Dalam sebuah wawancara, John Cena menunjukkan dua jam yang selalu ia bawa. Jam tangan yang ia kenakan dan jam saku yang ia tersimpan di balik bajunya. Baginya, kedua jam ini punya fungsi berbeda. Jam pertama menunjukkan waktu, sementara jam kedua memberikan perspektif.
Rasa penasaran saya memuncak. Bagaimana mungkin sebuah jam dapat memberi perspektif? Saya pun memasang telinga untuk mendengarkan penjelasan John Cena berikutnya.
Cena berkata, jam keduanya memiliki dua sisi. Satu sisi bertuliskan “comparison is the thief of joy”—perbandingan adalah pencuri kebahagiaan. Tulisan ini menjadi pengingat saat ia merasa kurang percaya diri, tidak berharga, atau tidak cukup baik dibandingkan orang lain. Ini memberinya perspektif agar selalu ingat bahwa ia adalah pribadi yang berharga.
Sisi lainnya bertuliskan “memento mori”—ingatlah bahwa kamu akan mati. Kalimat ini jadi pengingat saat egonya terlalu besar atau merasa lebih hebat dari orang lain. Perspektif bahwa kesuksesan itu fana dan ia hanyalah manusia biasa.
Rasanya, saya perlu memiliki jam kedua itu. Terutama sisi “memento mori”-nya. Sering kali terjadi, hidung saya mengembang saat mendengar pujian dari peserta training saya: bahwa saya jago menyederhanakan hal-hal rumit, kelas sayapadat literatur, penyampaian saya tenang namun bahasannya mendalam. Di saat-saat itulah saya sering lupa bahwa: semua itu fana dan bukan semata-mata karena kehebatan saya sendiri.

