fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Brief: Bagaimana Menciptakan Dampak Besar dengan Berbicara Lebih Ringkas

2 min read

Saat Anda diberi kesempatan berbicara di depan forum, mana yang lebih baik: berbicara panjang lebar atau berbicara ringkas? Akal sehat kita mengatakan berbicara ringkas jauh lebih disukai oleh audiens kita, betul? Namun, mengapa kita masih saja sering tergoda untuk berbicara panjang lebar (dan kadang tak tentu arah)? Ada dua alasan:

Pertama, kita tidak menguasai apa yang kita bicarakan. Jika kita tidak menguasai apa yang kita bicarakan, kita cenderung bicara banyak, panjang lebar dan tidak terarah. Ini semua ditujukan untuk menutupi ketidaktahuan kita.

Kedua, kita ingin memberi lebih banyak. Alasan ini berbanding terbalik dengan alasan sebelumnya. Karena kita tahu banyak, kita pun ingin memberi tahu lebih banyak ke audiens. Sayangnya, tidak semua audiens ingin tahu lebih banyak. Kadang, informasi yang terlalu banyak justru membingungkan mereka.

Ketiga, kita ingin mengesankan audiens. Ini akibat ego kita. Kita ingin dikesankan sebagai orang yang cerdas dan berpengetahuan. Kita tak peduli apakah audiens paham atau tidak dengan yang kita bicarakan, yang penting audiens melihat diri kita sebagai orang yang cerdas. Akibatnya, kita jadi banyak bicara hanya untuk mengesankan mereka.

Masalahnya, di masa sekarang audiens kita mengalami sindrom “4i.”

  • Information overload – mereka sudah terlalu banyak menerima informasi. Bahkan mereka bingung memilah, mana informasi yang penting dan mana yang tidak. Mana yang berbasis fakta dan mana yang hoax. Berbicara panjang lebar akan menambah masalah mereka.
  • Inattention – atensi (perhatian) manusia adalah sumberdaya yang mahal di era saat ini. Saat kita berbicara, kita bersaing untuk memperebutkan atensi mereka. Kita bersaing dengan pikiran mereka yang melayang-layang, tugas yang belum terselesaikan, notifikasi dari smartphone mereka dsb. Maka, berbicara panjang lebar menjadi tidak efektif, karena saat kita berbicara atensi mereka tidak sepenuhnya diberikan ke kita.
  • Impatience – orang sekarang ingin serba instan dan serba cepat. Mereka tidak sabar dengan proses. Informasi yang bertele-tele dianggap tidak memenuhi standar mereka saat ini.
  • Interruption – notifikasi dari smartphone, distraksi dari lingkungan sekitar, dan interupsi dari orang di sekeliling kita membuat audiens kita tidak dapat fokus memperhatikan kita.

Alasan-alasan inilah yang menyebabkan berbicara ringkas jauh lebih efektif daripada berbicara panjang dan lebar.

Joseph McCormack dalam bukunya yang berjudul Brief: Make a Bigger Impact by Saying Less menyarankan kita untuk menyederhanakan pesan yang kita sampaikan saat kita berbicara di depan forum. Entah bertatap muka langsung atau melalui rekaman video, untuk kepentingan membuka acara atau mempresentasikan sesuatu, untuk tujuan menjelaskan atau membujuk. Menurut McCormack, kita dapat menyederhanakan pesan dengan mengikuti lima kaidah berikut:

Pertama, jangan over-explain. Jangan bernafsu untuk memberikan banyak informasi sekaligus. Tidak semua orang membutuhkan informasi tersebut.

Kedua, gunakan 5W: why, what, who, where, when. Ini adalah dasar dari sebuah informasi yang lengkap dan pas.

Ketiga, lebih banyak gunakan kata-kata kongkrit alih-alih kata-kata yang abstrak. Kata-kata kongkrit adalah kata-kata yang bisa memunculkan gambar di dalam benak pendengarnya. Kata-kata seperti: kemajuan, pemerataan pembangunan, pertumbuhan adalah kata-kata abstrak yang tidak menciptakan gambar di dalam benak. Berbeda dengan: membangun taman kota, pasar yang bersih, rumah singgah untuk gelandangan – kata-kata ini jauh lebih kongkrit.

Keempat, jeda. Jangan berbicara tanpa putus. Gunakan jeda secara sadar untuk membuat audiens memperhatikan.

Kelima, petakan alur bicara Anda. McCormack menyarankan format B-R-I-E-F untuk menciptakan alur pembicaraan yang terstruktur.

  • Background: konteks dan latar belakang masalah.
  • Reason: alasan mengapa bahasan ini penting.
  • Information: sampaikan pesan inti Anda dalam tiga atau empat poin.
  • End Conclusion: simpulkan pesan Anda.
  • Follow Up: beri kesempatan audiens bertanya atau ajukan pertanyaan untuk merangsang pemikiran audiens.

Strategi bicara ringkas ala McCormack ini mengingatkan saya pada gaya bicaranya rasulullah: jawami ‘al kalim – ringkas namun luas maknanya. Bagaimana menurut Anda?

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Seni Menyampaikan Umpan Balik

Di artikel yang lalu kita sudah belajar bahwa umpan balik itu penting. Kita perlu memberi umpan balik untuk meningkatkan performa seseorang, menyelaraskan harapan, dan...
Darmawan Aji
2 min read

Zero to One: Rahasia Memulai StartUp Sukses (2)

Dari artikel kemarin kita dapat menyimpulkan bahwa kunci sukses startup menurut Thiel adalah menciptakan bisnis/produk yang dapat memonopoli pasar. Produk yang tidak bersaing dengan...
Darmawan Aji
1 min read

Zero to One: Rahasia Memulai StartUp Sukses

Buku Zero to One ditulis oleh Peter Thiel dan Blake Master. Peter Thiel adalah founder dari dua perusahaan sukses: PayPal dan Palantir. Dia juga...
Darmawan Aji
1 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *