fbpx

Kisah Inspirasi Dibalik Aplikasi Freedom

1 min read

mengatasi penundaan dengan memberi batasan

Pernah mendengar nama Fred Stutzman? Di tahun 2009, Fred adalah seorang mahasiswa Universitas North Carolina yang sedang berusaha menyelesaikan tesisnya.

Dia berusaha mengerjakan tesisnya tersebut disebuh cafe dengan tujuan menghindari distraksi dan menyelesaiakan semua todo list-nya.

Sayangnya, kafe tersebut akhirnya menambahkan satu hal yang membuat fokus Stutzman berantakan; WiFi.

Sejak adanya fasilitas jaringan yang tak terbatas tersebut Stuzman terus saja terdistraksi dengan media sosial atau hiburan tanpa henti.

Sekuat tenaga Stutzman berusaha melepaskan diri dari koneksi data, tapi ternyata cara tersebut juga tidak mudah. Setiap kali tiba waktu istirahat, ia selalu tegoda memencet tombol “terkoneksi”. Setengah mati Stutzman berusaha menahan godaan mengecek pesan dan update media soaial.

Satu-satunya hal yang baik adalah, Stutzman adalah mahasiswa jurusan Ilmu Informasi dan dia punya keahlian programming.

Stutzman akhirnya menciptakan sebuah software untuk mengaasi masalah distraksinya.

Cara kerja software ini sangat mudah. Setiap kali pengguna menyalakan aplikasi, dan memilih waktu fokus, aplikasi ini akan mencegah komputer si Pengguna untuk online selama waktu fokus yang telah ditentukan tersebut.

Dan jika si Pengguna ingin kembali online sementara waktu fokus belum berakhir, maka pengguna perlu untuk mematikan komputernya terlebih dahulu, dan kemudian me-reboot komputernya.

Aplikasi inilah yang kemudian diberi nama aplikasi Freedom.

Di saat itu, aplikasi ini menjadi viral dan diunduh lebih dari 500.000 orang. New York Times, Oprah Magazine. Time, dan The Economist juga memilih menggunakan Freedom untuk menunjang produktivitas mereka.

Sepertinya memang banyak orang yang berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari prokrastinasi online, ya.

Pelajaran yang bisa petik dari kisah inspirasi terciptanya aplikasi freedom

Mengeliminasi pilihan membantu mengatasi penundaan

Berulangkali membuat pilihan akan menghabiskan jatah willpower. Tidak peduli seremeh apapun keputusan yang dibuat, willpower tetap akan berkurang kadarnya setiap kita membuat keputusan.

Bahkan berusaha menahan diri dari godaan membuka surel pun, berpotensi mengurangi willpower. Bisa saja kita bertahan selama 5 menit atau satu jam, atau 1 minggu, tapi perlahan willpower akan habis, dan akhirnya menyerah.

Inilah yang sering memicu decision fatigue, yang tentu saja, menjadi musuh produktivitas lainnya.

Aplikasi Freedom yang dibuat oleh Stutzman didesain tidak hanya efektif untuk mengatasi penundaan karena godaan browsing, tapi juga mengurangi decision fatigue dengan cara mengurangi pilihan. Hasilnya, kita hanya akan melakukan apa yang memang harus kita lakukan.

Dengan kata lain, aplikasi Freedom membatasi kita, agar kita fokus pada hal yang sedang kita kerjakan.

“Batasan” efektif untuk mengatasi penundaan

Orang bilang, hidup akan lebih mudah kalau kita punya banyak pilihan. Tapi jika dikaitkan dengan produktivitas, punya banyak pilihan kadang malah menyulitkan. Saat semua adalah mungkin, maka keputusan akan semakin sulit dibuat. Begitulah paradox pilihan, baik di sisi sebelah sini, tapi kadang menjadi bumerang di sisi sebelah sana.

Punya batasan akan membantu kita lebih mudah membuat keputusan, dan menyelesaikan lebih banyak pekerjaan. Terlebih jika batasan membantu kita mampu mengatasi penundaan dan segera mulai melakukan apa yang memang harus segera kita selesaikan.

Misalkan, saat teman-teman ingin membiasakan diri mengkonsumsi lebih banyak sayur. Membatasi hanya menambah satu item sayuran dalam menu sehari-hari selama seminggu, tentu lebih do-able.

Bandingkan jika teman-teman memutuskan makan aneka sayuran, bisa-bisa malah sibuk mencari menu yang tepat untuk dipadu padankan.

Kita sering berharap jika kita menginginkan banyak pilihan, bebas dari paksaan dan tekanan, juga mampu memilih arah yang tepat untuk diri kita sendiri. Tapi kadang yang kita butuhkan hanyalah sedikit pilihan, namun membantu mengarahkan fokus kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *