fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Cause-Effect Language

37 sec read

“Gara-gara dia aku menjadi tak enak makan”

Pernah dengar kalimat semacam ini?

cause-effect-language
Di dalam NLP, pola bahasa seperti ini disebut dengan pola bahasa sebab-akibat (cause-effect). Pertanyaannya, benarkah orang lain benar-benar dapat membuat kita menjadi tak enak makan?

Jika kita amati, hubungan sebab-akibat dalam kalimat ini bukanlah hubungan sebab-akibat yang mutlak. Berbeda dengan kalimat: “gara-gara tersiram air bajuku menjadi basah.” – ini hubungannya mutlak, tersiram air menyebabkan baju menjadi basah. Namun perilaku orang lain bisakah membuat orang tak enak makan? Tentu tidak. Orang enak makan atau tidak bergantung pada dirinya sendiri. Apakah ia mengijinkan atau tidak.

Tidak ada orang yang bisa memengaruhi keadaan internal kita, kecuali kita mengijinkannya.

Tapi ya namanya manusia, lebih enak jika melemparkan tanggung jawab ke pihak luar.
Maka sering kita dengar:

“Kata-katanya membuatku marah”
“Perilakunya membuat aku jengkel”
“Sikapnya membuat aku kesal”

Padahal marah, jengkel dan kesal tidak akan terjadi sampai kita mengijinkannya. Buktinya, kata-perilaku-sikap yang sama bisa saja tidak ngefek bila kita sedang happy. Bisa juga, kata-perilaku-sikap yang sama tidak ngefek jika orang lain yang mengatakannya.

Benar demikian bukan?

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *