fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Mengenal Lean Thinking

1 min read

Lean Thinking dapat diterjemahkan dengan Pemikiran Ramping dalam Bahasa Indonesia. Ini adalah analogi yang bertujuan menyadarkan kita tentang pentingnya kerampingan dan kelangsingan sebuah organisasi bisnis. Bisnis yang gemuk, penuh dengan lemak, akan berat untuk bergerak cepat. Lemak-lemak pada bisnis pun bisa jadi tidak memberikan nilai apapun pada konsumen. Mereka hanya membebani perusahaan dan konsumen dengan berbagai biaya yang tidak diperlukan.

Bila kita menilik aktivitas/proses dalam bisnis, kita bisa kelompokkan menjadi tiga kelompok:

Pertama, tidak bernilai tambah namun diperlukan. Aktivitas ini perlu kita optimasi supaya lebih efisien.

Kedua, bernilai tambah. Aktivitas ini perlu kita maksimalkan.

Ketiga, tidak bernilai tambah dan tidak diperlukan. Aktivitas ini perlu kita eleminasi.

Lean Thinking adalah tentang bagaimana menciptakan nilai lebih banyak bagi konsumen kita dengan mengeliminasi aktivitas-aktivitas pemborosan. Setiap aktivitas atau proses yang mengonsumsi sumber daya, menambah biaya atau waktu tanpa menciptakan nilai bagi konsumen menjadi target dari eleminasi ini.

Pemikiran lean ini terinspirasi dari Toyota Production Process. Pada tahun 1930-an,  Kiichiro Toyoda dan Taiichi Ohno ingin mengadopsi proses produksi mobilnya Henry Ford di Jepang. Namun mereka melihat banyak pemborosan dan aktivitas yang tidak diperlukan di proses produksinya. Mereka memikirkan ulang konsep dari Ford dan menemukan Toyota Production Process yang minim pemborosan. Beberapa catatan menyebutkan, Toyoda juga terpengaruhi oleh Edward Deming dalam proses penemuannya. Dia pernah mengatakan “There is not a day I don’t think about what Dr. Deming meant to us. Deming is the core of our management.”

Untuk memahami Lean Thinking, kita perlu memahami dua konsep utama.

Pertama, konsep tentang nilai (value).

Kedua, konsep tentang pemborosan (waste).

Esensi dari Lean Thinking adalah meningkatkan nilai bagi konsumen. Artinya bagaimana kita mengantarkan apa yang konsumen butuhkan ketika dibutuhkan dengan harga yang masuk akal. Harga yang masuk akal adalah salah satu prinsip dalam Lean Thinking.  Pemikiran tradisional berusaha meningkatkan keuntungan dengan menaikkan harga. Lean Thinking berbeda, praktisi lean berusaha meningkatkan keuntungan dengan menurunkan biaya-biaya sehingga target profit tercapai dengan harga produk yang tetap masuk akal.

Lalu, apa yang dimaksud dengan pemborosan dalam Lean Thinking? Pemborosan adalah segala aktivitas bisnis yang tidak menambah nilai untuk konsumen. Cara untuk mengujinya adalah dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut:

  • Apakah konsumen mau membayar aktivitas tersebut?
  • Apakah produk/layanan menjadi meningkat dengan adanya aktivitas tersebut?
  • Apakah aktivitas tersebut tuntas dalam pengerjaan pertama?

Misalnya aktivitas packing barang untuk konsumen. Kita uji dengan tiga pertanyaan di atas.

Apakah konsumen mau membayar? Tentu tidak, mereka menganggap aktivitas tersebut adalah kewajiban penjual.

Apakah produk menjadi meningkat? Ya, tentu saja. Produk menjadi lebih aman saat terkirim.

Dari sini artinya aktivitas packing bukanlah pemborosan. Namun… mari kita cek pertanyaan ketiga.

Apakah aktivitas tersebut tuntas dalam pengerjaan pertama? Jika Anda iya, selamat. Jika Anda perlu dua kali untuk mengerjakannya (misal karena salah print alamat, salah bungkus dsb) – maka aktivitas tersebut masuk kategori pemborosan.

Fokus dari Lean Thinking adalah menciptakan sebuah aliran tanpa hambatan untuk menghasilkan nilai terbaik bagi pelanggan. Sekarang, periksa alur bisnis Anda, apakah semua sudah optimal? Atau masih ada aktivitas-aktivitas yang tidak menghasilkan nilai bagi konsumen?

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Personal Kanban: Sistem Sederhana untuk Mendongkrak Produktivitas

Saya baru saja selesai membaca buku Personal Kanban: Mapping Work, Navigating Life. Tampilan covernya kurang menarik, namun isinya sangat menarik, sederhada dan aplikatif. Kanban...
Darmawan Aji
2 min read

Zero to One: Rahasia Memulai StartUp Sukses (2)

Dari artikel kemarin kita dapat menyimpulkan bahwa kunci sukses startup menurut Thiel adalah menciptakan bisnis/produk yang dapat memonopoli pasar. Produk yang tidak bersaing dengan...
Darmawan Aji
1 min read