fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach. Penulis 7 buku laris: Kitab Anti Penundaan, Self-Coaching, Mindful Life, Productivity Hack, Life by Design, Hypnoselling, dan Hypnowriting. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Panduan Menerapkan Dreyfus Model untuk Melatih Keahlian

2 min read

two men practicing aikido

Di artikel sebelumnya kita sudah belajar tentang Dreyfus Model. Pertanyaan berikutnya: Bagaimana persisnya memanfaatkan Dreyfus Model untuk menguasai keahlian? 

Keahlian apapun yang ingin kita kuasai perlu melalui setiap tahapan dalam Dreyfus Model. Berikut cara memanfaatkan Dreyfus Model di setiap tahapnya.

Novice

Jika kita di level ini, hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah mempelajari aturan, teknik, atau prosedur dasar bagi pemula. Anda bisa mulai dengan membaca buku, menyimak video, atau mengikuti kursus terkait keahlian yang ingin Anda kuasai.

Lalu lakukan latihan mandiri. Ikuti aturan, teknik, atau prosedurnya secara persis. Lakukan observasi mandiri untuk menentukan apakah yang kita lakukan sudah sesuai dengan aturan atau belum.

Kunci untuk naik ke advanced beginner adalah memahami konsep dari keahlian yang kita pelajari. Kunci berikutnya adalah melakukan keahlian sesuai dengan aturan, teknik, atau prosedur baku.

Advanced Beginner

Di level ini, kita perlu mulai mempraktikkan aturan, teknik, dan prosedur yang Anda pelajari dalam berbagai situasi. Jangan takut melakukan kesalahan di level ini, lihat apa yang berhasil dan yang tidak. Anda akan menemukan bahwa aturan yang Anda pelajari tidak bisa berlaku dalam setiap situasi. 

Anda mungkin mulai frustrasi dengan proses belajar Anda. Memiliki seorang pelatih atau mentor akan sangat membantu Anda. Mengapa? Karena contoh dalam buku, video, atau kursus mungkin masih terlalu umum, tidak sesuai dengan situasi khusus yang kita hadapi.

Kunci untuk beranjak dari advanced beginner ke competent adalah fleksibilitas dalam menerapkan aturan. Bahwa aturan itu bergantung pada konteks. Kita biasanya butuh 2-3 tahun untuk beranjak ke level competent.

Competent

Di level ini kita sudah menguasai berbagai aturan, teknik, dan prosedur. Kita perlu mulai belajar memilih aturan, teknik, atau prosedur yang perlu diterapkan dalam situasi yang berbeda-beda. Jam terbang yang banyak dan umpan balik dari pelatih masih dibutuhkan di titik ini. 

Di level competent, kita perlu menguatkan rasa tanggung jawab terhadap keahlian kita. Belajar untuk berhenti menyalahkan situasi atau teknik yang kita gunakan. Belajar untuk memilih respon dan memilih keputusan secara sadar agar hasil yang muncul sesuai harapan.

Untuk naik ke level proficient, kita perlu berinvestasi ratusan jam praktik dan latihan. Tujuannya adalah memperkaya pengalaman dan membangun kemampuan metakognisi.

Proficient

Di level proficient kita mulai mengenali pola-pola terkait keahlian kita. Kita mulai memahami esensi dan kaidah yang tidak tertulis terkait keahliannya. Ini semua adalah modal untuk membangun intuisi kita.

Di level ini kita masih mengandalkan analisis — berpikir secara sadar tentang apa yang perlu dilakukan. Untuk naik ke level berikutnya, kita perlu melatih intuisi sehingga kita bisa melakukan keahlian kita tanpa berpikir lagi. 

Bagaimana cara melatih intuisi? Dengan terus berlatih hingga ribuan jam terbang.

Expert

Setelah ribuan jam terbang, kita bisa mengeksekusi keahlian kita secara intuitif — tidak perlu dipikirkan lagi. Kesadaran kita juga meluas. Menariknya, kita biasanya menjadi lebih rendah hati, karena kita menyadari bahwa kita baru menguasai sedikit hal.

Image from John Edwards, Bill Martin OUREducation Newtork

Bagi seorang pelatih, bagaimana kita memanfaatkan pemahaman tentang Dreyfus Model ini?

Jika kita melatih seorang novice, jangan terlalu banyak ajari aturan. Cukup ajarkan satu dua aturan (model, teknik, atau prosedur). Lebih baik menguasai satu jurus secara mendalam daripada hanya tahu ratusan jurus tapi hanya di permukaan.

Jangan pula beri ruang fleksibilitas yang terlalu lebar. Ajak mereka untuk mengikuti panduan secara persis, tanpa memodifikasinya. Praktikkan saja berulang-ulang atura, teknik, atau prosedur yang diajarkan secara persis.

Bila kita melatih seorang advanced beginner, perbanyaklah studi kasus. Dorong mereka mempraktikkan tekniknya di situasi yang berbeda-beda. Pahamkan, bahwa teknik itu bersifat kondisional.

Lalu, mulailah kenalkan aturan lain. Beda konteks beda pula aturan, teknik, dan prosedurnya. Perkaya mereka dengan berbagai teknik lain. Namun ingat, batasi, cukup berikan 2-3 teknik tambahan. Jangan terlalu bersemangat untuk memberikan terlalu banyak hal karena ini dapat memicu kondisi cognitive overload.

Bagaimana bila kita melatih orang yang sudah competent? Tak perlu melatihnya secara langsung. Cukup dorong mereka untuk berlatih mandiri.

Pendekatan non-directive coaching juga bermanfaat untuk mengembangkan orang yang sudah competent. Mereka akan belajar membangun kesadaran dan tanggung jawab atas pilihan-pilihannya.

Kesimpulan

Bayangkan seorang murid silat. Awalnya ia mempelajari jurus-jurus secara persis dan mengikutinya secara kaku. Namun, seiring bertambahnya pengalaman ia tidak lagi bergantung pada jurus yang ia pelajari. Ia akan mampu bergerak, menghindar, dan menyerang tanpa mengikuti jurus secara kaku. Di titik itulah ia menjadi seorang pendekar.

Di awal seorang murid membutuhkan guru untuk melatihnya. Namun, latihan mandirilah yang membedakan keahlian antara satu murid dengan murid lainnya.

Di awal, murid bergantung pada guru. Namun, ada saatnya seorang murid perlu turun gunung demi mendapatkan pengalaman nyata. Pengalaman nyata inilah yang akan menempa keahliannya. 

Kesemua proses inilah yang kemudian membentuk seorang pendekar — seorang yang ahli, percaya diri, sekaligus rendah hati dengan ilmu silatnya.

Darmawan Aji Productivity Coach. Penulis 7 buku laris: Kitab Anti Penundaan, Self-Coaching, Mindful Life, Productivity Hack, Life by Design, Hypnoselling, dan Hypnowriting. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *