fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Bedah Buku Bisnis Mastery George Leonard

1 min read

“Our current society works in many ways to lead us astray, but the path of mastery is always there, waiting for us”

George Leonard

Pemenuhan dalam hidup ditemukan dalam proses penguasaan (mastery) tanpa akhir. Sayangnya, lingkungan kita saat ini mempromosikan jalan hidup anti mastery: sukses instan, quick fix, cara cepat dsb.

Selalu ada pilihan: apakah kita memilih jalan seorang master atau jalan lain yg lebih mudah. Jalan menuju penguasaan bukan jalan yg seperti itu. Ini adalah jalan yang panjang. Membutuhkan waktu dan kesabaran.

Kita akan bertemu “plateau” demi “plateau” – kondisi saat kita merasa stagnan, merasa skill kita nggak ningkat-ningkat. Beberapa orang frustasi kemudian menyerah. Para master tidak. Mereka menjalani dan menikmati plateau-plateau ini.

Kita selalu diberi pilihan dalam hidup. Saat mengalami kesulitan dan plateu, apa pilihan yg kita ambil: jalan penguasaan atau jalan lainnya atau berhenti di tengah jalan?

Ini berlaku dalam penguasaan skill, bisnis, leadership, keluarga dsb. Perhatikan pola kita sendiri. Saat kita stagnan dalam satu hal, jalan mana yang kita pilih?

Mencapai penguasaan butuh waktu dan kesabaran. Kurva mastery: plateu – improve – plateu lagi – improve – plateu lagi dst. Nikmati prosesnya. Tidak perlu terburu-buru. Penguasaan tidak bisa diburu-buru. Mirip seperti benih yg ditanam. Ia perlu waktu untuk tumbuh, menguat, berbunga dan berbuah akhirnya.

Kurva Mastery

Terburu-buru ingin menguasai sesuatu bertentangan dengan prinsip alamiah dalam proses mastery. Inilah sebabnya, tidak banyak orang yg memilih jalan master. Mereka memilih jalan yang lebih mudah. Jalan apa yg mereka pilih? Ada tiga kemungkinan: dabbler, obsessive, hacker.

Pertama, dabbler (amatir)

Antusias di awal pas baru belajar. Bersemangat menghadapi plateau pertama. Girang saat skillnya meningkat. Kemudian frustasi saat menghadapi plateau berikutnya… dan menyerah. Kemudian ia cari skill lain (atau bisnis lain; atau pasangan lain; atau beladiri lain – tergantung konteksnya) dan polanya berulang. Ia menyerah sebelum mencapai tahap penguasaan.

Kurva Dabbler/Amatir

Kedua, obsessive

Fokus ke hasil akhir. Ingin cepat menguasai. Belajar 2x lebih keras dibandung temannya. Rajin nanya ke instruktur, orang lain pulang, ia ngobrol dengan instruktur. Ingin tahu lebih banyak. Ia pun membaca buku-buku pendukung. Ingin cepat menguasai namun kemudian kehabisan energi di tengah jalan. Saat menghadapi plateau ia tidak bisa menerima dan akhirnya menyerah.

Kurva Obsessive

Ketiga, hacker

Nggak suka dg plateau. Berusaha cari jalan pintas. Namun akhirnya puas di level yang dikuasai, merasa cukup. Akhirnya stagnan di level kemampuan tersebut dan tidak mau mengembangkannya lagi.

Kunci dari jalan mastery adalah menikmati proses. Mencintai plateu. Tidak perlu buru-buru ingin ahli. Jalani saja. Latihan terus. Latihan rutin. Perbaiki sedikit demi sedikit. Stagnan? Bagian dari proses, tetep berlatih.

Perjalanan ini tak berujung. Karena penguasaan tak ada batasnya.

Seperti yang dikatakan Master Oyama “One becomes a beginner after 1000 days of training. One becomes a master after 10,000 days of practice.”

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.