fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach. Penulis 7 buku laris: Kitab Anti Penundaan, Self-Coaching, Mindful Life, Productivity Hack, Life by Design, Hypnoselling, dan Hypnowriting. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Inilah Risiko Bila Kita Berhenti Mengasah Keahlian

2 min read

desperate evicted male entrepreneur standing near window

Bertahun lalu di sela-sela sebuah pelatihan, saya ngobrol dengan mas Surya Kresnanda, dia saat itu yunior saya di sebuah lembaga pelatihan. Namanya obrolan ringan, kita ngobrol segala macam topik. Saya lupa apa saja persisnya yang kita obrolkan. Namun, obrolan yang paling saya ingat adalah ketika membahas nasib trainer-trainer muda yang seangkatan dengan mas Surya. 

Saya menanyakan ke mas Surya kabar si A, si B, si C, dan sebagainya. Dari sekian trainer muda tersebut ternyata ada yang sudah tidak bertahan lagi di dunia training dan memilih untuk menjalani bidang lain. Namun, ada juga yang masih bertahan di dunia training. Di antara mereka yang bertahan, terbagi menjadi dua kelompok: sebagian ada yang kariernya menanjak bahkan reputasinya menasional, sebagian lagi nampak stuck dan tidak kemana-mana. 

Saya dan mas Surya kemudian tertarik menganalisis perbedaan antara dua kelompok ini. Kami coba menemukan sebab yang membedakan keduanya. Hipotesis yang muncul beragam, mulai dari topik pelatihan yang dipilih mereka, tidak adanya inovasi, hilangnya momentum, sampai keengganan mereka untuk berkembang. Kami akhirnya sepakat, bahwa mereka yang stuck memiliki ciri yang sama: mereka enggan untuk mengasah diri sehingga dirinya. Dengan kata lain, mereka membiarkan diri mereka menjadi usang dan sehingga tidak diminati oleh kliennya. Mereka yang usang terlihat dari dua hal. Pertama, topik yang disampaikan di pelatihannya itu-itu saja (masih sama dengan topik bertahun lalu ketika mereka baru merintis karier di dunia training). Kedua, cara penyampaian materinya juga masih sama — seakan-akan tidak ada peningkatan. Sangat berbeda dengan teman-teman yang kariernya menanjak, topik dan cara penyajiannya berbeda dan meningkat.

Konsep keusangan ini ternyata pernah diteliti dua peneliti dari Utrecht University bernama Jo Thijssen dan Elyse Walter. Thijssen dan Walter mendefinisikan keusangan sebagai penurunan modal yang dimiliki seseorang dalam hal kualitas diri. Dengan kata lain, keusangan ketidakmampuan kita mempertahankan kualitas diri. Kualitas yang dimaskud bisa berupa pengetahuan, keterampilan, kemampuan, sikap, wawasan, visi dan cara pandang. Kualitas tersebut bukan hilang melainkan menjadi usang alias ketinggalan zaman (out of date).

Keusangan ini kemudian berdampak negatif pada beberapa hal. Misalnya:

  • Menurunnya prestasi kerja seseorang, hubungannya nanti dengan produktivitas dan pendapatan mereka.
  • Hilangnya motivasi kerja, ini terkait dengan kegigihan dalam berusaha dan kepuasan kerja.
  • Melemahnya perspektif karir, ini menyebabkan hilangnya kesempatan dan peluang-peluang yang lebih baik.

Menurut Thijssen and Walter ada tiga macam keusangan (obsolescence) yang mungkin terjadiL

Technical Obsolescence (Keusangan Teknis)

Usang dari sisi teknis, penyebabnya adalah berkurangnya kemampuan dan keahlian yang bersifat teknis. Hal ini terkait dengan melemahnya kemampuan fisik, mental, atau intelektual. Misalnya: cepat lelah, merasa pengetahuannya tidak bisa dipakai lagi di pekerjaan, atau menurunnya skill profesional sehingga ada aspek penting dari pekerjaan yang tidak bisa ditangani lagi.

