fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Kimia Kebahagiaan: Kebahagiaan di Balik Penderitaan

1 min read

Filsafat hedonisme meyakini bahwa kesenangan dan kenikmatan adalah satu-satunya hal berharga yang perlu kita kejar. Jika memang demikian, mengapa tidak semua orang berusaha mengejarnya? Mengapa sebagian orang justru mengejar penderitaan dan rasa sakit?

Tengoklah seorang Ayah yang bekerja siang dan malam, demi sesuap nasi dan biaya sekolah anak-anaknya.

Tengoklah para atlit yang berlatih siang dan malam, demi mengharumkan nama bangsa.

Tengoklah para pejuang yang mengorbankan harta dan nyawa, demi kemerdekaan bangsanya.

Mereka semua, bisa saja memilih kesenangan dan kenikmatan dan mengabaikan panggilannya. Namun, mereka memilih jalan yang sulit. Mereka memilih untuk merasakan penderitaan dan rasa sakit.

“Jika ada makna dalam semua aspek kehidupan, maka pasti ada makna dalam penderitaan.” Demikian kata Viktor Frankl. Ada makna di balik penderitaan yang mereka kejar. Ada tujuan yang lebih besar yang mereka tuju di balik rasa sakit yang mereka rasakan dan mereka bersedia melakukannya demi itu. Menginginkan sesuatu yang menyenangkan itu mudah. Memilih jalan yang sulit untuk kepentingan yang lebih besar membutuhkan kekuatan yang berbeda.

Setiap tujuan yang berharga hanya dapat diwujudkan dengan perjuangan, kerja keras, rasa sakit dan penderitaan. Pertanyaannya, maukah kita? Bersediakah kita menanggung rasa sakit yang muncul sebagai konsekuensi dari perjuangan kita? Lalu, apa yang bersedia Anda perjuangkan?

Sekali lagi, Viktor Frankl mengatakan: “Apa yang sebenarnya dibutuhkan manusia bukanlah keadaan tanpa ketegangan, melainkan kerja keras dan perjuangan untuk suatu tujuan yang berharga baginya. Apa yang dia butuhkan bukanlah pelepasan ketegangan dengan cara apa pun, tetapi panggilan makna potensial yang menunggu untuk dipenuhi oleh dirinya.”

Inilah alasan mengapa ada orang yang mau merasakan sakit berlatih di gym selama satu jam setiap hari. Lalu mau repot mengukur dan menimbang apa yang mereka makan. Mengapa? Karena mereka mendambakan tubuh yang elok dan gagah.

Inilah alasan mengapa para entrepreneur bersedia bekerja berjam-jam untuk sesuatu yang belum jelas. Mereka bersedia mengapresiasi risiko, ketidakpastian dan kegagalan yang berulang.

Inilah alasan mengapa para sukarelawan mau terjun ke daerah yang tertimpa bencana alam. Berlelah-lelah membantu mereka yang tertimpa musibah. Berani menghadapi risiko kematian meski tidak dibayar.

Ada alasan dan tujuan yang lebih besar yang mereka perjuangkan. Ada tugas yang merasa mereka harus emban. Ada misi yang menyeru mereka untuk datang.  

Penderitaan itu penting. Momen dan peristiwa yang paling bermakna justru momen yang mengandung rasa sakit, perjuangan, bahkan kemarahan dan keputusasaan. Dalam jangka panjang, menuntaskan marathon membuat kita lebih bahagia daripada memakan sebuah cake coklat. Membesarkan anak lebih membahagiakan daripada memenangkan video game. Memulai bisnis dengan kawan dan berjuang mempertahankannya lebih membahagiakan daripada membeli komputer baru.

Hal-hal baik dalam hidup mengandung penderitaan di dalamnya. Penderitaan ada karena ada manfaat di dalamnya. Penderitaan ada karena ada kebahagiaan di baliknya. Menyangkal penderitaan justru akan membuat Anda semakin menderita. Maka terimalah. Terimalah bahwa penderitaan, ketidakpuasan dan ketidaknyamanan adalah bagian dari hidup kita. Bahwa mereka adalah elemen penting untuk menciptakan kebahagiaan.

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.