Berhala Pagi

Hampir semua orang punya ritual yang sama saat bangun tidur: minum air putih, pipis ke kamar mandi, lalu cuci muka. Bagi yang muslim, ritual ini berlanjut ke sajadah untuk salat subuh. Ini adalah ritual yang mulia, sampai kemudian “berhala” kecil itu merusaknya: handphone. Ternyata kekhusyuan saya dalam salat kalah telak dengan keasikan saya pada barang ini.

Baru saja jempol saya selesai menghitung wirid, kini ia sudah sibuk menggulir layar. Pikiran yang tadinya tertuju pada Yang Maha Kuasa, kini tersesat dalam pusaran dunia maya. Konon, 84% orang Amerika pun sama payahnya. Mereka sudah terpaku pada layar dalam sepuluh menit pertama setelah membuka mata. Melihat data ini, saya sedikit lega. Setidaknya dalam dosa buka handphone di pagi hari, saya punya banyak teman di belahan bumi lain.

man holding phone grayscale photography
Photo by Lisa from Pexels on Pexels.com

Pusaran dunia maya ini begitu derasnya. Tanpa sadar, hampir satu jam saya terombang-ambing dari Whatsapp ke Instagram, hingga Threads. Isinya hanya banjir candu. Kalau ada komentar pujian, hati saya terbang. Kalau ada komentar cacian, hari saya berantakan seharian—habis waktu saya memikirkan cara terbaik untuk membalas cacian ini. Pikiran, perasaan, bahkan jiwa saya jadi tawanan dari orang yang bahkan mungkin tidak mengenal saya.

Ternyata, neurosains punya penjelasan yang agak menakutkan soal ini. Dalam 30-45 menit pertama setelah bangun, tubuh kita secara alami memancarkan kortisol—sebuah hormon yang membantu kita untuk siap menghadapi dunia. Tapi, ketika kita tersesat di dalam layar untuk cek berita, media sosial, atau pekerjaan, hormon ini kaget. Ia melonjak berlebihan lalu memicu tekanan dan kecemasan. Tubuh pun masuk ke mode “siap perang”—fight or flight.

Pantas saja, saya sering merasa lelah di siang hari. Ternyata sistem di tubuh saya sudah “korsleting” sejak pagi. Kemampuan tubuh mengelola stress ambruk karena saya memanaskan mesin secara berlebihan.

Akhirnya, saya menempuh jalan radikal. Saya hapus semua aplikasi media sosial itu. Saya menceraikan keramaian yang semu. Sejak saat itu, hidup terasa lebih lega. 

Rupanya benar apa yang disabdakan nabi kita 14 abad yang lalu:

“Barangsiapa yang bangun di pagi hari namun hanya dunia yang dipikirkannya, sehingga seolah-olah dia tidak melihat hak Allah dalam dirinya maka Allah akan menanamkan empat penyakit dalam dirinya: kebingungan yang tiada putusnya, kesibukan yang tidak ada ujungnya, kebutuhan yang tidak terpenuhi dan keinginan yang tidak tercapai.”

Hadits nabi ini membuat saya malu. Ternyata, dosa saya bukan sekadar soal membuka handphone di pagi hari saja, tapi soal betapa rajinnya saya mendahulukan dunia daripada Pemiliknya.

Join Newsletter

Dapatkan catatan hidup, pelajaran berharga, dan ide-ide sederhana yang bisa kamu bawa pulang setiap Sabtu pagi. Gratis.

Inner Circle Subscription

Leave a Reply

Scroll to Top