Keusangan teknis bisa disebabkan oleh kurangnya latihan yang terencana, beban kerja yang berlebih dalam jangka panjang, atau penuaan.

Economic Obsolescence (Keusangan Ekonomis)

Usang dari sisi ekonomis, sehingga dipersepsi tidak ekonomis oleh klien atau pemberi kerja. Keusangan ekonomis biasanya terjadi karena perkembangan teknologi sehingga beberapa profesi menjadi terancam hilang. Bisa juga terjadi karena cara kerja berubah dan kita tidak bisa mengikutinya.

Saat kita tidak lagi memiliki keahlian yang dibutuhkan oleh orang lain, pengetahuan dan skill kita ketinggalan zaman, di titik inilah keusangan ekonomis terjadi.

Perspective Obsolensce (Keusangan Perspektif)

Usang dari sisi perspektif, ialah usang dari sisi pola pikir, keyakinan, dan cara pandang. Cara berpikirnya tidak bisa mengikuti perkembangan zaman. Ujungnya kita menolak inovasi dan menjadi anggota dari tim laggards (orang-orang yang terlambat mengikuti perubahan). 

Salah satu keusangan ini akan membuat kita tersingkir dari permainan. Kita akan tergantikan oleh pemain-pemain baru yang lebih fresh dan menarik.

Dalam laporan Future of Jobs Report 2020 yang dipublikasikan oleh World Economic Forum, disebutkan akan ada penurunan permintaan untuk profesi: petugas data entry, sekretaris administratif, petugas pembukuan, akuntan dan auditor, dan sebagainya.  Sebaliknya, akan ada peningkatan permintaan untuk profesi: analis data, spesialis AI dan machine learning, spesialis big data, spesialis digital marketing, spesialis otomatisasi proses, dan sebagainya.

Dalam laporan yang sama, disebutkan pula bahwa 40% dari keahlian pekerja saat ini perlu diperbaharui agar bisa cocok dengan kebutuhan masa depan. Menurut laporan tersebut, di tahun 2025 akan ada 10 keahlian yang sangat dicari. Keahlian yang dibutuhkan di tahun tersebut rata-rata merupakan kombinasi antara hard skills dan soft skills. Berikut daftarnya:

  1. Inovasi dan berpikir analisis.
  2. Strategi pembelajaran aktif.
  3. Pemecahan masalah kompleks.
  4. Analisis dan berpikir kritis.
  5. Inisiatif, kreativitas, dan keorisinilan.
  6. Kepemimpinan dan kepemimpiann sosial.
  7. Penggunaan teknologi, pengendalian dan monitoring.
  8. Pemrograman dan desain teknologi.
  9. Resiliensi, toleransi terhadap stress, dan fleksibilitas.
  10. Ideasi, penalaran, dan pemecahan masalah.

Apa kesimpulannya? Kita perlu melakukan reskilling. Reskilling adalah proses mempelajari keterampilan baru oleh karyawan untuk pindah ke peran baru dalam perusahaan mereka saat ini. Bagi profesional, reskilling adalan proses mempelajari keahlian baru untuk beralih ke peran baru di bidang profesinya saat ini. 

Pertanyaannya, siapkah kita melakukan reskilling? Sudahkah kita memiliki kemampuan untuk mempelajari keahlian baru dengan cepat dan efektif?

PS. Sabtu 23 Juli 2022 pk.09.00-14.30 insyaallah saya akan kembali mengadakan kelas online MASTERING ANYTHING via Zoom. Di kelas ini kita akan belajar bagaimana strategi menguasai keahlian secara efektif sehingga kita bisa tetap up to date dan menjadi expert di bidang kita. Bagi teman-teman yang berminat silakan menghubungi admin INLPS (mbak Pintari) di wa.me/6281328292809 Peserta terbatas, first come first served.

Darmawan Aji Productivity Coach. Penulis 7 buku laris: Kitab Anti Penundaan, Self-Coaching, Mindful Life, Productivity Hack, Life by Design, Hypnoselling, dan Hypnowriting. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *