribadi.

Insight #4 — Aligning Personal Mission

Tim Topi Jerami punya sebuah misi besar: menjadikan Luffy sebagai Raja Bajak Laut dan menemukan one piece. Meski demikian, setiap nakama pun memiliki misi pribadinya sendiri yang selaras dan mendukung misi besar tersebut.

  • Zoro ingin menjadi ahli pedang terhebat di dunia (bagaimana mungkin ia bisa mendukung Luffy jika tidak menjadi ahli pedang terhebat? — demikian alasannya).
  • Nami ingin membuat peta dunia terlengkap yang ada di atas bumi.
  • Sanji ingin menemukan All Blue.
  • Chopper ingin menjadi dokter yang bisa menyembuhkan penyakit apapun.
  • Franky ingin menjadi pembuat kapal bagi Raja Bajak Laut.

Meskipun mereka punya misi berbeda-beda, misi mereka mendukung misi utama. Misi pribadi ini menguatkan sense of mission mereka. Efeknya, masing-masing akan berkontribusi pada tercapainya tujuan organisasi.

Morten Hansen dalam buku Great at Work mengatakan, seorang anggota tim perlu memikirkan tiga level kontribusi:

  1. Level terendah adalah create value — menciptakan nilai bagi organisasi. Bagaimana keberadaan dirinya menjadi manfaat bagi orang di sekitarnya. Minimal, tidak merepotkan teman-temannya.
  2. Level berikutnya adalah seek personal mission — mencari misi pribadi yang bermakna bagi dirinya secara individu. Misi pribadi ini perlu selaras dengan misi organisasi.
  3. Level puncaknya adalah build social mission — level ketika kontribusinya bisa berdampak lebih luas bagi orang sekitar. Bukan hanya di dalam tim, namun juga di luar tim.

Insight #5 — Cultivating Trust & Autonomy

Gaya kepemimpinan Luffy bukalah command & control, ia memimpin dengan memberi ruang kebebasan (otonomi). Ia percaya penuh pada timnya, bahwa mereka akan memenuhi kewajibannya. Sebaliknya, timnya pun percaya penuh pada Luffy. 

Trust adalah hasil interaksi dua arah. Tidak mungkin trust terjadi hanya satu arah.

Sebenarnya, apa yang dilakukan Luffy dalam memimpin timnya sangat selaras dengan berbagai riset terbaru dalam memotivasi tim. Misalnya, dalam buku Why Motivating People Doesn’t Work karya Susan Flower, tim akan termotivasi secara intrinsik bila kita menghadirkan tiga hal:

  1. Autonomy — kebebasan untuk berkreasi, meminimalisir obsesi untuk mengendalikan tim. Saat seseorang merasa dikendalikan, motivasinya biasanya akan turun.
  2. Relatedness — hubungan yang bermakna dengan rekannya. Ini sebabnya, anggota tim Topi Jerami diberi nama nakama: teman. Ini jadi value nomor satu di tim Topi Jerami. Sesama teman harus saling membantu, tidak boleh merepotkan sesama teman. Hubungan dengan teman akan semakin bermakna, bila semua terikat pada misi yang sam.
  3. Mastery — dorongan untuk semakin terampil, semakin kuat dari waktu ke waktu.

Ketiga hal inilah yang dapat memotivasi sebuah tim dari dalam dirinya, sehingga masing-masing akan memberikan kontribusi terbaik berdasarkan kekuatan uniknya dan mencapai tujuan bersama. 

Mungkin ini yang membuat mereka sangat menikmati proses. Meskipun misi mereka serius, mereka tetap menikmati perjalanannya. Mereka tetap bergurau dan bersantai dengan caranya masing-masing.

Inilah rahasia kelompok Topi Jerami menjadi high-performing team. Bukankah definisi high-performing team adalah sekelompok individu yang mampu memanfaatkan kemampuan dan perspektif yang beragam untuk mencapai sebuah tujuan bersama yang menantang dengan tetap menikmati prosesnya?

PS. Tertarik membangun high-performing team di organisasi Anda? Saya dan tim siap membantu Anda. Hubungi kang Abko di 085223466222 untuk ngobrol kebutuhan di organisasi Anda.

(Disclaimer: rating anime ini 16+ karena memang ada beberapa tokoh di serial ini yang berbusana seksi, mohon kebijaksanaannya ketika menonton)

Darmawan Aji Productivity Coach. Penulis 7 buku laris: Kitab Anti Penundaan, Self-Coaching, Mindful Life, Productivity Hack, Life by Design, Hypnoselling, dan Hypnowriting. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Kenapa Kita Suka Menunda-Nunda

Kenapa banyak orang suka nunda kerjaan sampai mepet deadline? Dengan memahami Hukum Parkinson kita akan tahu mengapa nunda itu jadi masuk akal. Aku lupa kapan persisnya mengenal Hukum...
Darmawan Aji
1 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *