Kopi Amatir

artisan coffee in ceramic mug with beans
Photo by Pho Tomass on Pexels.com

Agul sekali rasanya jadi penggemar kopi amatiran. Setelah tahu bahwa kopi itu banyak ragamnya, saya mendadak merasa jadi ahli. Bukan cuma soal jenisnya: Robusta atau Arabika. Bukan cuma tingkat roastingnya: light, medium, atau dark. Bahkan cara seduh manualnya pun saya hafal di luar kepala: Vietnam drip, V60, sampai French press. Makin jumawa lagi saat lidah saya mulai berlagak bisa membedakan rasa fruity, earthy, sampai nutty. Di depan keluarga yang masih setia dengan kopi sachet, martabat saya rasanya naik beberapa tingkat.

Padahal, saya ini hanya pemula yang sedang berlagak. Dulu, pertama kali datang ke Starbuck di Ciwalk Bandung, saya gelisah saat membaca daftar menunya. Bukan apa-apa, semuanya asing: Espresso, Americano, Caffe Latte, Cappucino, Machiato—saya tidak tahu apa bedanya. Untuk bertanya ke pelayan pun rasanya jengah. Akhirnya, bermodal kira-kira dan keyakinan tegus, saya pilih menu paling atas: Espresso. Kaget bukan kepalang saat yang datang adalah kopi pekat di cangkir kecil. Dan saat saya seruput makin kagetlah saya dibuatnya. Pahitnya ampun! Ternyata kopi setidakenak itu.

Pandangan saya tentang kopi mulai berubah saat berkunjung ke Jogja. Kawan saya, mas Arif Sulfiantono, mengajak saya bikin kopi manual pakai V60 setelah subuh. Itulah prestasi pertama saya: bisa menikmati kopi tanpa gula. Momen menyadarkan saya: ternyata kopi bisa tetap ada rasanya meski tanpa gula. Kejadian inilah yang memicu saya untuk sedikit-sedikit belajar tentang kopi. 

Bermodal wawasan tentang kopi yang sudah dimiliki, saya bisa dengan congkaknya memesan espreso secara sadar. Jika saya ingin ngopi ringan, saya dengan percaya dirinya memesan Japanese—V60 yang diberi es batu. Sungguh keangkuhan yang layak dipamerkan di depan teman-teman yang nggak ngerti kopi. Saya pun mulai membeda-bedakan kasta peminum kopi, mengolok-olok dalam hati peminum kopi sachet. Padahal, kawan saya yang jauh lebih ahli bahkan memiliki sertifikasi barista, tidaklah sepicik saya.

Memang beginilah kejumawaan saya sebagai seorang pemula. Merasa seakan ngerti segala hal tentang kopi sementara orang lain tidak tahu apa-apa. Ternyata, ada nama dari kejumawaan saya ini: Dunning-Kruger Effect. Sebuah sindrom saat orang yang baru tahu sedikit justru merasa paling ahli di dunia. Saya sedang berada di puncak gunung kebodohan itu. Saya merasa paling tahu, padahal ilmu saya baru seujung kuku.

Saya menganggap mampu minum kopi tanpa gula sebagai keistimewaan. Padahal, orang-orang di pesisir Sukabumi terbiasa minum kopi pahit sambil mengunyah gula aren. Orang Italia pun tidak merasa berdosa menambahkan gula dalam espresso mereka. Akhirnya saya paham, kehebatan saya minum kopi tanpa gula sebenarnya bukan karena menikmati kopinya, tapi karena menikmati tatapan kagum dari kawan-kawan semeja. Ternyata, yang saya teguk bukan kopi, tapi validasi yang tidak ada obatnya.

Join Newsletter

Dapatkan catatan hidup, pelajaran berharga, dan ide-ide sederhana yang bisa kamu bawa pulang setiap Sabtu pagi. Gratis.

Inner Circle Subscription

Leave a Reply

Scroll to Top