fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Digital Detox: Strategi Mengurangi Kecanduan Sosial Media

1 min read

Mark Griffiths dan Daria Kuss adalah psikolog di Nottingham Trent University di Inggris. Mereka mengkhususkan diri dalam mempelajari dampak teknologi dan media sosial pada perilaku kognitif dan sosial.

Menurut mereka, kita dapat mengetahui kecanduan media sosial atau tidak dengan menjawab enam pertanyaan berikut ini:

  • Apakah Anda menghabiskan banyak waktu (saat tidak online) untuk memikirkan media sosial?
  • Apakah Anda merasakan dorongan untuk menggunakan media sosial lebih banyak dan lebih sering dari waktu ke waktu?
  • Apakah Anda menggunakan media sosial untuk melupakan masalah pribadi?
  • Apakah Anda sering mencoba mengurangi penggunaan media sosial Anda namun tidak berhasil?
  • Apakah Anda menjadi gelisah atau bermasalah jika Anda tidak dapat menggunakan media sosial?
  • Apakah Anda menggunakan media sosial sedemikian rupa sehingga berdampak negatif pada pekerjaan, hubungan, atau studi Anda?

Jika Anda menjawab YA pada keenam pertanyaan di atas, ada kemungkinan bahwa Anda telah kecanduan media sosial.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan bila ternyata kita telah kecanduan media sosial? Mark Griffiths menyarankan beberapa strategi Digital Detox berikut.

Lakukan digital detox secara bertahap. Secara bertahap kurangi pemakaian media sosial Anda. Bagi sebagian besar orang, mengecek smartphone adalah sebuah kebiasaan dan refleks otomatis. Pemicunya adalah notifikasi yang muncul. Namun, bagi yang sudah kecanduan, notifikasi yang tidak muncul pun memunculkan rasa penasaran ‘jangan-jangan ada yang salah dengan handphone saya?’ – mereka mengalami FOMO (Fear of Missing Out – takut terlewat sesuatu) di sosial media. Maka, langkah pertama adalah mematikan notifikasi sosial media kemudian bertahanlah untuk tidak memeriksa handphone Anda mulai dari 15 menit, 30 menit, 1 jam, sampai beberapa jam secara bertahap. Anda dapat menggunakan aplikasi Forest untuk membantu proses ini.

Lakukan puasa gadget. Anda bisa tetapkan waktu-waktu tanpa gadget. Anda bisa tetapkan aturan misalnya: tidak ada gadget sebelum jam 9 pagi dan setelah jam 8 malam. Bisa juga terapkan aturan tanpa gadget saat jam makan (sarapan, makan siang, makan malam). Atau puasa gadget pekanan, misalnya setiap sabtu-minggu. Silakan atur yang paling sesuai dengan diri Anda.

Buat jadwal merespon email dan teks/chat. Responlah email dan teks/chat di waktu tertentu. Misalnya hanya jam 9-10 pagi, 13-14 siang dan 16-17 sore. Setiap orang punya kebutuhan yang berbeda terkait hal ini.

Jangan gunakan handphone sebagai alarm. Ini akan memicu Anda untuk membuka chat dan media sosial sesaat setelah mematikan alarm.

Libatkan diri dalam aktivitas hiburan tanpa gadget. Hampir sebagian besar aktivitas hiburan kita memungkinkan kita sambil menggunakan gadget. Temukan aktivitas yang tidak memungkinkan kita menggunakan gadget saat melakukannya. Misalnya jogging, berenang, atau meditasi.

Kurangi “teman” yang Anda follow. Ini akan mengurangi jumlah newsfeed yang mampir ke beranda Anda. Lakukan unsubscribe juga pada email newsletter yang tidak bermanfaat.

Mana strategi yang paling pas bagi Anda? Silakan Anda tentukan dan mulai lakukan.

Referensi: https://www.psychologytoday.com/us/blog/in-excess/201507/top-tips-digital-detox

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.