Setiap tahun, saya melakukan “ritual” refleksi tahunan untuk menjawab tiga pertanyaan berikut ini:
- Apa saja yang berjalan baik tahun ini?
- Apa saja yang berjalan kurang baik tahun ini?
- Apa saja yang saya pelajari tahun ini?
Mulai tahun lalu, saya memutuskan untuk mengunggah hasilnya di blog saya. Tentu saja, tidak semuanya saya buka. Pencapaian dan pembelajaran yang sangat personal tetap saya simpan sebagai catatan pribadi.
Saya meniatkan unggahan ini agar bisa jadi inspirasi—atau sekadar teman berpikir—bagi teman-teman yang membacanya. Jika dari tulisan ini Anda menemukan kekurangan saya, mudah-mudahan hal itu jadi pembelajaran bagi kita semua.
Mari mulai kita bedah.
Apa saja yang berjalan baik?
Melampaui Dunia Maya.
Setelah beberapa tahun didominasi interaksi digital, di 2025 saya memutuskan untuk memperbanyak interaksi di dunia nyata. Ternyata benar, ada kedalaman rasa dan energi yang berbeda saat bertatap muka langsung yang tidak tergantikan oleh pertemuan di depan layar.
- Kelas offline. Bekerjasama dengan Kreativen, alhamdulillah terselenggara 7 batch kelas OKR Masterclass di berbagai kota.
- Meet & Greet. 10x acara “Ngobrol & Ngopi bareng Aji” terselenggara. Di Bandung, Jakarta, Bogor, Semarang, Jogja, Solo, hingga Surabaya. Bertemu langsung dengan alumni, teman-teman dunia maya dan pembaca newsletter memberikan energi yang tak tergantikan.
- Kajian Afterwork. Rutin mengisi kajian Afterwork di Masjid Al Lathif Bandung setiap Senin pekan pertama sejak Februari 2025.
Pencapaian Profesional
Di ranah belajar dan berbagi secara online, saya tetap menjaga ritme.
- Kelas baru. Meluncurkan tiga judul kelas online baru: The Learning Path, Business Productivity, dan Speak to Impact. Total ada 15 kelas online terselenggara selama 2025 dengan 300+ peserta baru (total alumni 2700+).
- Newsletter & Threads. Saya mencoba jenis konten baru. Mulai rutin menulis di Threads dan rutin mengirim email newsletter tiap Sabtu (total 36 pekan).
Pencapaian Personal
- Ngaji kitab. Alhamdulillah tuntas ngaji dua kitab: Al Minhatul Mar’iyah karya ust. Nur Fajri Ramadhan dan Safinatun Najah karya Syekh Salim bin Samir Al-Hadhrami As Syafi’i (ulama Abad ke-13).
- Berlatih silat. Di penghujung tahun, saya memutuskan untuk mendalami aliran baru: Gerak Saka.
Ingin menjadikan 2026 sebagai tahun terbaik Anda? Join kelas Resolusi Menuju Aksi 2026. Cek Infonya di sini. Jangan biarkan keinginan hanya jadi angan-angan tanpa tindakan.
Apa saja yang berjalan kurang baik?
Refleksi tidak akan jujur tanpa mengakui kegagalan. Tahun 2025 memberikan saya beberapa “tamparan”:
- Penurunan Bisnis Produk Digital. Penjualan produk digital saya tercatat sekitar 650+ transaksi. Angka ini turun 70% dari tahun lalu.
- Terjebak Kenyamanan AI. Saya sempat terlena oleh kemudahan yang disajikan oleh chatGPT dan LLM lainnya. Awalnya membantu, lama-lama membuat saya malas berpikir mendalam (deep thinking). Dampaknya? Saya merasa kemampuan menulis saya menurun.
- Program mentorship. Target saya 20% mentee meluncurkan produk pertamanya, namun angka ini belum tercapai. Saya perlu mengevaluasi metode pendampingan untuk menyelesaikan hambatan mereka.
- Utang Naskah. Draf buku yang diminta penerbit tidak selesai, saya merasa hal ini ada kaitannya dengan menurunnya kemampuan menulis saya.
- Bahasa Arab. Saya berhenti belajar di tengah jalan karena merasa kewalahan (overwhelmed) mengatur jadwal dan materi.
Apa yang saya pelajari?
- Pergeseran dari “Informasi” ke “Akses.” Karena meski penjualan produk digital menurun, namun program mentorship yang dijual lebih mahal (10x harga low ticket), sesi konsultasi 1 on 1, dan kelas offline justru meningkat signifikan. Dari sini saya mendapat pembelajaran mahal. Pasar mulai bergeser dari mencari “informasi” ke “akses” dan “konteks.”
- Distraksi. Kata Greg McKeown, kutukan orang sukses adalah terbukanya peluang. Orang-orang sukses bukan terdistraksi oleh media sosial, mereka terdistraksi oleh peluang-peluang baru yang datang. Meski saya bukan orang sukses, saya merasa demikian. Banyak peluang datang yang membuat saya teralihkan dari the one thing saya: disiplin menulis setiap hari. Tepat apa yang dikatakan oleh Coach Rene: distraksi adalah segala sesuatu yang mengalihkan kita dari hal yang lebih penting.
- Back to Basic. Pentingnya kembali ke hal-hal yang mendasar: membaca buku dan menulis. Saya kembali membaca karya-karya Prie GS untuk menemukan rasa, lalu membiasakan menuangkan gagasan lewat tulisan tangan sebelum menyentuh papan tik. Mengadopsi metode Austin Kleon, saya kini memisahkan workspace menjadi dua zona: analog dan digital. Tujuannya sederhana: mengembalikan autentisitas, kejernihan berpikir, dan menautkan rasa.
Semoga refleksi ini bermanfaat. Sampai jumpa di 2026 yang lebih baik.
